"Raga—"
"Maaf, tapi saya sangat lelah. Anda juga melihat sendiri kalau saya baru pulang sekolah," potong Raga tanpa iba. Ia mengambil kunci pagar dan bersiap membukanya. Namun, lengan wanita dewasa nan anggun itu menghentikan pergerakan Raga.
"Saya mohon. Kita harus bicara," pinta wanita itu—Diana.
Dengan kasar, Raga menghempaskan jemari halus itu dari lengannya dan menoleh dengan geram. "Apa Anda tidak mengerti penolakan secara halus?"
For you information, Diana adalah istri baru Rasyid yang merupakan ayah dari Raga. Wanita itu adalah pelaku terpecahnya hubungan antara ayah dan anak. Walau begitu, ia seolah menutup mata dan menemui Raga tanpa merasa bersalah. Jelas, hal tersebut membuat Raga marah.
"Saya sangat tahu kamu enggan bertemu, tapi ada hal yang ingin saya luruskan."
Diana menatap penuh harap. Sejujurnya, ia juga merasakan sakit ketika Raga memandanginya dengan kejam. Menatapnya seolah Diana adalah hama mematikan. Namun, Diana yang lebih dewasa harus bisa menempatkan diri dengan baik. Dirinya harus kembali menyatukan dua manusia yang sedang bersitegang.
"Apa yang mesti diluruskan? Hubungan kalian? Anda mau membela diri dengan mengatakan bahwa kalian saling mencintai lalu berselingkuh di belakang ibuku?!"
Pemuda itu sama sekali tidak mau bersusah payah untuk menjaga perasaan orang dewasa di sebelahnya. Untuk apa? Disaat Diana adalah sumber rasa sakitnya. Setiap manusia butuh sosok kambing hitam, bukan? Itulah yang Raga lakukan sekarang.
"Saya mengerti kalau kamu marah, tapi kamu harus mendengar yang sebenarnya, Raga," ujar Diana berusaha tegar.
"Papa sudah Anda pengaruhi, jadi sekarang saya targetnya? Maaf, tapi saya tidak akan terpengaruh. Apapun itu, saya tidak mau dengar. Lebih baik sekarang Anda pulang."
Raga segera masuk dan mengunci pagar. Ia tidak memedulikan panggilan Diana yang menggema dan terdengar frustrasi di telinganya. Pemuda itu menghela napas panjang. Walaupun sisi kemanusiaannya berkata bahwa ini kejam, Raga tetap tidak bersikap biasa setelah apa yang wanita itu lakukan.
Persetan. Lebih baik ia mandi sekarang.
Berhubung ia sedang tidak dalam suasana bagus untuk memasak, Raga merogoh ponselnya dan memesan makanan yang disediakan aplikasi online. Waktu menunggu akan ia gunakan untuk membersihkan diri.
Sekitar tiga puluh menit— ketika Raga telah menyelesaikan urusan bersih-bersih—makanannya tiba. Harus ia akui, dirinya cukup penasaran apakah Diana masih berada di area rumahnya. Namun, mustahil bukan? Untuk apa ia berlama-lama menunggu orang yang membencinya? Pemuda itu menggeleng, mencoba mengeyahkan pikiran tentang Diana.
Setelah membayar pesanan sesuai aplikasi, Raga menengok kanan dan kiri. Memastikan tidak ada Diana yang nekat menerobos masuk ke dalam rumahnya. Walau tahu hal itu sangat mustahil mengingat pajero mewah tidak lagi parkir di dekat rumahnya.
Raga makan dengan tenang. Menyuap penuh nikmat nasi goreng kesukaannya. Namun, hal itu tidak bertahan lama karena seseorang tengah menghubungi ponselnya.
Aldo.
"Kenapa?"
"Motor lo gue pinjem dua hari lagi, ya?"
"Lo bosan hidup, hah?" balas Raga yang langsung naik pitam. Ia mendorong piring berisi nasi goreng miliknya. Selera makannya menghilang entah kemana.
"Ya elah, pelit banget sih. Tenang aja, motor lo aman, kok."
Aldo di seberang sana mencoba menenangkan sahabatnya. Namun, Raga sama sekali tidak bisa tenang. Ia memikirkan bagaimana nasib motornya nanti. Hal itu dapat dibuktikan dengan seringnya kendaraan Aldo bolak-balik ke bengkel. Sedangkan motor Raga, bersinggungan dengan bengkel tidak lebih dari perawatan atau perbaikan kecil.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ragatha
Teen FictionKeputusan ayahnya menikah lagi disaat sang ibu belum lama meninggal, membuat Raga kecewa sekaligus tidak menyangka. Hubungan ayah dan anak itu pun merenggang, hingga berpisah tempat tinggal. Di tengah kekacauan yang Raga rasakan, perempuan aneh bern...
