"Tolong dengarkan aku, Hyung. Bersikaplah seperti biasa jika besok noonaku sudah bangun. Jangan menanyakan tentang apapun yang terjadi hari ini padanya apalagi sampai kau menatapnya kasihan, sendu, dan iba. Jangan pernah melakukan itu semua, bersikaplah seperti biasa seolah tidak pernah terjadi masalah!" Jihyun dengan tegas memberi peringatan pada Jungkook yang hanya diam menatapnya datar.
Raut mukanya memang biasa saja, tapi otak jeniusnya langsung berusaha mencerna maksud dari ucapan Jihyun.
Seolah tidak terjadi apapun? Bagaimana bisa?
^^^
Jimin bersenandung pelan didapur apartemen Jungkook. Tangan mungilnya dengan cekatan menata semua hasil masakannya pada piring dan langsung membawanya ke meja makan dengan langkah riang. Bahkan, sesekali bibir tebalnya dikerucutkan sehingga menimbulkan suara siulan.
Setelah semuanya dirasa sudah cukup rapi, dia melangkah menuju pantry guna mengambil sebotol dot susu untuk bayinya. Tiba-tiba gadis itu memekik kaget saat dia berbalik dan menemukan Jungkook yang ternyata sudah berada dibelakangnya, entah sejak kapan.
Jimin refleks memukul keras lengan Jungkook, "Sialan. Kau mengagetiku!" ucap Jimin seraya melotot menatap Jungkook.
"Kau saja yang lebay! Orang aku hanya diam tidak bersuara, dimana letak aku mengagetimu?" sahut Jungkook kesal.
"Justru karena kau diam dan tiba-tiba berada di belakangku lah letak mengagetkannya!" balas Jimin tak mau kalah. Telapak tangannya mendorong kasar dahi Jungkook agar menyingkir dari hadapannya, "Minggir! Dasar menyusahkan!"
Diperlakukan seperti itu, Jungkook pun menirunya. Telapak tangan besar Jungkook dengan pas menempel pada wajah kecil Jimin, kemudian ikut mendorongnya juga. Tentu saja, tenaga Jimin jauh lebih kecil dan akhirnya ia terdorong kembali hingga punggungnya menabrak pinggiran meja pantry, "Aish, Jungkook!" rengeknya kesal.
"Jangan mentang-mentang kau sudah semakin besar dan kekar, kau bisa semena-mena terhadap orang yang lebih kecil darimu, ya!" imbuh Jimin sembari tangannya menggenggam dan berusaha menarik tangan Jungkook untuk menjauh dari wajahnya.
Jungkook mengernyit saat merasakan ada yang tidak beres, telapak tangan besarnya yang semula meraup wajah Jimin berganti dengan menempelkan punggung tangannya ke dahi perempuan tersebut. Ekspresi berpikirnya sungguh membuat Jimin mendengus geli.
"Badanmu panas. Kau sakit, ya?" selidik Jungkook.
Khawatirnya seorang Jeon Jungkook malah dibalas Jimin dengan lambaian tangan singkat ke udara, "Ini sudah biasa terjadi. Jangan berlebihan." jawabnya singkat sebelum berlalu dari hadapan Jungkook dengan cepat.
Malas ditanyai Jimin, tuh.
Baru saja akan meninggalkan dapur, Jimin berbalik kembali karena merasa ada yang tertinggal, lebih tepatnya ia kelupaan bilang sesuatu hal yang menurutnya sangat penting kepada Jungkook. Tanpa diduga, saat itu juga Jungkook sedang menatapnya dengan datar.
Mengetahui Jimin seperti akan mengatakan sesuatu, Jungkook menaikkan sebelah alisnya dan bertanya langsung tanpa basa-basi, "Kenapa?"
"Aku sudah sangat ingin melakukan ini saat aku dipindahtugaskan ke Seoul. Tapi aku belum memiliki waktu untuk itu. Karena sekarang aku mempunyai waktu luang cukup banyak, aku ingin melakukannya sekarang!" ucap Jimin yang terdengar ambigu di telinga Jungkook.
"Melakukan? Apa?" tanya Jungkook pelan.
"Mengunjungi Jihyo ke penjara." jawabnya ringan. Seringai lebarnya langsung keluar dengan alami.
^^^
"Omo! Aigo~! Nona Park? Kau dipenjara? Bagaimana bisa? Eonnie-mu tidak bisa melindungimu? Wah, jinjja! Apakah kau tidur nyenyak ditempat sempit ini? Apakah perutmu bisa kenyang hanya dengan memakan sekepal nasi putih saja? Apakah kau—?"
KAMU SEDANG MEMBACA
ᴋᴏᴏᴋᴍɪɴ ɢꜱ (ᴇɴᴅ) ✔
Fiksi Penggemar[ BOOK 2 DARI I'M YOU ] Jimin dan Jungkook tidak tau, sebenarnya apa salah mereka? Mengapa mereka sangat sulit untuk bersama? Semua masalah mereka lalui dan semua usaha juga sudah mereka lakukan. Lantas, apa lagi yang kurang? Jadi, sebenarnya siapa...
