Rumor Penghuni Gedung Dua

1K 158 44
                                        


BAB 2

Rumor  Penghuni Gedung Dua

           Halaman sekolah dipadati siswa yang berseragam putih abu tua, hari kedua dalam seminggu, beberapa siswa terdengar mengeluh ketika memasuki gerbang, dan beberapa kembali merekah senyum ketika melihat teman, saling sapa dan mengucapkan kata jumpa dengan nada paling senang. SMA Bakti Nusa merupakan salah satu sekolah unggulan di Kota Surabaya, menduduki deretan ketiga sekolah swasta yang berhasil mengantarkan para siswanya ke perguruan tinggi ternama, baik di dalam maupun luar negeri. Sekolah itu memiliki sepuluh gedung utama, gedung satu dan dua yang tempatnya berhadapan dan dihubungkan dengan koridor panjang merupakan ruang guru, tata usaha, dan sebelah ujungnya auditorium, lalu gedung tiga dan empat merupakan ruang kelas X dari tiga jurusan yaitu MIPA, IPS, dan IBB yang di sampingnya terdapat kantin dan koperasi.

Sementara gedung lima dan enam yang terletak di sebelah timur dan dipisahkan oleh lapangan merupakan ruang kelas XI bagi semua jurusan, samping kanannya merupakan gedung tujuh delapan yang dihuni oleh siswa kelas XII. Gedung sembilan merupakan ruang kesehatan dan tempat daur ulang, tentu saja di setiap gedung menyediakan toilet, ya! Sementara gedung terakhir merupakan gedung yang belum selesai direkontruksi, dan digunakan sebagai gudang penyimpanan.

Seorang siswa berjalan tergesa dari arah pintu masuk gedung satu. "Minggir!" ujarnya ketika hendak menyela kerumunan di koridor gedung dua. 

Ia menarik napas panjang, mengembuskannya dengan kasar, lanjut mendecak sebal ketika salah seorang siswi berambut kepang dengan sengaja menabrak pundaknya, menginjak ujung sepatu miliknya, dan berjalan melewatinya tanpa rasa bersalah.

"Kaki gue lo injek, anjir!"

Siswi berambut kepang pun menolehkan kepala, ia tampak tergesa-gesa berlarian kecil sembari menenteng note juga pensil menuju kerumunan itu, co-card  keanggotaan redaksi Bakti Nusa yang tergantung di lehernya ikut terayun. "Sorry, Sat, gak sengaja."

"Gaada sopan santunnya, ya, gue lihat. Awas lo!" Satya memekik sambil melirik, matanya menyipit dan hatinya tersulut dendam.

          Kurang lebih satu meter dari tempatnya, siswa-siswi bergerombol di depan mading sekolah. Pemandangan ini sudah biasa ia temui setiap pagi, dua tahun berturut-turut mading itu berhasil menempati posisi sebagai tempat paling ricuh setelah kantin sekolah, setidaknya ketika pagi tiba dan itu menjadi alasan Satya---pemuda berambut acak, dasi kumal dengan satu kancing baju yang lupa dimasukkan itu terhambat menuju kelasnya.

"Cuma orang dungu yang mau desak-desakan kayak gitu," ujar Satya sembari melanjutkan jalan sebab semakin banyak siswa yang berdatangan, tentunya didominasi siswa ber co-card bertuliskan Tim Redaksi Bakti Nusa, maka mengharuskan ia menyela diantara mereka. Desakan dari belakang juga depan membuat tubuhnya terhimpit dan susah digerakkan, siwa itu mengerang kesakitan ketika kakinya kembali terinjak oleh seseorang yang berada di depan.

"Sss-sialan!" 

Setelah balas menginjak kaki tersangka, pemuda itu memasang kuda-kuda membuat sedikit longgar buatnya lewat, dengan berbekal menggunakan tenaga ia berhasil menyingkirkan orang-orang dari jalan, kerumunan yang didominasi oleh siswi itu pun menjauh dengan sendirinya ketika menyadari kehadian cowok tengil di antara mereka. Tanpa sengaja menyenggol punggung salah seorang gadis, barulah dia mendapat cubitan pada pinggang.

"Satya tolol! Ngapain lo di sini, mau ambil kesempatan dalam kesempitan, ya?" Salah satu dari mereka angkat suara.

"Najis. Emang sempit jalannya! Gue cuma mau lewat, lagian kalian ngehalangi jalan tahu gak!" Puas dengan kalimatnya, pemuda itu cepat-cepat mengambil seribu langkah dari sana, mengabaikan tatapan marah dari siswi yang telah dia tarik kerah bajunya, mereka terus menatap tajam punggung Satya sampai akhirnya menghilang di tikungan.

BERTAUT [On Going]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang