"Ra, harus banget ya ngelakuin ini?" tanya Fera kepada Dira yang sedang memunggunginya. Kedua perempuan itu tengah bersenyembunyi di balik dinding. Mengintip seorang pemuda yang sedang membeli kebutuhan perutnya di kantin.
"Harus! Sebelum gue minta bantuan, gue mau kenal dia lebih dalam," jawab Dira tanpa mengalihkan mata dari Raga, seseorang yang tengah ia untit.
"Dengan cara ngintip diam-diam?"
Dira mendelik. "Lo punya cara lain emang?"
Seperti dugaannya, Fera menggeleng tak acuh.
"Kenapa nggak bayar tutor profesional aja sih? Gue cuma becanda tentang Raga waktu itu," pinta Fera.
"Mahal, Fer. Minta sama Raga bisa bayar seikhlasnya."
Jawaban Dira sontak membuat Fera menganga tak percaya. Bagaimana bisa ia memiliki teman terlalu jujur seperti Dira?
"Fera! Itu Raga udah pergi." Dira memukul-mukul bahu temannya agar fokus mengamati Raga. Fera berdecak pelan dan kembali memantau pemuda yang akan menjadi tutor sahabatnya.
Itu juga kalau Raga mau.
"Raga suka sama cokelat. Dia juga beli minuman rasa yang sama. Catet, Fer!" desak Dira membuat Fera menggerutu tak suka.
"Informasi itu nggak berguna buat lo, Ra."
Oh Tuhan! Mengapa Fera mengikuti tindakan konyol yang Dira lakukan? Seharusnya ia menolak dengan tegas. Apalagi, kini Fera harus menanggung rasa malu karena banyak siswa yang menatap heran ke arah mereka.
"Ra, ayo pergi dari sini. Bel masuk bentar lagi bunyi, kita harus pergi," ajak Fera. Tanpa menunggu jawaban dari Dira, Fera menarik lengan perempuan berambut sebahu itu menuju kelas. Mengabaikan suara protes Dira.
"Fer, kita masih punya waktu sebelum masuk kelas. Kita bisa ..."
"Nggak! Kita harus masuk kelas sekarang. Ingat, lo harus belajar bener-bener, nggak bisa kayak dulu lagi. Lo harus bangun tabiat baru," potong Fera.
Dira mengerucutkan bibir. Dengan kepala dingin ia berpikir, mungkin memang sudah seharusnya ia menjadi pintar. Mau sampai kapan kebodohannya terus bersarang?
Menghela napas panjang, Dira mengikuti langkah Fera tanpa paksaan.
—•—•—
Dua hari. Sudah dua hari Raga membiarkan dua siswi mengekorinya diam-diam. Mengikuti segala aktivitasnya di sekolah bahkan mereka nekat mengikuti Raga sampai rumah.
Oke, ini keterlaluan. Raga akan bertindak jika tidak ada etiket baik.
"Mereka mungkin suka sama lo," celetuk Aldo ketika Raga memberitahu perbuatan dua orang tersebut.
"Nggak ada pembenaran untuk stalker. Apalagi sampai ganggu privasi orang lain," balas Raga.
Aldo menganggukkan kepala. Bingung harus merespons seperti apa. Ia menyeruput es teh manis di hadapannya. Mata Aldo menatap seluruh area kantin. Mencari dua siswi yang dimaksud oleh Raga.
"Kantin nomor tiga," ujar Raga tiba-tiba. Sepertinya ia tahu bahwa Aldo sedang mencari para penguntitnya.
"Yang mana? Ada banyak cewek di sana."
"Yang berdua."
Aldo berdecak kesal ketika melihat bahwa ada beberapa perempuan yang berdua-duaan. Apa para siswi itu mengalami penyimpangan seksual? Padahal banyak pemuda di sekolah ini. Aldo menggeleng dramatis.
"Emangnya lo normal?"
Suara dalam dirinya bertanya, membuat Aldo mendongak menatap Raga yang menikmati makan siang dalam diam. Damn, benar juga. Dia bahkan berduaan dengan Raga. Seketika, Aldo merasa miris terhadap dirinya sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ragatha
Novela JuvenilKeputusan ayahnya menikah lagi disaat sang ibu belum lama meninggal, membuat Raga kecewa sekaligus tidak menyangka. Hubungan ayah dan anak itu pun merenggang, hingga berpisah tempat tinggal. Di tengah kekacauan yang Raga rasakan, perempuan aneh bern...
