XIX. Sebuah Firasat

181 53 8
                                        

"Ya Allah, ada apa dengan hati ini? Kenapa begitu gelisah, sedang Engkau yang memegang dan menjamin akhir dari seluruh skenario ini?"

___________

Kepala Zulfikar berdenyut. Matanya tidak bisa fokus meski sudah berulang kali mengerjap dan menguceknya. Tubuhnya pun terasa panas seperti terbakar dari dalam.

"Apa yang terjadi padaku?" Zulfikar melirik dengan penglihatan samar ke arah cangkir teh yang baru habis ia sesap. "Teh ini …." Ia menaikkan pandangan pada Galuh. "Apa yang kamu masukkan ke dalam teh ini Galuh?" Suara Zulfikar naik beberapa oktaf. Sementara Galuh hanya mematung dengan wajah ketakutan.

Zulfikar bangkit, tapi tubuhnya limbung dan kembali terduduk di kursi.

"Panas …." Racaunya mulai tak karuan dengan mata terpejam. Tangannya terus menggoyangkan atasannya agar ada angin yang bisa mendinginkan tubuh.

Galuh menggigit bibir bawahnya. Dengan perasaan kalut dan jantung yang terus berdebar kencang, ia lantas beralih mendekati pintu, menutup dan menguncinya. Lalu dipandangi Zulfikar yang menatap tajam ke arahnya.

"Apa yang kamu lakukan?" Suara Zulfikar masih dengan nada tinggi. Ia berusaha bangkit, tapi detik itu juga kepalanya berdenging. Matanya terpejam semakin dalam, sampai akhirnya ia hanya bisa terduduk kembali dengan pasrah.

"Maafin aku, Mas." Ia berjalan mendekati Zulfikar. Dalam jarak setengah meter pandangan mereka berserobok. Namun, ada yang berbeda kali ini. Pandangan Zulfikar tiba-tiba saja menghangat dan … penuh cinta. Galuh tak bisa menafsirkannya sampai ….

"Alif …."

Langkah Galuh terhenti. Alif? Siapa dia?

"Aku merindukanmu." Galuh menatap nanar Zulfikar.  Pikirannya mulai bergerilya menebak orang yang disebutkan pemuda itu.

"Aku pasti akan segera pulang dan memenuhi janjiku." Zulfikar terus meracau tak jelas dan Galuh masih terus mendengar dengan dada yang mulai bergemuruh. "Kamu tau, Alif, hatiku .…" Pemuda itu mencengkeram erat bajunya tepat di bagian dada sebelah kiri. "Di sini rasanya sakit sekali ketika melepasmu sebelum keberangkatanku. Padahal aku ingin kamu menungguku. Padahal aku juga mencintaimu. Padahal aku ingin kembali pulang dan segera menikahimu."

Galuh menelan salivanya dengan susah payah. Jadi … dia wanita yang kamu cintai, Mas? Kedua tangan Galuh mengepal di sisi tubuh.

"Alif, apa kamu marah padaku? Kenapa kamu diam saja?"

Galuh menegakkan kepalanya dengan mata yang membulat sempurna. Apakah dia menganggapku … Alif? 

"Lif …." Zulfikar bangkit dan berjalan sempoyongan mendekati Galuh yang ia sangka ada Alif. Hingga ia jatuh dan menyandarkan dagunya di bahu Galuh. "Aku mencintaimu … sangat."

Dada Galuh terasa semakin sesak. Bukankah itu artinya perasaannya hanya bertepuk sebelah tangan? Selama ini … perasaannya yang salah? Galuh menggeleng. Ia merengkuh tubuh Zulfikar, membalasnya dengan pelukan hangat dan penuh cinta. 

Tidak! Biar bagaimanapun kamu harus tetap di sini, Mas. Aku memang terpaksa melakukan hal rendah ini demi Sakha, tapi tak bisa kubohongi kalau hatiku senang karena kamu akan jadi milikku seutuhnya. Terlebih setelah mengetahui kebenaran tentang wanita yang kamu cintai. Hatiku rasanya sakit, Mas. Kamu membuatku semakin tidak ingin melepasmu begitu saja. 

"Aku juga mencintaimu, Mas." Galuh membenamkan wajahnya di dada Zulfikar, menghidu aroma tubuh yang menguar dari tubuh pemuda itu. Ia juga bisa mendengar debaran Zulfikar yang kencang dan kencang.

JAMANIKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang