“Menceritakan kisah penjara hitam adalah bagian dari skenarioku. Jadi, tugasmu adalah mengatakan pada pemuda-pemuda di kediaman Eyang Danar. Sampai kamu berani melawanku, bukan hanya adikmu, tapi juga calon anakmu yang akan mengucapkan selamat tinggal padamu!”
Galuh bergidik, kala mengingat pria bercaping yang tertutup cadar dan berpakaian serba hitam itu datang menjenguknya dengan ancaman. Bahkan pria itu tau mengenai kehamilannya. Galuh menggigit bibir bawahnya karena cemas dan takut. Sejak awal malam, dia hanya mondar-mandir di bilik kamarnya. Hatinya tidak bisa tenang. Jika bukan karena ancaman itu, Galuh tidak akan pernah buka suara.
“Aku harus melakukan sesuatu. Aku tidak mungkin membiarkan mereka dalam bahaya.” Galuh memandangi perutnya, dan mengusapnya penuh kelembutan. “Aku harus menyelamatkan ayahmu, Nak.”
Gadis itu bergegas, keluar rumah dan membabat jalanan desa yang gelap. Didatanginya rumah warga yang terdekat. Diketuk pintunya keras-keras. “Pak Jatmiko! Bu Ratmi!” panggilnya bergiliran dengan lantang. Namun, tak ada jawaban. Diulanginya lagi berkali-kali, tetapi hasilnya tetap sama. Perasaan putus asa mulai masuk ke dalam sel-sel tubuhnya. Melemahkan dinding pertahanannya perlahan.
“Aku enggak boleh nyerah,” katanya menyemangati diri. Galuh menegakkan wajahnya, dan menuju rumah di sebelahnya, tanpa dia tau kalau ada lirikan dari celah jendela dari rumah yang baru saja dikunjunginya.
Galuh melakukan hal yang sama. Sudah sepuluh rumah, dia memanggil dan mengetuk pintunya, tetapi hasilnya nihil. Hingga rumah kesebelas yang disambanginya dalam keputusasaan membukakan pintu. Sepasang suami istri dengan wajah takut-takut keluar dari rumahnya.
“Pak Setya, Bu Laksmi.” Air mata haru melesak keluar dari mata Galuh. Diusapnya detik itu juga agar tak terlihat.
“Galuh? Ada apa sebenarnya, Ndhuk?” tanya wanita paruh baya bernama Laksmi itu.
Tanpa basa-basi, Galuh langsung bersimpuh dengan tangis dan memegangi kaki mereka. “Pak, Bu, tolongin Galuh, tolong bantu selamatkan pemuda-pemuda itu. Mereka pergi ke Penjara Hitam untuk membebaskan keluarga kita. Mereka butuh bantuan kita. Mereka sekarang pasti dalam bahaya.” Tangisnya semakin pecah detik itu juga. Dia mendongak dengan mata yang basah. Berharap kalau mereka akan membantunya. “Galuh mohon. Galuh enggak tau harus gimana lagi. Galuh sendirian. Galuh coba minta bantuan sama yang lainnya, tapi enggak ada satu pun yang membuka pintu rumahnya.”
“Galuh ....” Suara laki-laki itu tertahan. “Kami juga ingin membantu, tapi kami bisa apa? Jika kita ikut bergerak, bagaimana dengan anak kami di sana? Bagaimana kalau mereka melakukan sesuatu yang buruk padanya?” sahut lelaki di samping Bu Laksmi.
“Tapi Pak―”
“Kita enggak punya pilihan selain menurut, Luh. Sesuatu yang berharga ada di tangan mereka. Jika kita mengambil satu langkah saja untuk menentang, nyawa keluarga kita akan melayang, Galuh.”
Tidak punya pilihan? Atau memang terlalu takut? Suasana menegang seketika. Galuh masih tidak bisa terima sebelum dia bisa melakukan sesuatu untuk menolong Zulfikar. Gadis itu langsung bangkit, berdiri tegak dan mengangkat pandangannya. Pasangan suami istri di hadapannya hanya saling lempar pandang, bingung dengan perubahan ekspresi Galuh.
Gadis itu melangkah mundur, terus, hingga kakinya menginjak jalan utama desa yang berbatu. Ditariknya dalam-dalam udara bercampur embun itu. “Apa kalian bahagia hidup dalam ancaman?” Galuh berteriak lantang. Persetan ini waktu tengah malam untuk terlelap. Dia tidak akan dan tidak mau peduli lagi. Ada hal yang lebih penting daripada sekadar memikirkan akan mimpi apa nanti. Semuanya harus bangun dan bertarung dengan kenyataan. “Apa kalian tidak ingin keluarga kalian bebas? Apa kalian tidak ingin hidup dengan kebebasan seperti sebelumnya?”
KAMU SEDANG MEMBACA
JAMANIKA
Spiritual[S E L E S A I] "Urip iku urup." Falsafah itu yang mengantarkan Zulfikar, beserta kedua saudaranya, Husain dan Mirza untuk menjalankan misi di sebuah desa bernama Jamanika. Berbekal janji dari Alif---tunangannya---yang harus Zulfikar tepati, dia be...
