"Pagi, Neng."
Saima pun menoleh, kemudian menatap satpam yang berjaga di gerbang keluar komplek.
"Pagi."
"Mau kemana, Neng?"
Saima mengangkat apa yang ia bawah sebelum menjawab, "Ada perlu."
Si bapak mengangguk paham. "Mau ke tukang fotokopian yang di depan itu, yha?"
Saima mengangguk.
"Hati-hati, Neng."
Meski tidak balas dengan senyum lebar juga sikap ramah yang sama, Saima tetap sekali lagi mengangguk kemudian pamit dengan cara yang sepantasnya.
Di antara langkah kakinya, Saima sesekali mengusap lengan. Well, jika saja ia tahu udara pagi ini akan sebegini dinginnya—ia mungkin akan mempertimbangkan untuk mengenakan pakaian yang lebih tebal dibandingkan dengan kaus tipis berwarna hitam tanpa lengan yang sekarang dikenakan.
Ini masih jam lima pagi kurang dan suasana sekitar belum seramai biasanya namun, sepertinya hari ini bukan hanya Saima saja yang butuh ke tempat fotokopian. Dimana di sana sudah ada yang mengantre, untungnya tidak banyak dan untungnya lagi sudah buka, sesuai jam yang tertera di brosur yang terpasang—jadi Saima tidak harus berpikir untuk putar balik lalu memilih memfotokopi nanti saja ketika mau berangkat sekolah.
Saima mengambil tempat dan bergabung bersama yang lain yang tengah mengantre.
"Saima?"
Saima tidak tahu akan menyebut hal ini apa. Kebetulan? Entahlah.
Mungkin.
Wirya berdiri di hadapannya dengan tangan menenteng hasil fotokopian, tidak lupa senyum ramah terulas di wajah. Sebelum benar-benar menyingkir, cowok itu sempat bertanya. Bukan pertanyaan sepertinya, justru malah terdengar seperti pernyataan.
"Butuh fotokopi juga."
Karena di belakangnya ada orang dan ini juga tinggal gilirannya, Saima tentu tidak bisa berdiri di tempat untuk waktu yang cukup lama. Ia maju dan tanpa banyak kata menyerahkan bahan yang hendak ia minta fotokopi pada si mas yang berjaga.
"Hei."
Lantas, Saima juga tidak tahu jika Wirya akan menunggunya selesai. Cowok itu berdiri tidak jauh dari tempatnya.
Saima berjalan mendekat.
"Kita ketemu lagi," kata Wirya, seperti gumaman tetapi masih bisa Saima dengar.
"Untungnya."
Saima mengernyit.
Wirya terkekeh, cowok itu menggeleng. "Abis fotokopi apa?"
"Tugas sekolah."
"Sama."
"Tugas sekolah?" Tanya Saima datar.
Entah apanya yang lucu tetapi Wirya berikutnya terkekeh kecil meski terlihat sungkan.
Benar-benar Wirya sekali.
"Tugas kuliah," ralat Wirya.
"Oke."
Lagi, Wirya terkekeh.
"Kenapa?"
"Kamu emang Saima." Wirya geleng-geleng, matanya yang sipit itu kian tenggelam saat cowok itu tersenyum.
Jangan kaget. Selain terkenal sebagai murid pintar dan taat aturan. Dulu, Wirya juga terkenal karena kesopanan juga tutur katanya yang lemnuh, bagaimana cara cowok itu yang terbiasa berbicara menggunakan aku-kamu bukan semata-mata karena ingin menarik perhatian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Game Over
Jugendliteratur"Let's play a game." Memiliki kekasih yang bucin mampus padanya membuat Saima Adara merasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari hubungannya, sekalipun melihat dari sudut mana saja seorang Jaendra Eka Maharga itu berbeda. Tidak hanya menawan dari...
