River Flows in You

150 65 4
                                        

Hari terus berlalu sebagaimana mestinya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hari terus berlalu sebagaimana mestinya. Kalender duduk Diana semakin banyak tertanda silang.

"Apa kau tak penasaran dengan suara dan permainan musikku, Anna?" celutuk Chanyeon malam ini kala bulan sabit tergantung apik di langit gelap Seoul.

"Tidak. Akhir-akhir ini aku banyak mendengar lagu-lagu EXE. Dan suara dalammu juga kentara sendiri. Aku paling paham," jawab Diana sembari tak acuh lagi dengan lelaki itu, bergegas mengambil sekotak jus apel di kulkas dan mengambil setoples camilan di pantry.

"Oh, iya?" Seperti biasanya, Chanyeon gemar membuntuti Diana.

"Hmm. Kau tidak percaya? Mau lihat list lagu di Spotify-ku?" sahut Diana setelah berhasil mengambil toples camilan, menatap Chanyeon.

"Tidak usah. Aku percaya padamu. Dan aku juga percaya jika suara dalamku di setiap lagu EXE pastilah menjadi daya tarik terbesar untukmu mendengarnya dengan penuh pengkhayatan." Chanyeon nyengir lebar.

Sorotan mata kelam Diana berubah sinis. 

"Aish! Dasar arogan! Itu asumsi sepihak. Aslinya tidak begitu. Aku lebih suka suara Bae Hyun Oppa," cecarnya.

"Serius? Aku tidak percaya." Chanyeon mengangkat sebelah alisnya. Cemberut.

"Serius. Aku suka suara Bae Hyun Oppa, lalu Kyung Seo Oppa, kemudian Key Oppa, dan seterusnya. Terakhir adalah dirimu," decak Diana, lalu enyah meninggalkan lelaki itu yang selalu pede berlebihan. Melangkah cepat ke kamar. Ada hal yang harus diurusnya malam ini daripada meladani sikap lelaki so' manis ini, mengerjakan tugas Mr. Theo.

Chanyeon masih cemberut menatap punggung Diana yang semakin jauh darinya.

"Ya! Tunggu, Anna!" serunya kemudian, mengejar Diana, memotong arah jalan Diana dengan tubuh jangkungnya.

"Ada apa? Kau suka sekali berlaku seperti ini. Memotong arah jalanku. Tidak sopan sekali!" cicit Diana. Netra kelamnya mengilat sebal.

Chanyeon cemberut lagi.

Diana tertawa kecil untuk itu. Uh, dari awal tinggal di rumah ini muka masygul lelaki oriental di hadapannya adalah hal yang dirinya sukai.

"Apakah tertawamu sudah puas, hmm?" selidik Chanyeon kemudian, tatkala tawa kecil Diana berhenti. Wajah gadis ras melayu di hadapannya tampak semringah sekali.

Diana malas menjawab. Memilih menatap sinis Chanyeon.

"Ikut aku sebentar," ajak Chanyeon. Tanpa ragu menarik sebelah tangan Diana yang menganggur--tidak memeluk toples camilan dan sekotak jus apel--untuk mengikuti langkahnya.

Go Away Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang