Lidah-lidah yang Kelu

11 6 1
                                        

Kios sayur di ujung Gang Flamboyan masih ramai dijejali ibu-ibu yang memilah sayur dan buah. Sementara Kimung sang pemilik kios juga tak kalah sibuk menjejali kantung-kantung plastik dengan belanjaan pelanggannya, belum lagi menimpali setiap celotehan para ibu yang seperti nggak ada habisnya.

"Kimung, ini kenapa jengkol mahal banget sih, semena-mena deh."

"Duh Ibu, masa iya saya kerek sendiri itu harga. Emang lagi mahal, tapi liat aja kualitasnya ...mulus, jengkolnya muda, enak buat disemur." Lelaki yang selalu mengenakan kupluk berwarna hitam itu tertawa renyah.

"Kimung, minta kentang sekilo sama bawang merah seperempat. Trus tambahin cabe keriting lima ribu aja."

"Assiiiaaapp," lengkingnya bagai youtuber terkenal itu.

Para pembeli datang silih berganti hingga nampak sebuah raut yang dikenali Kimung dari jauh menghampiri kiosnya. Mata Kimung berbinar.

"Eh ada Mba Dinar. Mau masak apa, ada ikan bandeng, ayam juga masih banyak. Tuh sayuran semuanya segeer." Sapanya ramah.

Dinar tersenyum membalas sapa Kimung sambil menengok ke kanan dan kiri dimana masih ada sekitar tiga orang pembeli lainnya tersisa.

"Bang Kimung, tolong disiapkan lima kantong masing-masing isinya ayam satu ekor, tempe satu papan sama racikan sayur asem ya. Tambahin bumbu dapur sama buah pepaya yang kecil aja masing-masing satu ya." Dinar merinci belanjaannya.

Kimung memberikan ibu jarinya tanda mengerti, Dinar kembali menengok ke arah ibu-ibu yang memandanginya sejak tadi.

"Wah, belanjanya banyak bener Mba Dinar. Mau pesta ya?" Ibu berdaster panjang itu mulai bersuara.

"Mba Dinar, kalau bisa belanja sebanyak itu pasti gajinya gede ya. Nggak kaya saya, pas-pasan." Timpal yang satunya sementara tangannya memilih jagung manis.

Dinar hanya diam dan tersenyum menanggapi pertanyaan itu dan menunggu Kimung menyiapkan pesanannya.

"Mba Dinar, kalau duitnya banyak ikutan sedekah jumat sama ibu-ibu pengajian sini bisa kan. Kok nggak pernah muncul sih setiap pengajian rutin?"

Dinar terkesiap kaget dan berdehem menutupi kegugupannya.

"Maaf ya Bu, Saya belum sempat ikut pengajian di lingkungan ini. Soalnya saya kerja dari pagi hingga sore, jadi sampai rumah sudah cape."

"Ngaji kan hanya satu jam Mba Dinar, bisalah disempatkan sesekali." Timpal ibu berdaster panjang itu lagi, wajahnya sinis menatap Dinar.

"Biasalah Bu, wanita zaman sekarang. Katanya sih keren berkarier di kantoran, lupa sama akhirat." Timpal yang satu tak kalah sengit.

"Insyaa Allah," Dinar menjawab singkat, wajahnya memerah menahan rasa.

Kimung menyerahkan semua belanjaan ke tangan Dinar dan menerima pembayarannya dengan berbinar.

"Saya tunggu belanjanya lagi minggu depan ya Mba Dinar, sukses!" Dinar menerima kalimat Kimung itu dengan senyumnya yang manis.

Dinar berpamitan dengan sopan dan berlalu melewati ketiga ibu itu.

"Ibu-ibu, Mba Dinar tuh emang orang sibuk. Dia pulangnya malam terus, saya suka ketemu kalo pas pulang dari masjid." Jelas Kimung.

"Halah Kimung! Belain aja terus perempuan bahenol macam dia, ntar lama-lama naksir lu. Dia kan janda kembang, berharap jodoh ya?" dan gelak tawa ketiga ibu tadi pecah.

Kimung tak lagi sanggup menimpali, hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan kembali membenahi dagangannya.

***

Pengumuman dari masjid besar subuh itu membuat para ibu di Gang Flamboyan berkumpul pagi-pagi di samping kios sayur milik Kimung. Bahkan Kimung pun terlihat tengah menutup kiosnya kembali setelah tadi sempat buka. Kabar duka tentang meninggalnya Dinar menyebar dengan cepat. Bukan karena kabar kematian itu sendiri melainkan tentang apa yang sempat dilakukan Dinar semasa hidup.

"Saya nggak nyangka loh, ternyata dia donatur tetap masjid Ar-Royan. Padahal suami saya pengurusnya dan dia nggak pernah cerita."

"Lah iya, ternyata donatur pengajian kita selama ini juga Mba Dinar."

"Makanya ibu-ibu, jangan nyinyir kenapa sih. Banyak hal yang ditutupi dari mata kita, padahal itu patut diteladani." Kimung membenahi baju salatnya untuk bersiap ke masjid.

"Dan tau nggak, setiap minggu Mba Dinar belanja banyak sama saya itu untuk siapa, hah?"

"Emang buat siapa, Kimung?" tanya si Ibu yang sempat menyindir Dinar lupa akan akhirat.

Penjelasan Kimung berikutnya hampir membuat ibu-ibu itu kelu lidahnya, penyesalan mereka teramat dalam. Dinar selalu menyisihkan rejekinya setiap minggu untuk berbelanja bagi para lansia miskin di lingkungan sekitar situ, bahkan salah satunya adalah orang tua dari mereka yang terus menyinyirinya.

Kimung melangkah meninggalkan mereka yang masih berbincang tentang almarhum Dinar di belakang, ada perasaan sedih terselip dihatinya mengingat sosok baik hati yang selalu menyapanya. Dan kini hanya doa yang mampu ia selipkan bagi wanita yang pernah diimpikannya menjadi pendamping hidupnya kelak.

------------------------------------------ 

LIVE zaman NOWCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang