26. Awal dari Petaka

13 3 1
                                        

Hari ini kelas Raga mendapat tugas kelompok. Raga menoleh dan ingin mengajak Aldo untuk membuat kelompok baru, tetapi tidak disangka Aldo meminta untuk masuk kelompok siswa di depan mereka.

Mungkin, kali ini Aldo memang tidak ingin bersamanya. Oleh karena itu, ketika seorang siswi menawarkan Raga untuk membentuk kelompok bersama, ia menyetujuinya. Sontak saja siswi bernama Arum itu bahagia luar biasa. Dengan segera ia mengabarkan teman-temannya yang lain, kemudian mencari lokasi untuk mengerjakan tugas tersebut.

"Di perpustakaan. Sekalian cari bahan referensi," saran Raga yang langsung disetujui oleh anggota kelompok yang lain. Mereka terdiri dari lima orang, dengan Raga yang direkrut menjadi ketua.

Tugas mereka tidak terlalu rumit sebenarnya. Hanya disuruh membaca dan mengkritik suatu novel atau karya tulis lain. Raga langsung membagi tugas setelah berdiskusi dengan para anggotanya. Entah sengaja atau tidak, dua perempuan anggota Raga, Arum dan Yuri selalu bertanya bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun.

Mereka bahkan seperti sengaja menempel padanya. Hal itu membuat Raga risi dan ingin segera menyelesaikan tugasnya.

"Raga, katanya lo sekarang ngajar Dira, ya? Lo nerima murid baru nggak sih? Gue mau gabung boleh?" tanya Yuri.

Oke. Jadi ini alasan mereka selalu menempel padanya? Raga berdecak dalam hati. Para perempuan memang akan bertindak keterlaluan jika tak segera diusir atau dijauhi.

"Enggak. Lo bisa cari guru privat lain," tolak Raga tanpa basa-basi.

"Tapi gue maunya lo, gimana dong?"

Demi Tuhan! Raga merasa mual mendengar bagaimana nada manja terlontar dari perempuan di sebelahnya.

"Jawaban gue tetap sama."

Raga mulai merasa menyesal telah bergabung di kelompok ini. Sekarang yang bisa dia lakukan hanya menjauh dan mengurangi intensitas bicara atau interaksi apa pun dengan para siswi tersebut.

"Yah, kok Dira bisa belajar sama lo, sedangkan gue temen lo sendiri masa nggak boleh sih?" cibir Yuri.

"Gue juga harus siap-siap buat ujian," balas Raga lagi.

Sejujurnya, ini bukan kali pertama ada seoarang siswi yang meminta Raga untuk memberikan les privat. Raga tentu langsung menolak, terkadang dia hanya menerima sebatang cokelat yang mereka bawa. Mana mungkin Raga menolak makanan kesukaannnya.

Tampaknya Yuri sudah menyerah merayu Raga untuk menerima tawarannya. Gadis itu berbalik dan langsung mengadu pada Arum. For you information, Arum sudah pernah meminta hal yang sama pada Raga, awal ketika berita dirinya mengajar untuk Dira.

"Kan, gue bilang juga apa. Raga pasti nolak lo," desis Arum pada Yuri yang sialnya terdengar sampai ke telinga Raga.

—•—•—

"Jadi, udah selama itu lo punya hubungan sama Aldo?"

Fera mengangguk ragu. Sebenarnya, ia sudah janji pada Aldo untuk merahasiakan ini. Kedekatan mereka bermula ketika Fera menertawakan Aldo yang dihukum di depan kelas. Dari sana, mereka mulai berbincang lewat pesan singkat. Awalnya, Fera hanya menanggapi layaknya seorang teman, tetapi pesona Aldo yang mengusung pemuda ramah dan sopan, sulit Fera abaikan.

Walaupun sampai sekarang, tidak ada obrolan resmi yang menyatakan bahkan mereka berpacaran, tetapi sikap dan komitmen masing-masing lah yang menyatakan demikian. Fera tahu, hubungan seperti itu sangat kecil kemungkinan untuk berhasil. Sebisa mungkin Fera menerima bahwa di masa depan, hubungan ini akan kandas. Namun, sebelum itu tiba, ia ingin mengeruk semua kebahagiaan yang ada.

"Kok nggak cerita sama gue, sih, Fer? Gue 'kan temen deket lo. Kalo hari ini kalian nggak ketahuan, lo tetep bakal sembunyiin ini 'kan?" cerocos Dira melontarkan kekecewaannya. Sangat wajar mengingat Dira hampir menceritakan semua yang ia rasa, lakukan bahkan hal-hal kecil sekalipun.

