"Kau? Aku?" Suck bergumam tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Wajah wanita berjubah hijau itu dengan wajahnya ibarat pinang dibelah dua, sangat mirip bahkan Suck hampir-hampir yakin bahwa dia sedang melihat bayangannya jika wanita di depannya itu tidak memiliki kulit sedikit lebih gelap darinya.
"Aku sudah sangat lama menantikan pertemuan ini setelah terpisah denganmu, kedua Elf itu pasti sangat merasa bersalah padamu hingga mereka benar-benar merawatmu layaknya putri mereka sendiri, walaupun kenyataannya mereka takkan pernah punya bayi sendiri bahkan jika mereka berusaha sekeras apapun." Sealter terdengar mengoceh di telinga Suck yang masih tidak bisa mempercayai siapapun saat ini.
"Aku tahu jalan pikiranmu, kau tidak percaya apapun yang kukatakan sebelum kau melihat apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu. Di masa kau dan aku saling bersama satu sama lain." Sealter ingin menyentuh Suck tapi gadis Endlos itu mengambil langkah mundur dengan cepat.
"Kau ... bagaimana aku bisa mempercayaimu! Kau bahkan dengan tega membunuh semua teman-temanku! Di mana Malena?! Kau apakan dia?!" tegas Suck setengah berteriak. Sealter menurunkan tangannya yang terulur dan menatap Suck dengan mengiba.
"Aku memang menculik anak-anak pilihan Schutz untuk proyeknya tapi aku tidak pernah membunuh siapapun apalagi siswa pilihan. Kau salah faham, itu orang lain yang melakukannya, seseorang yang selalu berada di dekat siswa-siswi itu selama mereka di Schutz. Seseorang yang hebat dalam berkamuflase agar orang-orang tak menyadari dia sehebat itu, seseorang yang juga datang dari masa lalu kau dan aku Suck, kita sangat terhubung dengannya," jelas Sealter.
"Masa lalu, masa lalu! Kau selalu mengatakan itu, tapi siapa yang akan mempercayai itu tanpa bukti?!"
"Jika kau mengijinkan, maukah kau menggengam tanganku untuk melihat masa lalu itu bersama-sama, Adikku?" Suck terlihat berperang batin saat Sealter mengulurkan tangannya untuk meraih tangan Suck. Dengan ragu gadis itu mengulurkan tangannya dan kedua tangan itu bersatu.
"Kumohon, sekali ini saja, mari yakinkan dirimu dengan kekuatanmu. Mari melihatnya bersama, walau kau mungkin melupakannya. Pejamkan matamu dan pikirkanlah! Dia akan datang Suck." Dan Suck memejamkan matanya dan mulai meringgis saat rasa sakit datang menyiksa otaknya.
"Selamat datang Suck, selamat datang di masa lalu kita yang kau lupakan."
Dia tempat lain di waktu bersamaan terlihat Grey sedang dipaksa berlutut di hadapan Frederik. Ayah Suck itu tertangkap saat akan menemui Suck di Schutz dan Nansen adalah pelakunya.
"Akhirnya kau tiba juga, Grey! Harusnya kau sembunyi yang baik jika berniat kabur dariku, karena aku tidak memiliki rasa iba sedikitpun pada pengkhianat," ucap Frederik sambil menatap Grey dari dekat tapi di luar dugaan, Grey membalas ucapan penghinaan Frederik dengan terpaan air liurnya. Percayalah bahwa kemampuan Suck meludah yang baik itu diturunkan dari ayahnya, Carlion Grey.
"Bahkan seujung jari pun aku tidak akan pernah mengiba rasa kasihan padamu, Frederik! Elf busuk yang sudah berulat hingga ke tulang-tulangnya. Jangan pernah bermimpi untuk itu bahkan dalam tidurmu! Aku datang untuk menemui putriku bukan kau!" ucap Grey tak gentar dan hujaman tamparan mendarat dengan sempurna di pipi ayah Suck itu.
"Dulu dan sekarang kau tetaplah manusia tak tahu sopan santun, Grey!" bentak Frederik.
"Dulu dan sekarang kau tetaplah mahluk menyedihkan, Frederik. Kau bahkan tidak pantas disebut manusia ataupun Elf, kau bukan bagian dari keduanya!" balas Grey membuat Frederik kehabisan kata-kata hingga salah seorang bawahannya datang dan membisikkan sesuatu yang membuat secercah senyum kepuasan terbit di wajah tampan raja Elves itu.
"Bawa dia masuk!" perintah Frederik dengan lantang.
"Bagaimana ini, Grey? Sepertinya kita kedatangan tamu lainnya?" ejek Frederik dan Grey terlihat kaget saat melihat Andrea dan Roof dibawa masuk ke ruangannya dengan posisi tangan terikat layaknya dirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
VALET✔
Fantasy(Fantasy) Suck yang dibesarkan di keluarga sederhana tak menginginkan hal lain selain bisa hidup tenang dengan keluarga kecilnya. Membantu ayahnya bertani, merawat kebun di pekarangan rumahnya dengan Sang ibu adalah satu-satunya impiannya. Suck tak...
