Jaendra Eka Maharga: Babe, I'm sorry. Maaf, nggak jadi jemput.
Tidak ada yang salah dari pesan tersebut meski Saima membacanya lebih dari satu kali, tetapi kernyitan di dahinya belum juga kunjung menghilang.
Jaendra Eka Maharga: Jangan pesen grab, ya? Soalnya aku udah minta tolong sama Tendra buat anterin sekalian kalo kamu udah selesai pemotretan.
Saima mengantongi ponselnya setelah pesan dari Jaendra ia balas.
Omong-omong soal Tendra, pria itu sendiri adalah bos sekaligus orang yang sebelumnya merekrut Saima untuk menjadi salah satu model di agensi miliknya yang katanya masih kecil.
Meski Saima memiliki cita-cita untuk menjadi seorang model tetapi ia berniat untuk fokus dengan kuliahnya yang bahkan baru jalan beberapa bulan. Baik Tendra maupun Saima tidak saling mengenal. Makanya cukup mengherankan karena waktu itu di cafe, tiba-tiba pria itu datang menghampiri mejanya kemudian tanpa bertele-tele mengutarakan niatnya.
Melihat bagaimana Saima, jelas Tendra tidak langsung berhasil.
Saima bertanya mengapa Tendra memilih dirinya dan pria itu menjawab jika Tendra memang kebetulan melihatnya tetapi Tendra paling tahu bagaimana mencari calon yang akan menjadi anak didiknya yang tidak hanya modal bibit tetapi juga bebet dan bobot.
Tendra meninggalkan kartu namanya, berharap setelahnya Saima akan menghubungi pemuda itu tapi ternyata sebaliknya.
Belum berhasil.
Pertemuan berikutnya masih berada ditempat yang sama. Saima sendiri sudah menjadikan cafe itu tempat nongkrongnya berbeda dengan Tendra yang terlihat sengaja datang.
Saima menolak tanpa alasan apapun. Ia pikir Tendra tidak akan kembali datang karena setelah beberapa hari pria itu tidak lagi terlihat namun tepat di hari ke tujuh pria itu kembali datang. Kali ini tidak sendiri tetapi bersama Jaendra.
Well, Saima memang sudah bercerita mengenai Tendra pada Jaendra. Tapi untuk melihat kekasihnya bersama pria itu benar-benar tidak pernah ia perkirakan.
Jika Jaendra tetap tinggal bersama Saima, Tendra sendiri hanya seperti sekedar lewat menyapa dan sempat mengatakan pada Saima jika Tendra masih menunggu jikalau ia berubah pikiran—sebelum pergi.
"Dia bukan penipu, Babe."
"Siapa?"
"Orang yang tadi, yang katamu nawarin buat jadi model di agensinya."
"Seyakin itu?" Saima sendiri sebenarnya tidak berpikiran sampai ke sana.
Saima hanya ingin menolak, dan ia melakukannya.
Terlihat Jaendra tersenyum lega. "Aku sempet minta tolong sama kenalan aku buat cari tau latar belakangnya. Berhasil, begitu di cek. Bersih."
"Oh."
"Tapi gimana pun, keputusannya ada di kamu, Babe. Tapi kalo boleh aku kasih saran mending kamu pikir-pikir lagi. Toh, tadi Tendra bilang masih nunggu kamu, yang bisa diartikan sebenarnya dia nggak mau lepasin kamu gitu aja."
"Aku sibuk."
Benar, Saima ikut banyak organisasi yang tersedia di kampus. Itu juga yang menjadi alasan ia keberatan untuk menerima tawaran tersebut sekali pun sudah jelas Tendra sedang tidak menipunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Game Over
Teen Fiction"Let's play a game." Memiliki kekasih yang bucin mampus padanya membuat Saima Adara merasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari hubungannya, sekalipun melihat dari sudut mana saja seorang Jaendra Eka Maharga itu berbeda. Tidak hanya menawan dari...