"Ini permintaan Aldo, Ra. Dia pengin kalian berdua, lo sama Raga nggak tau tentang kami," balas Fera.

"Alasannya?"

Fera menggeleng lagi. "Gue kurang tau. Setiap kali gue tanya, Aldo bakal ngalihin pembicaraan. Jadi, gue putusin untuk nggak tanya lagi.

Dira mencoba mengerti. Tidak ada gunanya memaksa Fera. "Tapi, lo beneran yakin ama Aldo? Dia terlalu friendly ke semua orang. Gimana kalo ternyata, lo bukan satu-satunya melainkan cuma salah satunya?"

"Enggak kok, gue yakin. Lo harus percaya gue."

"Iya, deh, tapi—wait, itu Angel? Astaga! Itu bocah berulah lagi."

Kaki Dira mulai berlari ke ujung koridor, tidak terlalu banyak siswa yang menonton pertunjukan gratis yang Angel gelar, sehingga wajah perempuan licik itu dapat Dira lihat jelas. Percayalah, apa yang Dira lihat sekarang benar-benar di luar batas bully anak sekolahan. Dira bersyukur, ia mengajak Fera berbicara sambil berkeliling, sehingga dapat menolong siswa  yang sedang dapat sial tingkat dewa.

Raut muka Dira berubah horor ketika melihat Angel membawa gunting dan mencoba untuk mengoyak seragam musuhnya. Ini keterlaluan, Dira membatin. Mengabaikan teriakan peringatan dari Fera, Dira menerjang Angel. Menangkap tangan yang memegang gunting besar dan membuang benda tajam tersebut.

Angel berbalik dengan wajah dipenuhi oleh emosi marah. "Lo!"

"Apa? Gila ya, lo, Ngel. Sembarang mau robek seragam orang. Dia punya salah apa sama lo, hah?!"

Korban yang berada di terbaring di lantai, tubuhnya gemetar karena ketakutan dan mencoba untuk menahan tangisnya. Fera dengan segera membantu siswi malang tersebut untuk berdiri.

"Terserah gue! Lo nggak berhak buat ikut campur!" sentak Angel sembari mendorong kasar tubuh Dira. Gadis itu mundur beberapa langkah, tetapi itu sama sekali tidak menyurutkan niatnya untuk menghentikan kebejatan Angel.

"Gue bakal ikut campur selama lo nggak berhenti bully orang-orang yang salah!" tekad Dira tak terbantahkan.

"Oke, kalo gitu, hentiin gue kalo bisa," sinis Angel. Ia mengambil gunting yang terlempar cukup jauh dari jangkauan, lalu melayangkannya ke arah Dira. Untungnya, Dira bisa cepat menghindar. Dapat juga ia dengar Fera berteriak panik. Temannya itu berlari untuk mencari bantuan, sedangkan Angel masih mencoba untuk menyerang Dira secara brutal.

"Lo gila?!" jerit Dira karena Angel tak mengenal kata menyerah untuk melukainya.

"Emang dan sekarang lo bakal liat kegilaan apa yang bisa gue lakuin!"

Kesal, Dira menampar keras pipi Angel. Bukan hanya sekali, melainkan tiga kali hingga telapak tangannya sendiri terasa panas dan perih. Setelah itu, Dira kembali mengambil gunting terkutuk itu dan membuangnya lebih jauh. Bersamaan dengan datangnya salah seorang guru beserta beberapa siswa di belakangnya. Termasuk Raga. Dira terkejut mengetahui Raga ikut dalam rombongan tersebut.

Fera segera diamankan. Di jauhkan dari Dira yang kini berdiri mematung. Bukan karena takut, melainkan tertegun atas raut khawatir yang Raga tunjukkan untuknya. Ya, kini Raga tengah menatap matanya Dira sebelum pemuda itu berlari ke arahnya.

"Ada yang luka?"

Dira menggeleng cepat. Sepertinya Raga tak puas dengan jawabannya, sehingga pemuda itu memeriksa sendiri tubuh, Dira. Menelitinya dari ujung kepala hingga kaki. Setelah memastikan tubuh Dira utuh tanpa luka, Raga tampak menghembuskan napas lega. Namun, teriakan Angel selanjutnya mengubah raut wajah Raga menjadi kaku dengan sorot waspada.

"Nikmati hidup tenang lo sekarang, Dira. Karena nanti lo akan ngerasain neraka dunia yang gue ciptain khusus buat lo!"

—•—•—

Senin, 24 Januari 2022
20.12 WIB

RagathaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang