Di Balik Dinding

10 6 0
                                        

Jam sebelas siang adalah waktu yang kupilih untuk memasak, di dapur yang tidak bisa dibilang lega. Sepertinya ruang dapur ini adalah bangunan tambahan yang dibangun belakangan, karena walau dibawahnya ditembok tetapi atasnya hanya dibatasi papan triplek yang juga tidak bisa dibilang tebal apalagi kedap suara.

Biasanya kusebut jam rawan, sebab di saat aku memasak ada saja percakapan yang rawan terdengar telinga dari dinding kontrakan petak empat ini. Yang kutempati adalah petak kedua dari ujung dan itu berarti aku diapit dua penyewa lainnya.

"Ma, nanti malam kita jalan-jalan ke pasar malam ya?" suara dari petak kiri terdengar saat aku baru saja mengupas bawang.

"Lihat nanti Papamu bawa uang atau tidak ya," sahut sang ibu.

Aku melanjutkan membasuh setengah ekor ayam negeri yang kubeli dengan diskon murah karena aku langganan tukang sayur itu sejak dua tahun lalu.

"Bunda, dicari Mama Fikri di luar. Diajak arisan katanya," suara seorang pria terdengar dari petak sebelah kanan. Jadi itu pasti suara Pak Didi, yang tiap harinya menjadi supir antar jemput anak sekolah.

"Aduh Ayah, aku kehabisan uang nih. Arisan bulan ini sudah habis dua juta setengah." Jawab istrinya. Sontak aku berhenti meniriskan ayam dan syur yang baru saja kucuci.

"Loh memang kamu ikut berapa arisan, Bund?"

"Lima. Lumayan kan kalo dapetnya bareng." Suaranya berubah jadi lebih pelan dari sebelumnya.

Aku menghela napas dan mulai lanjut menjerang air untuk sup ayam menu makan siang putra semata wayangku. Mengiris daun bawang, bawang putih dan mengulek biji merica. Dilanjut dengan mencemplungkan irisan tempe ke dalam tepung.

"Ma, beneran ya nanti kalo Papa bawa uang banyak kita ke pasar malam. Mama janji ya, kalo Papa datang kita pergi." Rajuk si anak yang kukira sudah berusia delapan tahun itu.

"Kalau Pa-pa-pu-lang... kalo nggak gimana?" tanya mamanya.

Lagi, aku menghentikan gerakan tanganku yang sedang mengangkat wajan ke atas tungku. Menelan ludah dan memikirkan semua kalimat yang kudengar barusan, mereka bukan sedang bersandiwara. Hidup itu sendiri adalah sandiwara bagi mereka dan kami semua adalah para pemain di bingkai cerita masing-masing.

"Bunda, duit tabungan Rasya kamu pake juga?" Pak Didi kembali terdengar suaranya.

"Ma—maaf Ayah, bulan kemarin belum dapet arisannya. Aku yakin nanti sore dapet giliran, tangan Bunda gatal nih, pasti mau dapat duit."

"Apa hubungannya? Aneh-aneh aja, aku sudah nggak punya muka untuk pinjam uang ke kepala sekolah. Selesaikan sendiri urusanmu!" nada tinggi dari petak sebelah kanan mulai terdengar.

Hawa panas dari sup yang mulai mendidih serta minyak yang juga mulai panas membuat bulir-bulir keringat mengalir di pipi. Adzan zuhur menggema di kejauhan, tetapi percakapan sumbang dengan tangga nada diatonis mayor dari balik dinding kiri dan kanan masih saja ada.

Sebuah pelukan hangat datang dari arah belakangku, sedikit terkesiap tetapi aku lantas tersenyum.

"Sudah salat istriku? Kalau belum, biar aku kerjakan sisanya, kamu salat dulu." bisikan lembut di telingaku itu selalu membuat hatiku adem.

Suara dari petak kanan dan kiri redam dengan suara lembut yang menelusup di relung hati, suara imamku. Guru SD yang membuatku jatuh hati sejak bertemu di musala kampung halaman.

----------------------------------

LIVE zaman NOWCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang