Mata Yu Marni membesar melihat jejeran panci di dapur Ratmi yang tergantung rapi, kakinya sibuk mondar mandir di antara baskom-baskom yang penuh dengan bahan masakan seperti rajangan bawang merah, potongan cabai dan juga sayuran yang siap untuk dirajang sesuai kebutuhan.
"Ya Allah, Ratmiii." Yu Marni memandang tetangganya itu dengan gusar.
"Kenapa Yu Marni?" tanya Ratmi kaget melongok dari arah sumur, wanita itu tengah mencuci potongan ayam segar untuk dibuat opor.
"Aku heran deh, belakang pancimu itu semua hitam. Kita ini memang nggak tinggal di kota, tetapi kan nggak jauh dari pasar. Masa iya kamu nggak bisa beli?" Yu Marni mulai ngomel.
"Walah, Yu. Yang penting panciku bisa dipakai, aku sudah sering membersihkannya. Tapi itu karena panciku sudah belasan tahun jadi penghuni dapur." Jawab Ratmi enteng dari arah sumur.
"Aku kok geli makan dari panci dan wajan itu, Mi." sungut Yu Marni menghampiri Ratmi ke sumur.
"Ya sudah, nggak usah makan." Suara Ratmi masih terdengar santai.
Yu Marni yang kesal tak ditanggapi langsung ngeloyor pergi tanpa pamit, Ratmi hanya bisa geleng-geleng kepala dan meneruskan pekerjaannya.
***
Ketika penduduk Desa Pawon memiliki hajat, maka bisa dipastikan itu adalah rezeki bagi Ratmi yang memang dikenal enak hasil masakannya. Semua orang berani membayar mahal untuk jasa masaknya. Hari ini giliran Pak Mahmud sang sekretaris desa yang akan membuat syukuran akan khitan anak pertamanya, jadi istri Pak Mahmud segera menyambangi Ratmi di rumahnya.
"Yu Ratmi, maaf. Apa boleh saya bertanya?"
"Ada apa Bu Mahmud, ya pasti boleh. Silakan." Ratmi tersenyum.
"Mmm... maaf sekali lagi—"
"Ada apa toh, Bu. kok sepertinya penting?"
"Kemarin Yu Marni datang ke rumah, dia cerita kalo Yu Ratmi tuh masak dengan panci yang kotor. Penuh kerak panci. Maaf loh Yu Ratmi, saya hanya ingin memastikan kalo pesanan saya nanti ... aman." Bu Mahmud jadi salah tingkah.
Ratmi seketika berubah raut wajahnya, menjadi memerah karena malu. Tetapi lantas ia memiliki ide untuk mengajak Bu Mahmud ke dapurnya.
"Ibu boleh liat, panci saya memang dimakan usia... tapi saya selalu jaga kebersihan."
"Ya Ampun, Yu Ratmi. Ini dapur kok seperti di sinetron ya. Rapiiiiii banget, saya jadi malu. Dapur saya nggak serapih ini loh."
"Berantakan juga Bu, kalo saya mulai masak." Ratmi nyengir.
"Pesanan saya tambah 50% dari jumlah semula ya, supaya bisa untuk hantaran ke keluarga yang jauh." Bu Mahmud tambah semangat.
***
Sejak malam sebelumnya, Ratmi sibuk di dapur menyiapkan menu syukuran untuk keluarga Pak Mahmud. Ia dibantu tetangganya yang terdekat untuk jumlah pesanan yang amat banyak itu.
"Yu, kemarin di warung sayur rame... Yu Marni bilang, kerak panci Yu Ratmi bikin hilang selera." Welas berkisah sembari memotong daging.
"Biar saja, Welas. Yang penting yang punya hajat tidak protes. Masakanku tetap bersih dan sehat juga enak seperti biasa." Ratmi masih menyiangi wortel dan ketimun. Hatinya memang dongkol dengan tindakan Yu Marni, tetapi Ratmi hanya bisa pasrah.
Keesokan harinya semua hidangan telah tertata dengan rapi, para tamu undangan telah berdatangan dan semua lahap menyantap hidangan yang disediakan.
"Kalo Pak Mahmud yang punya hajat, pasti pilih katering di alun-alun itu, aku mau makan banyak hari ini." Yu Marni membenahi kebayanya yang berwarna hijau lumut.
"Iya bener tuh, Pak Mahmud kan uangnya banyak karena hasil sawahnya juga banyak, dia pasti pake katering ternama. Bukan Yu Ratmi ya Mbakyu." Salah satu teman Yu Marni membenarkan dan mereka tertawa menuju rumah sang empunya hajat.
Sesampainya di sana halaman telah dipenuhi undangan yang tengah menikmati pertunjukan organ tunggal sambil makan hidangan di meja. Yu Marni tak sabar dan langsung menuju meja prasmanan setelah bersalaman dengan sang pengantin khitan.
"Bener kan, ini masakan ala katering. Rasanya mantap dan nggak kaleng-kaleng, dagingnya besar lalu bumbunya juga pas. Wih aku bisa makan enak hari ini." Yu Marni memuji hidangan itu.
Tak lama Bu Mahmud datang menghampiri dan menyapa para tamu tak terkecuali Yu Marni.
"Selamat ya Bu Mahmud, acaranya sukses. Ini masakannya juga uuenaaak tenan." Puji Yu Marni mengacungkan jempol.
"Terima kasih banyak Yu Marni, alhamdulillah. Yu Ratmi memang hebat, semua menunya adalah menu pilihan saya dari daftar katering yang saya lihat di brosur. Loh kok ya bisaa dia masak semua itu." Bu Mahmud tersenyum puas.
Yu Marni terpaksa tersenyum dengan kecut, ia membayangkan berapa keuntungan Ratmi dari hasil memasak di panci dan wajan yang hitam itu. Terlebih lagi ia menikmati betul hasil masakan Ratmi si pemilik kerak panci, kini ia bimbang akan menghabiskan daging empuk di piringnya itu atau tidak.
-------------------------
#30harikonsistenmenulis
#ninsoe
#livezamannow
KAMU SEDANG MEMBACA
LIVE zaman NOW
Ficción GeneralAntologi cerpen yang berisi cerita ringan kehidupan sehari-hari di sekitar penulis. merangkum cerita antar gender, usia dan hubungan sosial yang amat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Selamat menikmati. * Saya mengikuti #30harikonsistenmenul...
