🏆 Nominasi cerita favorite writing challenge lovRinz publisher 2022
🏆 #2 prosa April 2025
📍Start from 2021
Bermula dari sosok misterius di balik nama pena @gadisPuisi yang karyanya selama dua tahun berturut-turut berhasil menjadi buah bibir di se...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
BAB 5
Memeluk Rumpangku
Tidak lama setelah kejadian pembakaran buku, memang dasar perangainya keras kepala, Anya nekad mengelabuhi Ibunya dengan memberi sampul pada buku catatan yang baru dibeli kemarin malam dari buku biologi. Anya tersenyum kecut kala menatap buku itu. Seolah hal kemarin tidak cukup berkesan dalam memberi tamparan juga mematahkan riang wajah kepunyaannya.
"Selama apa yang gue mau belum terkabul, gue gak bakal mundur," ujar Anya berusaha menata hati dan pikirannya dengan menarik napas dalam-dalam, memasukkan buku itu ke dalam tas sekolah. Anya benar-benar menyeriuskan tekadnya, mengesampingkan segala tentang yang ia dapatkan.
Wanita itu tidak tahu seberapa gigih anak gadisnya itu, membuat karya agar rasa sakit juga sepi yang sudah lama menghuni ruang pikirnya mampu terbagi pada sesiapapun yang membaca adalah satu dari sekian banyak tujuan hidupnya.
Semesta seringkali bercanda, tapi kenapa saya malah mengeluarkan air mata bukannya tertawa?
Oceanna__
Usai unggahannya terkirim, Anya bangkit dari tempatnya berdiam lanjut berjalan. Anya tersenyum menatap pantulan dirinya di cermin, menekan-nekan pipinya kemudian terkekeh geli, selepas menautkan dasi pada seragam abu-abu diraihnya tas sekolah serta cardigan yang menggantung di dekat pintu lantas berjalan ke luar seraya menyampirkan tas coklat tanpa motif itu pada bahu kiri dan memakai cardigan dengan terburu.
Dengan tubuh mungilnya, Anya kesusahan menyeimbangkan jalan dengan langkah Hazel yang kelewat lebar menjadikan gadis itu berlarian kecil mengejar. Dalam perjalanan menuju kelasnya yang berada di ujung gedung dua, mereka seperti biasa mendapati kereumunan siswa di depan mading sekolah.
Hazel berbisik, "Konyol, Fauri keukuh banget ngaku-ngaku sebagai gadisPuisi." Anya membulatkan mata, sontak menolehkan kepala menatap manusia di sampingnya.
"Bisa aja memang dia 'kan? Kita gak tahu," balas Anya kemudian.
Hazel tidak tinggal diam, dia lanjut menerangkan. "Lagipula, mana ada yang bakal percaya. Dia selalu tidur setiap kali pelajaran sastra, seribu satu alasan kalau disuruh ngumpulin karya mingguan," ujarnya.
"Lo ngejudge orang seolah tahu semuanya tentang dia. Lo emaknya?"
Hazelpun menyeringai, tertawa miris mendengar penuturan Anya yang amat sadis dan mengikis, menggeleng perlahan, lalu setelahnya berdecak pinggang. Sepertinya dia salah memilih lawan bicara, menjadikan Anya sebagai patner gibah memang bukan pilihan yang baik, karena kamu bakal mendapatkan kalimat bercabik-cabik, pula mencekik dari gadis yang diketuai gemar mengoleksi buku-buku jadul karangan para penyair periode pujangga baru itu.
'Huh.'
"Maksud gue, kenapa baru sekarang? Setelah karya gadispuisi meledak dan ramai jadi sorotan semua penghuni gedung sekolah ini. Dugaannya pasti bakalan satu, popularitas."