XXIX. Kebohongan yang Indah

289 72 36
                                        

Zulfikar sudah siap menerima semua rasa sakit jika baja pipih nan tajam itu merobek  perutnya. Seperti apa pun itu, ini adalah pilihannya. Lebih baik Mirza menuntaskan kebencian padanya, agar semua usai, dibanding membiarkannya melakukan tindakan keji lain. Meski memang, tidak ada yang baik di antara keduanya, Zulfikar tetap harus memilih. 

Namun, setelah dipikir beberapa saat, kenapa sekarang dia tidak merasakan apa pun? Bukankah Mirza tadi sudah berjalan mendekat dengan belati yang tergenggam kuat dan tertuju pada dirinya?

Perlahan, Zulfikar putuskan membuka matanya yang seketika membola saat melihat apa yang ada di hadapannya. 

“Galuh ....” Suara lembutnya dileburkan oleh embusan angin yang tiba-tiba kencang, seakan tengah menyebarkan berita pada semesta. 

Galuh, dia berdiri di depan Zulfikar, menjadikan tubuhnya sebagai perisai agar belati itu tak menyakitinya. Akan tetapi, sejak kapan? Sejak kapan Galuh berdiri di sana? 

Tiba-tiba Zulfikar ingat. Sebelum memejamkan mata, ada suara samar yang memanggil. Harusnya dia sadar kalau itu bukan suara Husain, tetapi telinganya seakan ditulikan oleh memori-memori indah yang akan mengantarkannya tidur selamanya. Mendadak, Zulfikar merasakan sakit di ulu hatinya dan menatap Mirza dengan mata berkaca.

Di sisi lain, Galuh masih memandangi belati yang menancap di perutnya. Gila? Mungkin ya. Tanpa takut, dia mengorbankan nyawa sendiri demi lelaki yang membencinya. Tapi Galuh tidak peduli, jika dengan menukar nyawanya bisa melindungi Zulfikar agar tetap hidup. Dan mungkin juga mendapat maaf darinya.

Ketika baja pipih itu merobek kulit dan tertahan di sana selama beberapa waktu, rasa sakitnya menembus hingga ke ubun-ubun, dan perlahan tubuhnya mati rasa. Darah segar yang masih mengucur, membuat matanya berkunang dan nyaris blank. Bayangan keluarga yang dia impikan seperti terhapus. Lalu, Galuh menaikkan pandangan, membalas tatapan Mirza yang penuh keterkejutan. 

“Harusnya aku sadar ... orang bercadar itu―”

Belum sempat Galuh menyelesaikan ucapannya, Mirza menarik belati itu. Mata Galuh membola semakin lebar. Wajahnya menyiratkan penderitaan sakit luar biasa. Setelah belati itu ditarik paksa, sakitnya justru menjalar di sekujur tubuh tanpa ampun. Dia tidak kuat lagi dan akhirnya tumbang.

“Galuh!” teriak Zulfikar. Tatapan pemuda itu menusuk manik Mirza. “Apa yang Mas lakukan?” Dadanya naik-turun, antara cemas dan takut. Panik? Tentu saja. Saudaranya telah melakukan penusukan, terlebih pada Galuh yang masih istrinya. Seandainya Galuh tidak datang, Galuh pasti akan baik-baik saja.

Tubuh Mirza sedikit tremor setelahnya, tapi segara ditepisnya kuat-kuat. “Aku tidak boleh lemah.” Tanpa disadarinya, kalau Zulfikar berhasil lepas dari belenggu anak buah Ki Aji dan langsung menendang tangan Mirza yang memegang belati penuh darah. Mirza memekik, belati itu pun berhasil terpelanting beberapa meter darinya. 

Buru-buru Zulfikar menendang dada Mirza, membiarkan tubuh pemuda itu terjengkang, lalu memberinya bogeman di wajah yang sudah pasti akan membuat telinganya berdenging. Setelahnya, buru-buru juga Zulfikar menendang belati itu sejauh mungkin agar Mirza tak bisa mengambilnya lagi. 

Bawahan Ki Aji hendak maju menyerang Zulfikar, tapi Mirza menghentikannya, seperti memberi izin―waktu bagi pasutri yang menikah terpaksa itu untuk mengucap perpisahan. Walau hatinya sendiri bertanya, kenapa dia harus bermurah hati?

Zulfikar mendekati tubuh Galuh yang mengejang, lalu merengkuh kepalanya dengan lembut. Membiarkan lengan kirinya menjadi bantal untuk lehernya.

“Galuh ....” Bukan hanya tubuhnya, tetapi juga suara Zulfikar yang bergetar, terlebih melihat darah yang terus keluar dari luka di perutnya. Perasaan bersalah bagai rintik hujan yang terus menghujani hati Zulfikar tanpa jeda. Air mata pemuda itu meleleh, meliuk, dan melintasi luka lebam di wajahnya.

JAMANIKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang