Pembicaraan tentang foto inilah yang membuat amarah Nona Mince meredup. Otot di wajah dan bahunya melemas. Ia memandangiku berlama-lama dalam tatapan sendu. Ia menyesap minuman di cangkirnya dengan malas, tidak seperti ingin minum, tetapi merasa harus minum, lalu bergumam lirih dan pelan dalam bahasa Belanda yang tak jelas kutangkap.
"Andai aku tahu siapa yang menghabisi Biyungmu, tentu aku tak segan memberitahumu, Rukmini, tapi sayang benar aku tak punya secuilpun kepastian tentang berita itu. Aku hanya tahu dari keramaian orang-orang membicarakannya. Andai aku bisa memuaskan keingintahuanmu." Nona Mince mendesah. "Jika selama ini foto itu ada di tangan si tua Bangka, aku rasa tak ada yang patut dicurigai karena dia Pulisi huru-hara, sudah tugasnya menemukan bukti. Ada hal yang membuat foto itu tetap tersimpan di tangannya dan tak terungkap selamanya. Orang kecil macam kita tentu tak berarti apa-apa dimata para Pembesar, dan tak berhak apa-apa, bahkan untuk sekedar tahu kekacauan yang terjadi dalam hidup kita. Kita ini hanya kutu, yang bisa mati kapan saja, hanya dengan sekali pites."
Perkataan Nona Minceu terngiang terus, sejak aku pamit pulang dari pondoknya hingga hari berangsur surup. Semua nasihat dan wanti-wantinya tentang banyak hal, juga tentang kejadian Meneer mendatangi rumah tuan Zeigh, harus tetap tersimpan rapat-rapat, begitu pintanya. Sedikitpun, aku tak diperkenankan menyinggungnya di depan Meneer Barend. Berlaku seolah-olah tak tahu menahu senantiasa. Wanti-wanti yang dibayar janjiku untuk mematuhinya. Sebenarnya tanpa harus memintaku berjanji pun aku tahu akan melakukannya. Biyung Sutinah telah membekali tentang hal-hal yang tak boleh aku langgar, semacam tabu: seperti tidak ikut campur dalam segala macam urusan pekerjaan atau perkara-perkara Lelaki lainnya.
Namun bukan itu yang terngiang terus-menerus di telinga hingga kepalaku. Tapi perkara Biyung Gilaku.
Aku tak jua mengerti mengapa hati ini tak enak betul, rasanya persis seperti saat jari teriris pisau dapur saat merajang bumbu—perih. Atau sama rasanya dengan sakitnya cubitan yang membekas biru. Dadaku juga laksana terhimpit sesuatu hingga begah. Namun seperti ucapan Nona Mince: kita hanya orang kecil. Sekecil kutu. Mereka besar. Yang besar adalah Para Pembesar. Sebesar apa? tanyaku. Jangan pernah berani bayangkan, jika hati ingin tenang, begitulah jawaban Nona Mince. Sayang sekali, hatiku tak jua tenang. Kegundahan ini malah berlangsung berhari-hari dan tak pernah mau pergi.
Kerisauanku yang memuncak itu barulah terobati ketika bertemu Kang Mas Gani. Sesungguhnya aku gemetaran waktu melihatnya di halaman samping—tempat para calon juru rawat sepertiku beristirahat selama dua puluh menit. Biasanya kami pergunakan waktu istirahat untuk makan dengan bekal yang sengaja dibawa dari rumah masing-masing. Awalnya tentu kaget bukan main ada seseorang menyapa dengan berbisik di dekatku yang tengah duduk di bangku semen di bawah pohon nan rindang—di antara bunyi sapu lidi yang bergesekan dengan suara daun-daun kering. Kang Mas Gani lah yang tengah menyapu di dekatku itu, kemudian menyapa sambil berbisik: "entah hari ini memang indah atau sebab seorang Ayu ini yang begitu memancar elok."
Aku gemetaran. Hatiku memang tergetar, juga tersipu mendengar suaranya. Hanya, kali ini gemetaran lebih dari biasanya. Kecemasan seolah mengurung rasa takut. Aku takut diajak pulang bersama selepas kelas usai. Bukankah berbahaya? Saat itu kepalaku langsung memutar ke segala arah. Melihat barangkali ada orang yang melihat aku dan Kang Mas Gani. Tak tampak satu orang asing pun yang mencurigakan memang, hanya ada peserta pelatihan yang tak acuh—sibuk dengan isi rantang masing-masing. Namun, tetap saja kecemasanku tak mau pergi.
Rupanya Kang Mas Gani mengerti keresahanku. Ia menenangkan aku sambil tetap menyapu dengan bergerak perlahan saja ketika aku menyampaikan kabar ada orangnya Tuan Zeigh yang melihat kami tempo lalu padanya. Ia bilang, aku tak perlu cemas dan sepatutnya ikut senang karena ia pun senang setelah berpayah-payah untuk dapat bekerja sebagai tukang kebun di sini demi bisa menemuiku setiap hari. Walau singkat--hanya dua ouluh menit, namun cukup baginya sebagai pelipur rindunya. Ia terlampau sengsara menanggung rindu, begitu katanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
RUKMINI
Ficción histórica•The Wattys Winner 2021• Fiksi sejarah, Suspense!! "Dia lahir dari seorang perempuan gila yang diperkosa Pembesar Menak. Dia tumbuh ... Dia cantik ... Dia menuntut balas. Dia Rukmini." ©yannilangen
