Dunia. 11

16 14 3
                                        

=∆=∆=

Aku dan Dyta membuat tameng transparan besar disekitar area singgah kami. sementara Desi, Anna dan Rose menyiapkan sleeping bag dan membersihkan tanah disekitar.
Aku perlahan maju, mengira-ngira tempat pas untuk membuat tameng transparan yang sangat besar, agar persis berada di tengah-tengah. Sebelumnya aku hanya mampu membuat tameng dengan diameter paling besar kira-kira satu setengah meter, namun sekarang aku bahkan membutuhkan minimal empat kali lipatnya.

“Dyta, cepat kemari”

Sebenarnya, sejak pertama aku melawan monster di dunia kami kemarin-kemarin, aku sudah merasa heran dengan Dyta. Bukankah ia bisa membuat tameng yang sama sepertiku? Bukankah itu berarti ia juga memiliki kekuatan ajaib sepertiku? Tapi ketika kemarin kami bertemu Danau Es Sihir -Anna yang memberi nama danau itu, air di Danau tersebut sama sekali tidak bereaksi.

Malahan seakan menyeruak, membuat lubang dipermukaannya agar tak ada setetes pun air mengenai jari Dyta. Berbeda ketika Anna yang mencoba menyentuhnya, yang merupakan manusia biasa tanpa kekuatan. Danau itu hanya tidak menimbulkan gelombang sekecil apapun, bukan menjauhi jemari Anna yang menyentuhnya.

“Em, aku nggak bisa Ta”balas Dyta ragu. Aku benar-benar menurunkan tanganku yang mulanya sedang mengumpulkan energi untuk menembakkan tameng transparan.

“Sebenarnya, aku nggak punya kekuatan sihir apapun Ta”

“Tapi saat melawan monster kemarin, kamu yang membuat tameng itu bukan, Dyt?”Dyta menundukkan kepalanya, lalu menggeleng lemah.

Lalu, siapa?

“LETA DYTA SEMUA SUDAH OKE!!”Anna berteriak sembari melambaikan lengannya.

Mengabaikan topik kami barusan, akhirnya dengan terpaksa aku harus melakukan ini sendiri. Karena hanya aku yang melakukannya, maka energi yang terkuras mungkin lumayan. Karena selain memastikan tameng yang aku buat ini cukup besar, aku juga harus memastikan tameng ini mampu terus bertahan dengan terus mengalirkan energi dari tanganku.
Dengan kata lain, aku akan tetap duduk disini dan menjaga tameng itu sepanjang malam.

Sementara Dyta berlari pergi memberi tahu bahwa aku akan tetap disini menjaga tameng, aku mulai mengangkat tangan tinggi dan melonjakkan energi. Tameng transparan segera muncul membentuk setengah bola, melebar dari atas ke bawah dan menyelimuti area sekitar sesuai harapanku.
Perlak-perlik cahaya mulai berjatuhan, seperti bintang jatuh, dibagian dalam tameng. Indah, namun melelahkan karena aku harus tetap dalam posisi yang sama dan konsentrasi yang sama.

Beberapa saat kemudian Dyta, Mister Ha dan teman-teman yang lain mulai mendatangiku.

“Maaf Ta, kita tidak bisa membantu kamu membuat tameng juga”Rose yang meminta maaf. Aku tidak menoleh dan hanya tersenyum singkat dan mengangguk, lalu kembali terfokus.

“Itu tidak benar,”untuk yang satu ini, aku benar-benar menoleh. Dari sana nampak Mister Ha dengan gagahnya datang ke arahku.

“Maksud Mister?”Dyta unjuk tanya.

“Leta, turunkan tanganmu..”mataku sedikit terbuka lebar.

“Tapi Mister, tamengnya akan hancur jika aku melepaskan tanganku”Mister Ha hanya menghela nafas lalu mendekatiku dan menurunkan tanganku paksa. Tentu aku bersikeras menolak dan tetap mengacungkannya keatas. Namun Mister Ha adalah pria dewasa, kekuatannya jauh lebih besar dariku yang hanyalah gadis remaja kecil.

Tanganku sudah kembali tekulai, sedikit keram rasanya ketika kembali pada posisi semula setelah lama terangkat tadi. Kemudian aku menatap kagum ke arah tameng transparan di atas kami. Benar saja, tameng itu masih tetap kokoh!

LETATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang