Terima kasih yang menantikan kisah Rukmini. Semoga kalian bahagia dengan ketulusan yang kalian miliki. Jagalah karena ketulusan harga tak ternilai. Jangan hiraukan balasan menyakitkan dari perbuatan tulus. Tetaplah baik ...
Terima kasih juga yang bantu koreksi Typo dan sejenisnya. Enjoy.
*
Meneer Barend duduk di kursi malas yang biasa digunakan Tuan Zeigh ketika menikmati istirahat malamnya sebelum tidur. Ia menyalakan cerutunya dengan ketenangan angkuh khas para menak. Ia mengawasi dua Centengnya yang gerudugan menerobos rumah, lalu memasuki kamar tidur Tuan Zeigh setelah tadi berhasil mendobrak pintu depan. Ubin hitam nan mengkilat yang masih setengah basah selepas di pel Rukmini, meninggalkan jejak-jejak sepatu yang mereka kenakan.
"Kosong Meneer, mereka tak ada di kamarnya," seorang Centeng menjulurkan kepalanya dari dalam kamar.
"Periksa seluruh ruangan di rumah ini, kalau begitu," kata Meneer Barend.
Dua centengnya keluar dari kamar, kemudian berpencar. Satu orang berkepala plontos menuju bekas kamar Rukmini yang bersebelahan dengan Pawon, seorang lainnya-rambutnya rapih berpomade, terdapat bekas luka sayat di pipi sepanjang kelingking, menuju kamar kerja Tuan Zeigh. Langkah kaki bersepatu boot meninggalkan suara yang membuat Rukmini seperti arca tak bernyawa. Wajahnya tegang, matanya tak berkedip dan kakinya melemah. Ia terpaku di tempatnya-menghadap pintu Pawon tanpa tahu harus berbuat apa. Pikirannya buntu. Di dalam hatinya ia ingin menghilang atau bersembunyi, tapi tubuhnya tak tahu harus bergerak kemana.
Saat si Kepala plontos keluar dari bekas kamar Rukmini saat itulah dari pintu belakang yang terbuka, Nona Mince muncul masih menggunakan Chemise Teddy (baju lapisan dalam serupa daster di masa kini), rambut dikepang dua dan tangannya mengangkat bagian bawah bajunya, mungkin takut baju berbahan sutra itu kotor. Nafasnya masih terengah, seperti orang habis berlari. Nona Mince berdiri tepat di depan pintu Pawon. Matanya sekilas melirik pada Rukmini yang mematung memegangi kendi dan sebuah cangkir. Sekedipan berikutnya ia melihat dua Centeng berdiri dalam posisi canggung menatap Meneer mereka yang terpisah jarak oleh sebuah meja makan saja.
"Angin apa gerangan yang membawa Meneer yang terhormat ke tempat ini?" sapa Nona Mince dengan nafas tersengal, namun dirinya masih dapat mengatur nada suaranya agar terdengar tenang.
Nona Mince memaksa pikirannya membaca situasi yang sedang terjadi saat ini. Perlahan instingnya menuntun pada pemahaman: bahwa sesuatu sedang terjadi dalam situasi genting di rumah ini. Dirinya merasa yakin dengan kesimpulan yang dikutip kepalanya, mana kala Tuan Zeigh sang tuan rumah justru tidak berada di antara; Meneer Barend, Rukmini dan dua Centeng itu. Nona Mince yakin Rukmini datang ke sini tidak bersama dengan Meneer Barend. Ponirah melihat Rukmini datang dengan Dokar sewaan. Ponirah juga menceritakan bahwa Rukmini sempat menunggunya bangun, lalu merasa jemu dan pamit hendak jalan-jalan ke ladang tebu.
Untuk itu dirinya bergegas menyusul karena dugaannya berkata Rukmini akan datang ke rumah ini. Tadinya ia ingin menyeret Rukmini kembali ke Pondoknya dan berniat menasehatinya, bahwa yang dilakukannya sangat berbahaya bagi posisinya sebagai Nyai Meneer Barend. Tak disangka, ia malah menemukan kenyataan Meneer Barend berada di sini. Nona Mince dengan segudang pengalamannya, berusaha memeras otaknya menyelamatkan Rukmini dari situasi menegangkan ini.
"Angin mana pula yang telah membawa kejutan seorang Nona Mince berada di tempat yang tak terduga bagi seorang sepertimu," kata Meneer Barend menjawab dengan pertanyaan yang sama, lalu bangkit dari kursi dan mengangguk sedikit ke arahnya.
Nona Mince pura-pura tersipu, "Ah pertanyaan Meneer telah membuat hati saya malu. Maklumkan saya, nasib saya sedang tidak beruntung saat ini, hingga harus berada di rumah ini di pagi yang sial bagi saya ini. Tentu Meneer tidak tega membiarkan saya menjelaskan dengan gamblang keadaan memalukan ini."
KAMU SEDANG MEMBACA
RUKMINI
Historical Fiction•The Wattys Winner 2021• Fiksi sejarah, Suspense!! "Dia lahir dari seorang perempuan gila yang diperkosa Pembesar Menak. Dia tumbuh ... Dia cantik ... Dia menuntut balas. Dia Rukmini." ©yannilangen
