3. Kunjungan tak Terduga

63 13 0
                                        

Matahari bersinar terik. Pagi itu, tanpa suara kokokan ayam atau alarm, Raga terbangun karena kebiasaan. Hari ini adalah hari minggu. Raga berencana membersihkan setiap sudut dan celah rumahnya yang pasti berdebu.

Sudah berbulan-bulan sejak Raga hidup sendiri-karena alasan yang tak bisa dijelaskan sekarang-Raga bekerja tanpa bantuan asisten rumah tangga. Awalnya memang melelahkan, tetapi setelah mempertimbangkan kalori yang keluar, Raga tidak masalah melakukannya.

Hitung-hitung sebagai olahraga.

Setelah mencuci wajah dan memakan sepotong roti sebagai sarapan. Raga menyiapkan banyak peralatan yang akan digunakan untuk bertempur.

Membersihkan debu sambil merapikan benda-benda di atas meja dan sekitarnya. Lalu, lanjut menyapu dan ketika Raga hendak mengepel lantai. Suara mobil masuk garasi terdengar di telinganya.

Raga menghentikan gerakannya. Suasana hati pemuda itu berubah seketika. Menghembuskan napas panjang, Raga berjalan keluar. Ia membuka pintu depan, terlihat ayahnya datang dengan membawa dua kantong plastik yang terisi penuh.

"Aldo bilang kamu suka masak sendiri. Ini Papa bawakan bahan mentah," ujar Rasyid dengan senyum tipis. Raga tidak menjawab dan hanya membantu mengangkat bawaan ayahnya yang berat.

Walau begitu, hatinya tengah menggerutu. Mengapa bisa ayahnya bersikap biasa setelah apa yang terjadi pada mereka? Bahkan kata maaf saja tidak pernah Raga dengar setelah kejadian itu.

Rasyid kembali tersenyum. Tak masalah jika sang putra masih enggan bicara banyak padanya, yang perlu Rasyid lakukan hanyalah mengerti dan mencoba menyelesaikan kesalahpahaman ini.

Pria itu mengedarkan pandangan ke sekeliling dan melihat peralatan kebersihan tergeletak di lantai, sebagian lagi bersandar pada dinding.

"Kamu butuh asisten rumah tangga? Kamu pasti lelah mengurus rumah besar ini sendirian," saran Rasyid.

Lagi-lagi Raga tidak menjawab. Pemuda itu kini tengah sibuk memasukkan daging dan sayuran segar ke dalam kulkas. Pemberian Rasyid memang tidak tanggung-tanggung. Raga perkirakan semua bahan masakan ini akan cukup lebih kurang setengah bulan. Belum lagi kebutuhan rumah tangga yang lain. Berlebihan, tetapi Raga tidak munafik dan masih membutuhkan dukungan ayahnya.

"Nggak perlu. Semua masih bisa kutangani sendiri," balas Raga datar. Tanpa menoleh ke arah Rasyid yang memberikan perhatian penuh padanya.

Pria empat puluhan akhir itu menghembuskan napas panjang. "Raga, Papa mau bicara."

Raga mendongak dengan tatapan dingin. "Silakan."

"Papa tahu kamu sangat marah dan berpikir bahwa Papa mengkhianati Mama. Tapi bukan seperti itu, Nak. Papa melakukan ini demi ..."

"Memuaskan nafsu Papa disaat Mama berjuang untuk hidup. Benarkan?" sela Raga.

Nada bicaranya seperti berlati yang langsung menyakiti hati Rasyid. Saat ini, putranya tidak bisa lagi ia kenali. Hanya kemarahan yang sudah menguasai. Tidak ada lagi Raga yang bersikap hangat padanya.

"Bukan seperti itu, Nak. Asal kamu tahu, Papa menyayangi kalian. Kalian sangat berarti bagi Papa."

"Dan itu dibuktikan dengan menikahi sahabat Mama setelah Mama meninggal?!" geram pemuda itu sambil membanting plastik berisi buah ke atas meja. Napasnya tersenggal-senggal. Wajah Raga memerah menahan marah.

Ia hendak pergi meninggalkan area dapur. Bagaimanapun, Raga tidak mungkin melampiaskan kekesalan pada ayahnya lebih daripada yang tadi. Namun, suara Rasyid menghentikan langkahnya.

"Itu keputusan sulit yang harus Papa ambil."

Raga memejamkan mata dengan tangan terkepal erat. Walau ia mendengar nada penyesalan di suara ayahnya, tetapi itu sama sekali tidak meruntuhkan emosi yang sudah membubung tinggi.

Ia berbalik dan berkata, "sejujurnya, Pa selama ini aku berpikir bahwa kalian sudah lama menjalin hubungan di belakang Mama. Ketika Mama sakit, ketika perempuan itu sering mampir ke rumah dengan banyaknya alasan atau apa pun. Saat ini, Papa pasti merasa bahagia karena akhirnya Mama tiada ..."

Di detik yang sama, Rasyid menampar keras pipi Raga. Selama beberapa detik tidak ada yang berbicara, hanya ada suara napas yang memburu dari keduanya.

"Jaga ucapanmu, Raga. Jangan pernah sekalipun kamu meragukan cinta Papa ke Mama. Selama ini, Papa menerima semua tuduhanmu karena Papa mengerti kalau kamu sedang kecewa. Kamu masih terlalu muda untuk mengerti masalah yang terjadi."

Kemudian, Rasyid beranjak pergi. Mengabaikan rasa panas di pipi, Raga berjalan cepat menuju belakang rumahnya. Dekat dengan taman bunga favorit Renata, ibunya.

Ia menatap dinding yang permukaannya memiliki retakan tipis. Bahkan di beberapa titik, terdapat cat yang memudar. Ini adalah lokasi kesukaan Raga untuk melampiaskan kemarahan.

Tangannya masih terkepal erat hingga menonjolkan urat-urat di sepanjang lengan. Raga mengambil posisi dan ancang-ancang sebelum ... memukul dinding di hadapanya kuat-kuat.

Sekali.

Dua kali.

Di pukulan ketiga, buku-buku jemari Raga sudah memerah dan lecet karena gesekan antara dinding begitu kuat. Setelah merasa puas, Raga jatuh terduduk sambil bersandar di dinding korban kekesalannya.

Ia tertawa miris. Menatap jemarinya yang mulai berdenyut sakit.

Well, inikah orang yang sama? Yang menasihati Aldo untuk tidak pasrah saja ketika dipukuli oleh ibunya? Padahal Raga melakukan sesuatu yang lebih bodoh dari itu.

Menghukum diri sendiri.

Akan tetapi, rasa puas yang Raga dapat membuatnya seolah hilang kendali. Baginya tidak masalah memiliki luka kecil seperti ini. Toh, sakitnya juga tidak seberapa dibanding kenikmatan yang ia rasa.

Raga berdiri dan melangkah lunglai menuju kamarnya. Kemudian, ia menemukan kasur yang semula rapi kini seprainya berhambur kesana kemari. Pemuda itu menatap sekeliling. Matanya terpaku pada sosok yang baru keluar dari kamar mandi.

"Eh, gue numpang kamar mandi tadi. Gue nggak punya rumah soalnya," celetuk Aldo. Ia mengenakan salah satu kaus milik Raga, juga melempar asal handuk yang ia kenakan untuk menggosok rambut.

Raga memejamkan mata sesaat. Ia tidak akan menghabiskan tenaga-yang memang sudah habis terkuras-untuk menegur kebiasaan Aldo yang buruk itu.

"Oh ya, gue sempet tidur juga tadi bentar. Badan gue rasanya remuk. Tapi, gue bener-bener ngerasa puas!" ujar Aldo penuh kebahagian. Lagi-lagi ia menghempaskan diri ke atas kasur yang berantakan.

"Lo mabuk?"

"Sedikit," jawab Aldo sambil cengengesan.

"Muntah? Kamar mandi gue udah lo bersihin?"

"Gue nggak selemah itu."

Hening beberapa saat. Pandangan Aldo kemudian terarah pada jemari Raga yang memerah dan sedikit berdarah. Pemuda itu tersenyum kecut dan memejamkan mata, menikmati kenyamanan yang kasur Raga tawarkan.

"Gue tadi ketemu Om Rasyid di depan. Dia keliatan marah banget."

Raga tidak berkutik, ia hanya mencoba membereskan kekacauan kecil yang Aldo perbuat.

"Ga," panggil Aldo. Raga berdeham singkat. Aldo bangkit dari tidurnya dan mengambil posisi duduk.

"Nyakitin diri sendiri nggak bakal nyelesain masalah."

Mereka lalu bersitatap dengan penuh sirat.

—•—•—





Jangan lupa vote dan komen

🌻


RagathaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang