Suck berlari menaiki undakan tangga tapi kakinya tergelincir karena sepatu Suck tidak kuat untuk menahan langkahnya di anak tangga yang terbuat dari ubin khusus yang sangat licin. Suck gemetar mengingat apa yang baru saja dia lihat, kakinya tak bisa berdiri tapi derit pintu terbuka dan beberapa langkah kaki yang cepat mengarah padanya memaksa Suck untuk mencari tempat perlindungan terdekat, dan Suck melihat sebuah ruangan lain di tempat itu, sebuah ruangan yang cukup gelap, yang tanpa pikir panjang Suck masuki.
Napas ngos-ngosan Suck terdengar menggema di ruangan tertutup itu, Suck menempelkan tubuhnya di dinding dan meraih apapun yang bisa membantunya bertahan hidup jika sewaktu-waktu pintu itu terbuka dan orang-orang itu masuk menyerangnya.
"Mereka takkan masuk ke sini!" Suck hampir saja memukul dirinya sendiri saat jatuh ke lantai karena kaget dengan suara menggema di ruangan itu. Suck menatap sekelilingnya dengan tatapan nanar dan waspada.
"Aku di sini!" ucap suara itu lagi dan Suck melihat seseorang terkurung di sebuah penjara yang cukup terang dan bersih, bahkan itu tidak pantas disebut penjara karena fasilitasnya bak sebuah kamar. Suck mendekati orang itu dan begitu Suck menyibak tirai yang membatasi tempatnya dengan penjara itu, Suck dapat melihat orang itu berbentuk manusia berwujud pria dengan rambut hitam, mata biru pekat, tinggi dan putih. Dengan jubah hitamnya juga buku-buku dan beberapa benda aneh di mejanya, pria itu terlihat seperti seorang ilmuwan atau anak kimia, ntahlah ... yang jelas dia terlihat seperti orang setengah waras dan setengah gila.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Suck masih memegang kayu yang tadi dia pungut.
"Harusnya aku yang bertanya begitu, Nona," balas pria itu.
"Aku duluan bertanya, dalam kesopanan kau harus menjawab pertanyaanku duluan!" tegas Suck sambil mengacungkan kayunya. Pria itu tertawa sambil melipat buku yang baru dia baca, Suck dapat melihat itu buku yang sangat tebal dengan judul yang Suck tak bisa dia artikan hanya saja Suck melihat tulisan 'Jag är Valet' di sampulnya.
"Kau ingin membacanya?" tawarkan pria itu mengulurkan buku yang baru ia baca karena berpikir Suck ingin membacanya. Suck buru-buru menggeleng.
"Aku tidak tahu bahasa apa itu, tulisannya saja membuat otakku stroke, kau hanya perlu beritahu aku kau siapa dan ruangan apa yang di sebrang sana? Ruangan yang sangat terang itu!" ucap Suck menjaga jarak dari pria di hadapannya.
"Buku ini bahasa ...."
"Aku tidak tanya itu! Jawab saja apa yang aku tanyakan tanpa bertele-tele!" pekik Suck mengagetkan pria itu.
"Aku Tion, dan ruangan yang di depan sana adalah Valetium, sebuah ruangan untuk mencipta orang-orang pilihan, orang-orang yang akan menjadi boneka Ewigkeit selamanya," jelas Tion. Suck menggeleng dengan ekspresi tak percaya.
"Tidak mungkin, orang-orang pilihan? Lalu kenapa mereka berbuat sekejam itu?! Kenapa mereka melakukan itu pada siswa-siswi terpilih Schutz? Bukankah mereka adalah yang terbaik di antara yang terbaik, kenapa mereka diperlakukan seperti itu?!" tanya Suck setengah berteriak. Pria itu kembali duduk dan kembali membuka bukunya.
"Kau mendengarku?" desis Suck menahan amarah.
"Menjadi yang terbaik tidak selalu berakhir baik. Menjadi pilihan bisa membawamu pada sebuah kematian, itulah teori dari apapun itu yang kau saksikan di ruangan sana," jawab Tion tanpa minat. Suck menghela napas dengan kesal, wajahnya memerah dan tanpa Suck sadari, mata merahnya kian pekat dan perlahan menelan sedikit demi sedikit warna matanya yang lain, hanya tersisa sedikit lagi dari lensa warna biru.
"Kenapa kau sesantai itu? Orang-orang dengan kostum putih itu mengerikan, seluruh dunia harus tahu apa yang mereka perbuat! Seluruh Ewigkeit harus tau apa yang sudah diperbuat sekolah yang mereka puji-puji ini!" desak Suck sambil membanting buku yang Tion baca hingga terlempar ke sudut ruangan. Tion terlihat mengepa tangannya karena kesal.
KAMU SEDANG MEMBACA
VALET✔
Fantasía(Fantasy) Suck yang dibesarkan di keluarga sederhana tak menginginkan hal lain selain bisa hidup tenang dengan keluarga kecilnya. Membantu ayahnya bertani, merawat kebun di pekarangan rumahnya dengan Sang ibu adalah satu-satunya impiannya. Suck tak...
