Chapter 25

636 59 27
                                        


Seorang anak hawa baru saja menapakkan kedua telapak kakinya ditanah setelah pendaratan pesawat dilapangan bandara mendarat dengan sempurna. Ia membenarkan letak kacamata hitamnya yang sedikit menurun ke hidung mungilnya untuk dinaikkan kembali agar menutupi manik mata coklatnya juga bulu mata lentiknya. Oh tidak, lebih tepatnya supaya bisa menutupi mata sembabnya karena harus bangun secara paksa padahal ia masih mengantuk loh.

"Aduh, kok sudah sampai? Kok cepat sekali?" rengeknya. Kakinya dihentak-hentakkan seperti anak kecil.

Tingkahnya itu sangat berbanding terbalik dengan style gayanya saat ini. Kaos putih yang ujung bawahnya dimasukkan kedalam celana hitam ketatnya, lalu kaki jenjangnya yang sudah terbalut dengan Chelsea Paris Queen Boots nampak sangat pas dan indah, oh jangan lupakan lapisan luar kaosnya yaitu jaket kulit Genuine Leather warna hitam. Auranya terlihat semakin kuat saat dilihat rambut hitamnya yang sengaja digerai itu terlihat berantakan, namun tidak meninggalkan kesan jelek sama sekali. Gadis itu sungguh mempesona.

"Jangan lebay kenapa sih! Kalau memang kepepet sangat ngantuk, tidurlah. Tapi dari sini sampai ke hotel nanti, kau ku seret!" sahut pemuda disampingnya dengan nada datar.

Ah, dari sudut pandang semua orang yang ada di bandara itu, mereka menerka-nerka sepertinya keduanya adalah sepasang kekasih, karena dapat dilihat pakaiannya yang sama, atau yang biasa disebut couple? Begitulah. Yang membedakan hanya pada sepatunya, sebab si pria mengenakan sepatu Boots Louis Vuitton.

Ah, mereka sangat menawan!

Si gadis mendesis tak suka atas jawaban si pemuda. Jadi yang ia lakukan setelahnya mampu membuat semua penduduk tercengang. Tanpa aba-aba, ia langsung menubrukkan tubuhnya ketubuh kekar pemuda itu, mengalungkan lengannya ke leher pemuda itu juga kaki pendeknya yang sudah melingkar dengan indah dipinggang keras sang pemuda tampan, "Gendong! Wajib! Awas kalau aku dijatuhkan, tidak kuterima lamaranmu nanti!" ancamnya tidak main-main.

"Jimin—ssh, sialan!" ucapannya terpotong karena Park Jimin sudah mendengkur halus dengan meletakkan kepalanya di bahu lebarnya. Akhirnya, dengan perasaan tidak ikhlas dan sedikit malu karena menjadi sorotan, ia memilih ikut melingkarkan dengan erat tangannya ke pinggang Jimin agar gadis itu tak jatuh dan mereka berdua bisa cepat-cepat meninggalkan tempat ramai ini.

Pipi Jimin tertarik, bibirnya membentuk sebuah kurva dengan lengkungan keatas. Diambang kesadarannya, ia bergumam, "Jungkookie terbaik!" dengan terkekeh geli.

"Diam saja, babi! Kau ini makan apa sih, berat sekali!"

Untung saja Jungkook mengatakannya saat Jimin sudah memasuki alam mimpi.

^^^

Jimin mengerjapkan matanya pelan untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina matanya. Dia yang awalnya dalam posisi miring, kini berbaring sembari mengucek matanya, tak sadar jika ada seseorang lagi disampingnya yang kini tengah memeluknya erat juga menatapnya dalam.

"Malam, Piggy!" tak tahan dengan kelambanan Jimin dalam memproses sesuatu, akhirnya ia bersuara agar gadis itu tau, ia sedang tidak sendiri dikamar ini. Ada orang disampingnya yang membutuhkan perhatiannya dengan lebih, yaitu Jungkook.

Jimin yang terkejut, refleks menolehkan kepalanya kekiri yang langsung bisa melihat wajah tampan Jungkook dari jarak sangat dekat, "Kau memanggilku apa tadi? Piggy?" tanyanya setengah teriak. Manik sipitnya dibesar-besarkan agar terlihat menakutkan yang justru membuat Jungkook menahan tawa.

"Apa? Kenapa melotot seperti itu? Mau kucongkel bola matamu, hah?" seru Jungkook ikut melebarkan mata bulatnya, "Kau memang seperti anak babi! Jadi jangan protes!"

ᴋᴏᴏᴋᴍɪɴ ɢꜱ (ᴇɴᴅ) ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang