19. Diska Lepas

18 2 0
                                        

Setelah puas menggoda Fera yang mengalami hal terduga bersama Aldo. Dira mengasingkan diri ke kantin. Ia memesan segelas teh es manis yang akan melepas dahaganya dan mengambil sebungkus roti seribuan isi cokelat.

Cukup lama ia duduk sendirian di sana. Sambil menggulir gawainya tanpa bosan. Hingga sebuah notifikasi dari aplikasi pesan singkat masuk ke ponselnya. Dira hampir saja tersedak minumannya sendiri. Gadis itu segera bangkit dan setelah mengetik balasan, ia berjalan cepat menuju lokasi yang telah diberi.

Terengah, Dira menghentikan langkah sembari mengantur napas. Senyum tipis terbit di bibirnya. Ini semua karena Raga. Entah angin dari mana, pemuda itu memanggilnya.

"Bisa-bisanya gue salting cuma karna ginian doang."

Dira memukul pelan keningnya, tetapi itu sama sekali tak melenyapkan senyum yang mengembang sempurna. Ada yang tidak beres dengan dirinya, pikir Dira. Apa ini ada hubungannya dengan pesan panjang yang mereka lakukan semalam? Ah, memikirkan bagaimana perhatiannya Raga ketika ia sakit membuat pipi Dira semakin memerah.

Astaga! Apa yang ia pikirkan. Dira menggeleng untuk mengeyahkan pikiran aneh di dalam kepalanya sebelum makin merajalela.

Dira memasuki perpustakaan. Ia menyapa singkat penjaga tempat ini yang berada di meja dekat pintu masuk. Lalu, mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Bibirnya tertarik melengkuk, ketika menemukan bahu lebar seseorang yang tengah bersandar nyaman di kursi. Segera, Dira menghampirinya.

"Hai," sapa perempuan tersebut.

Raga mengangguk sekali dibarengi senyum tipis yang memukau.

"Kenapa lo nyuruh gue ke sini?"

Dira duduk tetap di seberang Raga. Matanya terpaku pada beberapa batang cokelat di atas meja. Ini pasti dari penggemar Raga. Ketika para siswi mengetahui fakta bahwa pemuda berotak cerdas itu sangat menyukai makanan manis tersebut, mereka berbondong-bondong memberi Raga cokelat, hampir setiap hari.

Sialnya lagi, Raga tidak pernah menolak pemberian tersebut. Tentu saja, pemuda itu tidak akan melewatkan kesempatan untuk menghemat uang sakunya.

"Lo mau? Ambil aja satu," ujar Raga setelah melihat Dira lama memperhatikan cokelat miliknya, yang dihias menggunakan pita untuk mempercantik rupanya, oleh si pemberi. Namun, sayangnya Raga tidak peduli.

"Nggak, gue udah kenyang," balas Dira. "Jadi, kenapa?" tanyanya lagi.

Raga tidak langsung menjawab, ia menatap Dira lekat sembari merogoh saku yang berada di dada kirinya. Mengeluarkan benda kecil dari sana dan menyodorkannya pada Dira.

"Flashdisk? Buat apaan?" tanya Dira tak paham.

"Di dalamnya ada pembelajaran yang seharusnya gue ajarin waktu itu. Tapi, berhubung lo sakit, gue buat dalam bentuk video biar lo paham."

Gadis itu terpana mendengar penjelasan Raga yang terkesan cuek, tetapi menyiratkan perhatian yang besar. Mungkin, bagi Raga ini hanyalah sekadar tanggung jawab. Namun, bagi Dira ini adalah hal yang luar biasa. Tidak semua orang-yang bekerja secara sukarela-akan memikirkan ini.

Senyum lebar terbit begitu saja dari bibir Dira. Ia mendongak, menatap Raga dengan pandangan berbinar, sedangkan yang pemuda itu bersikap seolah tak peduli.

"Makasih banyak, ya, Ga. Gue nggak nyangka lo seniat ini," puji perempuan berambut sebahu itu.

Raga hanya berdeham. "Sebagai imbalannya, lo nggak boleh gagal di ujian nanti."

Karena terlalu senang, Dira hanya mengangguk cepat sebagai balasan. Ia memutar-mutar diska lepas yang Raga berikan, seolah ini adalah kali pertama Dira melihatnya. Gadis itu hanya terlampau bahagia, bahkan mengabaikan ekspresi Raga yang kian berubah cerah.

RagathaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang