Game Over, 22

370 52 43
                                        

"Gue hamil."

Jangankan berekspresi layaknya orang yang seharusnya terkejut, Saima bahkan tidak terlihat terintimidasi. Cewek itu tetap tenang, datar dan diam meski nada suara yang Niken keluarkan sangat menusuk.

Niken tidak mau berpura-pura lagi.

"Gue hamil, Saima."

"..."

"Apa lo nggak mau tahu siapa ayah dari anak di perut gue?"

"Pentingnya?"

Niken pikir cewek itu sedang bicara dengan patung jika kali ini Saima juga tidak menjawab.

Tatapan Saima mengedar, memperhatikan koridor Rumah Sakit yang mulai terlihat ramai orang berlalu lalang. Tapi di satu sisi, nampak sedang menunggu.

"Gue terkadang bertanya-tanya."

"..."

"Untuk semua yang udah terjadi, bahkan gue selalu ngerasa lebih pantas dari pada lo, kenapa Jaendra tetap milih lo?"

"..."

Niken menarik sudut bibir. "Sebenarnya apa kelebihan yang nggak gue punya tapi lo punya?"

"Tahu diri."

Niken langsung bungkam.

Saima menoleh. "Tahu diri buat nggak merebut milik orang lain, apalagi merusak kebahagian orang lain."

"..."

"Benar?"

"I love Jaendra."

"Tahu."

"Lo nggak tahu!" Bentak Niken. "Lo nggak tahu gimana rasanya dipermainin sama harapan! Karena yang lo tahu cuma menerima dan menerima." Suara Niken mulai bergetar. "Lo, mana tahu rasanya berjuang?"

"..."

"Jadi lo mah enak."

Saima mengangguk. "Kalo gitu, apa lo juga tahu kalo orang yang hanya bisa menilai orang dari luar itu adalah orang yang ... bodoh?"

"..."

Saima meluruskan tatapan. Menatap Niken tepat dalam tatapan yang tetap tenang, berubah sedikit dingin saat ia melangkah maju membuat Niken spontan mundur.

"Lo nggak tahu," tambah Saima. "Lo perempuan. Gue perempuan. Nggak seharusnya perempuan merebut kebahagiaan perempuan lain, merebut milik perempuan lain."

"..."

"Jika, iya ... berarti, selain nggak berharga, lo juga sama sekali nggak bernilai?"

Saima melihat rahang Niken mengeras, tetapi cewek itu tidak melakukan apapun. Terlihat tidak berdaya.

"Apapun alasannya ..." Saima kembali melangkah maju, pun Niken mundur. "Nggak ada pembenaran buat apa yang udah lo perbuat."

"..."

"Jangan berharap gue bakal memaklumi, gue bukan orang seperti teman-teman lo." Saima melihat ke bawah dimana kedua tangan Niken yang terkepal kuat. "Apa yang lo lakukan salah, dan akan tetep kaya gitu."

Niken menunduk. "Fine."

Saima diam mengamati.

"Maaf."

Saima mengernyit, mungkin tidak menyangka Niken menyerah semudah ini.

Niken mendongak. "Gue nggak berharap lo maafin gue, tapi tolong maafin Jaendra."

"..."

"Ini mustahil, tapi tolong jangan putusin Jaendra, Saima."

***

Game Over Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang