"Ayo kuantar pulang!"
Jimin tersentak kaget. Dia langsung menyentak kasar tangan Jungkook yang dengan lancang menggenggam tangan kanannya. Sayang sekali, sentakan tersebut tak berarti apa-apa bagi tenaga Jungkook yang sangat kuat. Pemuda tampan itu semakin mengeratkan genggaman tangan besarnya pada tangan mungil Jimin.
Jimin menatap tak percaya pada Jungkook, lalu beralih menatap ke sepasang tangannya yang saling bertautan dengan tangan Jungkook. Telapak tangan serta jari-jari mungilnya terlihat tenggelam dalam tangan besar Jungkook. Dia bahkan hanya diam seraya mengikuti langkah lebar Jungkook.
Jimin menghentikan langkahnya saat tersadar, "Aku tidak mau, Jung-"
"Kau tau, aku sedang tidak menawarimu!"
Jimin memberontak dan mendorong keras tubuh Jungkook, membuat si empunya mundur selangkah.
"Kau gila ya, hah?!" kesal Jimin.
"Apa mengantarmu pulang dianggap tindakan sakit jiwa?"
"Tapi kau memaksaku, brengsek!"
Gadis itu menatap Jungkook dengan napas tak beraturan, sedangkan yang ditatap hanya menampilkan wajah tenangnya. Dan hal itu, dibuat kesempatan untuk Jimin segera pergi dari hadapan pemuda itu. Dan Jungkook tentu saja langsung mengejar gadis yang dianggap calon teman hidupnya tersebut.
"Jimin, tunggu!" Jungkook mencegah Jimin yang akan membuka pintu mobilnya.
Jimin memutar bola matanya jengah, "Apa lagi?"
Jungkook menghela napas, "Sebenarnya aku mau mengajakmu kesuatu tempat terlebih dahulu. Kita perlu membicarakan sesuatu dan menyelesaikan urusan kita yang belum selesai sepuluh tahun lalu."
Jimin tertawa sambil memukul keras pintu mobilnya, "Hahaha, kau bercanda? Aku dan kau tidak sedekat itu sampai aku harus mempunyai urusan serius denganmu! Hahahaish, jinjja!"
"Minggir!" pinta Jimin dingin.
Jungkook menurut. Jimin pun memasuki mobilnya, sebelum benar-benar menjalankan mobilnya, dia membuka kaca mobil terlebih dahulu dan menyeringai meremehkan menatap Jungkook yang diam terpaku.
"Jangan berani-berani menampakkan wajahmu didepanku lagi! Atau aku akan membencimu, selamanya!"
Jungkook mengeraskan rahangnya, "Selamanya? Kau yakin itu, Park Jimin?" gumamnya sembari menatap kepergian mobil Jimin.
^^^
"Kenapa lama sekali?!" teriak Jihyun marah. Bahkan tanpa takut, ia memukul kepala bagian belakang sang kakak yang langsung balik menatapnya jengkel.
"Aish, sini kau!" geram Jimin. Telapak tangannya bahkan sudah mengepal dengan segenggam rambut Jihyun, "Sudah mulai berani padaku ya?!"
"NOONA! AMPUN! AAARGH-"
^^^
Jimin menyantap makanan malamnya dengan santai. Tidak peduli dengan Jihyun yang menekuk kesal wajahnya, "Kau jauh-jauh dari Korea ke Swiss dan makananmu hanya ramyeon?" tanyanya tidak percaya.
"Hm. Ini enak. Aku selalu memakannya setiap pagi, tapi tadi pagi aku belum sempat sarapan, jadi kumakan sekarang." jawabnya tidak sadar.
Jihyun membulatkan matanya, "Selalu?! Kau setiap hari memakan makanan instan dan kadang terlambat sarapan?!" marah Jihyun.
"Kau mau mati, ya?!" lanjutnya lagi kesal.
Sedangkan Jimin dalam hati merutuki mulutnya yang remnya sedang blong. Dia memilih membawa cup ramyeonnya ke kamarnya sendiri. Malas meladeni sikap cerewet Jihyun.
"YAK!!! NOONA!!!"
^^^
"Kau biasanya pulang jam berapa, Noona?" tanya Jihyun.
Ya, hari ini Jimin bekerja diantarkan oleh sang adik yang menyebalkan tujuh turunan. Adiknya itu memaksa untuk mengantar Jimin.
Pasti akan dibuat kencan dengan jalang Swiss! dengus Jimin dalam hati.
"Sekitar jam delapan malam." jawab Jimin. Lalu ia memiringkan tubuhnya dan menatap tubuh bongsor adiknya tajam, "Awas kalau sampai kau telat menjemputmu! Ku bedah nanti aset berhargamu itu!" ancam Jimin tak main-main.
Jihyun pun otomatis langsung merapatkan pahanya dan berdecak kesal, "Kau ini jadi dokter penyembuh penyakit atau malah dokter pencabut nyawa, sih?" gumamnya yang tak dihiraukan Jimin.
Gadis itu langsung keluar dari mobil, tak lupa menutup keras pintu mobilnya sampai Jihyun berjengit.
"Kelakuannya itu- Wah!"
^^^
"APA YANG KAU LAKUKAN DI RUANGANKU, JEON JUNGKOOK?!" teriak Jimin. Darahnya terasa berdesir cepat hingga ia merasa darahnya menumpuk diatas kepalanya.
"Kau sudah datang?"
"SEBENARNYA APA MAUMU, SIALAN!" jerit Jimin. Dadanya naik turun pertanda dia benar-benar sedang marah. Manik matanya menatap tajam Jungkook yang balas menatapnya tajam.
"Aku ingin kita bicara!" ucapnya memaksa.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan!" balas Jimin pelan dan dalam.
"ADA!" sahut Jungkook keras. Dia sedikit merasa kesal juga saat Jimin susah sekali diajak bicara mengenai masalah sepuluh tahun lalu.
Jimin berdecak dan terkekeh sinis, "Memangnya kau mengharapkan apa jika kita selesai membicarakannya, huh?" tanya Jimin. Dia menyilangkan tangan didepan dadanya, menatap Jungkook angkuh dan menantang, "Tidak ada, kan?" lanjutnya.
Jungkook terdiam. Masih menatap pergerakan Jimin yang saat ini melangkah mendekatinya dengan ekspresi datar. Gadis itu mengangkat wajahnya saat tiba didepan Jungkook, "Aku sudah lama melupakan masalah itu, kook."
"Tapi, kau harus tau—" Jimin menggantungkan ucapannya. Jemari telunjuk kanannya bermain-main disekitar area bahu Jungkook dengan gerakan seperti membuat huruf "O" berulang-ulang.
"—aku tidak ingin lagi mengulangi masalah di masa lalu. Aku sudah mengubur semua kenangan masalah itu, mulai dari masalahnya maupun juga dengan orang yang membuat masalah tersebut. Aku—membunuh semua itu dan aku sudah tidak mau membangkitkannya. Karena aku sudah muak berhadapan dengan orang-orang sepertimu yang terus membuat masalah denganku!" lanjutnya lirih tepat disamping kiri telinga Jungkook.
Gadis itu menjauhkan kembali badannya dari tubuh Jungkook. Jungkook membelalakkan matanya saat mendapati mata serta hidung mungil Jimin yang memerah. Jimin menahan mati-matian agar air matanya tak lolos berjatuhan, bahkan dia menahan agar suaranya tadi tak terdengar bergetar.
Jungkook mendekati Jimin. Dalam satu gerakan, tubuh mungil gadis itu sudah didekap oleh tubuh yang lebih besar darinya, "Jimin, maafkan aku. Sungguh, maafkan aku!" ucap Jungkook pelan.
Jimin mengepalkan tangan disisi tubuhnya, dia merasa marah diperlakukan seperti ini, dan dalam satu gerakan juga, tubuhnya terlepas dari pelukan Jungkook.
Gadis itu mengatur napasnya pelan-pelan, "Jangan pernah perlakukan aku seperti itu! Aku tidak selemah yang kau pikirkan dan aku tidak butuh siapapun untuk tempat kujadikan bersandar!"
"Jimin ... " gumam Jungkook lirih.
hai, aku '02L loh😂
kalian?
KAMU SEDANG MEMBACA
ᴋᴏᴏᴋᴍɪɴ ɢꜱ (ᴇɴᴅ) ✔
Fanfiction[ BOOK 2 DARI I'M YOU ] Jimin dan Jungkook tidak tau, sebenarnya apa salah mereka? Mengapa mereka sangat sulit untuk bersama? Semua masalah mereka lalui dan semua usaha juga sudah mereka lakukan. Lantas, apa lagi yang kurang? Jadi, sebenarnya siapa...
