12. Si Pintar yang Dibodohi

26 4 0
                                        

Raga melepas baju olahraga yang basah oleh keringatnya. Tubuh kuat dan berbentuk itu tampak menggoda, ditambah kulit kecokelatan milik Raga membuat iri para teman lelaki di kelas ini. Mereka berbisik pada yang lain, kemudian memandang kecut tubuh sendiri.

"Woah! lo nge-gym di mana, Ga? Gue kok nggak pernah tahu?" celetuk Aldo. Raga telah memasang kancing seragam terakhir dan menoleh pada Aldo dengan tatapan malas.

"Bagi-bagi tips dong. Gue juga pengin kali punya badan bagus."

Padahal, tubuh Aldo juga tak kalah menawan. Tinggi mereka hanya berbeda sedikit. Kalau Aldo tidak bertingkah menyebalkan, maka akan ada banyak perempuan yang mengejarnya.

Bagi perempuan, Aldo terlalu mudah digapai sehingga tak perlu bersusah payah merebut hatinya. Cukup diberi makan seporsi, Aldo akan luluh begitu saja. Berbeda dengan Raga yang sulit untuk melunak. Semakin tak acuh, semakin membakar rasa penasaran.

Raga menghela napas lelah. Sedangkan Aldo, tengah mengeluhkan sikap Raga pada segerombolan siswa di kelas ini. Mereka berbincang akrab dengan topik yang meloncat-loncat. Sambil bersiap untuk pulang. Karena mereka adalah siswa akhir tahun, mereka lebih ditekankan untuk mengulang pelajaran yang lalu sebagai persiapan ujian.

Raga memakan cokelat-yang lagi-lagi hasil pemberian-di sepanjang perjalanan menuju parkiran. Di belakangnya tampak Aldo berlari mengejar Raga dan menepuk pundak pemuda itu. Hingga membuat Raga tersedak, lalu berusaha memuntahkan potongan cokelat dari kerongkongannya.

"Sialan, lo mau bunuh gue, hah?!" geram Raga ketika batuknya sudah mereda.

"Maaf, nggak sengaja gue."

Aldo kemudian diabaikan oleh Raga. Namun, ia masih membuntuti sahabatnya itu. Tiba di parkiran, Aldo bertanya, "Gue masih penasaran tentang lo sama Dira. Lo beda banget kalo ama dia, cuy!" pekik Aldo.

"Biasa aja," sahut Raga. Benar, menurutnya tidak ada perlakuan istimewa yang ia berikan pada Dira.

"Enggak-enggak. Sebagai orang luar, gue ngeliat something di antara kalian."

Raga menyipitkan matanya tak setuju. Akan tetapi, Aldo malah menambah argumennya.

"Lo biasanya nggak pedulian. Kenapa sekarang tiba-tiba mau bantuin Dira? Gratis pula, gila lo!"

"Gue cuma mau nolong. Nggak ada niatan lain."

Kali ini Aldo yang menyipitkan mata curiga. "Gue nggak percaya."

"Terserah," jawab Raga.

Di saat pemuda itu sudah mengeluarkan kunci dan hendak menaiki motornya, Aldo menarik lengan Raga. Mencegah Raga untuk pergi.

"Apaan sih, Al?!" geram Raga kesal. Ia menyentak pegangan Aldo di tubuhnya.

"Lo suka sama Dira, kan?"

Seketika mata Raga menyorot tajam ke arah Aldo yang dipenuhi jenaka. Pemikiran Aldo benar-benar di luar nalar! Ia tidak mungkin menyukai Dira dan perempuan manapun di luar sana. Raga tipikal orang yang susah keluar dari zona nyaman. Ia tidak akan mengorbankan ketenangan demi hal serumit itu.

"Lo jangan fitnah! Hal kayak gitu nggak akan pernah terjadi di usia gue yang sekatang."

Raga menyingkirkan Aldo yang menghalangi jalannya dan menghidupkan motor matic miliknya. Namun, pemuda itu seolah tak menyerah dan mengambil kunci motor yang menggantung di tempatnya.

"Aldo!" jerit Raga dengan wajah murka. Kalau ada yang ingat, semakin kesal Raga, maka semakin senang Aldo menggodanya.

"Mau lo apa sih?!"

RagathaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang