Part 28
Malam panjang di pertengahan bulan Juni, berhasil membuat menggigil tetapi tidak sampai separah itu. Pukul setengah enam pagi, tepat ketika cahaya kuning keemasan masuk melalui cela jendela kamar jatuh tepat di mata seorang gadis yang tengah tertidur lelap. Merasa terusik, gadis itu perlahan membuka mata respon pertama tangannya bergerak menutupi wajah. Melupakan semalam korden tidak digesernya, alhasil kamarnya telah terang dengan bantuan dari cahaya matahari pagi.
Si gadis menghela napas agak panjang, dengan langkah gontai dia menjejajakan kakinya ke lantai ditujunya pintu kamar, setelah itu menyambar handuk merah yang tergantung pada sisi satunya. Hari ini minggu, gadis itu hanya akan menyibukan dirinya di dalam kamar sambil menyetel lagu kencang-kencang ditemani segelas susu coklat hangat dan cemilan seringkali menjadi rutinitas di akhir pekan.
Seusai berkemas, gadis itu mendatangi meja makan hendak sarapan. Tetapi sebelum sampai ke arah dapur, langkahnya terhenti sebab melihat pintu gudang terbuka dan menampilkan Bi Lilis sibuk mengeluarkan barang-barang dari sana.
"Ngapain?" tanya Anya, ia mendekati Bi Lilis sambil sibuk mengacak rambutnya yang masih basah menggunakan handuk.
Bi Lilis menolehkan kepala, " Ini, Non, saya disuruh Nyonya buat beres-beres gudang, katanya ada beberapa barang yang harus udah dibuang," jawab Bi Lilis yang tampak sibuk mengangkat dan menurunkan puluhan kardus.
Anya lantas jongkok, dibukanya kardus dengan tali warna merah. Anya mulai mengacak-acak isinya, ada beberapa baju sewaktu Mama waktu muda, semua didominasi oleh warna merah muda. Sampai tumpukan paling akhir pun hanya berisi baju, selanjutnya dia mengarah ke kardus di sebelah. Ternyata, kardus itu berisi barang-barang mainannya sewaktu kecil.
"Ini jangan dibuang!" Anya berseru seketika Bi Lilis mengalihkan pandang.
"Enggak dong, Non, itu kan mainan, Non, sewaktu masih kecil. Banyak kenangannya," kata Bi Lilis. Perempuan yang telah mengabdikan seperempat umurnya dengan keluarga Anya itu pun meraih mainan dari kardus itu.
"Yang ini misalnya, dulu waktu pertama kali Non bisa manggil Mama, Nyonya langsung belikan hadiah karena sangking senangnya. Nih, masih bisa diputar." Tuas mainan itu ditarik Bi Lilis sampai berbunyi dan mengeluarkan warna kelap-kelip.
Anya tertawa menyaksikan Bi Lilis mengayun-ayunkan kepala seiring lagu yang keluar dari mainan itu.
"Kalau yang ini?" Anya menyeret boneka beruang bermata satu.
Bi Lilis meraih boneka itu. "Oh, ini tuh ... apa, ya, saya lupa. Sebentar ... ah, iya ini boneka ulang tahun Non yang ketiga. Waktu itu Nyonya udah jarang di rumah, sibuk ngantor sini-sana terus cuma bisa nitip hadiah ini ke bibi, eh, pas Non buka, langsung ditarik dan matanya hilang satu deh," cetus Bi Lilis sambil berlagak seperti pendongeng. Anya hanya diam dan memperhatikan, didekapnya boneka itu amat sayang.
"Tapi, sekalipun begitu boneka itu tetep Non bawa ke mana-mana bahkan kalau bukan Nyonya yang suruh buah di simpan, Non pasti bakal terus bawa itu sampai ke sekolah." Tuntas dengan ceritanya, Bi Lilis lanjut membenahi area rak yang tinggi.
Sementara itu, Anya yang tidak juga mau pergi dari tempat itu kembali mengedarkan pandangannya dan berhenti pada sebuah kotak coklat usang. Dengan langkah pasti, gadis itu menghampiri.
"Bi, kenapa ini gak bisa dibuka?" tanya Anya, diangkatnya benda itu agar Bi Lilis dapat melihatnya.
"Ada kuncinya itu, Non," jawab Bi Lilis.
Anya mengernyitkan dahi, memandang kotak coklat di tangan dengan disuguhi rasa penasaran gadis itu menggerak-gerakan benda itu sampai isinya terdengar."Terus kuncinya mana?"
KAMU SEDANG MEMBACA
BERTAUT [On Going]
Teen Fiction🏆 Nominasi cerita favorite writing challenge lovRinz publisher 2022 🏆 #2 prosa April 2025 📍Start from 2021 Bermula dari sosok misterius di balik nama pena @gadisPuisi yang karyanya selama dua tahun berturut-turut berhasil menjadi buah bibir di se...
![BERTAUT [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/241879809-64-k910981.jpg)