Ji Chanyeon mendadak hadir kembali ke kehidupan Diana Hadid setelah 3 tahun keduanya berpisah.
Diana membenci perkara Chanyeon kembali. Pasalnya ada kenangan indah yang malah menyakitkannya saat ditelaah ulang bersama idola hallyu satu ini.
Ini pe...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Keras kepala Chanyeon tidak bisa hilang.
Sebab kemarin dirinya merasa cemburu mendapati Diana sedang dekat dengan lelaki lain, sikap apatisnya tumbuh lagi setelah beberapa hari hilang--setelah pulang dari Gamcheon. Apatis atas pembantah keras perasaan aneh yang merasuki hatinya.
Sstt, perasaan aneh kepada Diana itu, bisa dikatakan mengagumi, spesifik jatuh cinta.
"Ya! Terimalah ini, Oppa," perintah Diana sembari mengulurkan paperbag warna hitam. Wajah ras melayunya semringah melukis senyum.
Chanyeon menatap malas paperbag yang diulurkan gadis berkuncir ekor kuda di hadapannya. Namun, sebenarnya kotak hatinya menyimpan penasaran apa isinya.
"Apa itu?" tanyanya sesaat kemudian. Mengangkat sebelah alisnya. Tak kunjung meraih paper bag.
"Terima saja dulu dan buka. Maka kau akan tahu apa isinya," cicit Diana. "Ini adalah tanda terima kasihku karena lewat perantaramu aku jadi bertemu ayah. Dan ya, atas kau menolongku dari lontaran telur Yuri juga. Gomawo, Oppa." Melukis senyum lagi. Wajahnya semakin mengaura bahagia.
Chanyeon si pemuda bersurai brunette ini bukan cepat tanggap dengan mencakap atau menerima uluran paperbag yang berisi hadiah untuknya, ia justru melamun menatap khidmat Diana. Entah, akhir-akhir ini ia suka sekali melamunkan sosok gadis di hadapannya ini; entah itu di rumah atau di luar rumah, entah Diana tidak di hadapannya atau di hadapannya seperti sekarang.
Sikap seperti inilah yang membuatnya merasa frustasi karena berkali-kali menentang perasaan yang tengah bergelanyar pada hati dan pikirannya. Kadar perasaan sayang yang berbeda, bukan lagi sayang seperti sebelumnya pada sosok Nana yang kerap diceritakan Umma. Berubah sudah. Kadar sayangnya beralih ke "ingin menjadikan gadis di hadapannya sosok kekasih".
"Ya! Jangan melamun!" kesal Diana mendapati gemingan Chanyeon. Kesal juga sebelah tangannya mulai pegal dengan terus mengulurkan paper bag.
"Anna ...," masih dalam lamun, nada bass Chanyeon memanggil Diana dengan sebutan khas itu.
"Hmm?" sahut Diana. Cemberut dengan menarik uluran sebelah tangannya yang mulai pegal itu.
"Apakah kau mau mendengarkan ceritaku?" tanya Chanyeon.
"Mwo? Cerita apa?" cicit Diana, masih sebal pada Chanyeon karena apatis kepadanya dan lancang dengan membelokkan topik. "Jika kau hendak bercerita tentang kehidupanmu yang populer, mianhae, aku tidak tertarik," lanjutnya.
"Bukan. Aku ingin bercerita kenapa aku begitu getol menginginkanmu memilih opsi menjadi asisten rumah pada saat itu. Apakah ini sudah cukup menarik, Anna?" timpal Chanyeon.
Diana membisu sesaat, baginya itu tetap saja tak begitu menarik untuknya. Lebih menarik bagaimana Chanyeon mau menerima hadiah darinya dengan manis penuh etika menghargai, bukan malah dianggurkan, mengelokkan pembahasan seperti ini. Namun, sudahlah, karena ia rasa mempunyai jiwa malaikat, ia akan mengindahkan.