Game Over, 10

341 52 9
                                        

"Jae?"

Dan, ketika Saima kembali ke kamar tamu setelah sebelumnya keluar untuk pamit mandi di kamarnya, ia mendapati Jaendra sudah tertidur. Mungkin benar-benar lelah atau juga mengantuk karena efek obat yang ia berikan tadi sesudah sempat menyuruh Jaendra makan dulu.

Tanpa menimbulkan banyak suara yang memungkinkan mengganggu tidur Jaendra, Saima masuk dan menutup pintu pelan lalu melangkahkan kaki perlahan sebelum kemudian ia mendudukan diri di sisi ranjang.

Memperhatikan Jaendra yang posisi tidurnya ingin Saima benahi tetapi ia takut cowok itu akan terbangun. Sebagai gantinya, ia hanya membenahi selimut Jaendra yang melorot.

Saima menghela nafas.

Well, Saima mungkin tidak menunjukan sikap dan gelagat sebagaimana orang yang tengah khawatir. Sebab, wajahnya tetap tenang, seolah ia memang betul-betul tidak merasakan hal tersebut.

Tetapi, persetan. Saima sungguh khawatir.

Terlalu malah. Hingga sebelumnya Saima sempat membentak keras Jaendra karena pemuda itu tetap bersikeras untuk bercerita lebih dahulu, daripada mendengarkan permintaannya untuk makan bubur yang ia pesankan dan lekas meminum obat karena demam cowok itu cukup tinggi.

Saima tidak tahu sepenting apa isi dari alasan mengapa Jaendra kemarin malam bisa berakhir di hotel yang ingin diceritakan, sampai membuat Jaendra sengotot itu.

Tetapi, untungnya setelah melewatkan waktu yang cukup lama untuk perdebatan yang begitu alot karena baik Saima maupun Jaendra sama-sama tidak mau mengalah, pada akhirnya yang menyerah lebih dulu adalah Jaendra.

Meski selanjutnya, Saima dibuat heran dengan perkataan tiba-tiba yang Jaendra ajukan yang jelas out of the topic.

"Jangan tinggalin aku."

"..."

"Please, janji sama aku, Babe. Kalo ... you won't leave me. Apapun alasannya, apapun keadaannya."

Lalu, bunyi ponsel yang kehabisan baterai terdengar, membuyarkan lamunan Saima akan kejadian sebelumnya.

Menoleh, Saima pikir itu miliknya tetapi ternyata milik Jaendra yang diletakan di atas nakas samping ranjang. Ia pun mengambil benda pipih tersebut, berniat untuk men-carge-nya.

Namun, tunggu.

Ponsel yang layarnya dalam keadaaan menyala tersebut membuat salah fokus dengan deretan pop-up pesan yang muncul di sana.

Theo Aldera Atmadja:  I think, lo kayaknya main2 sama orang yang salah, Jaendra.

Yudha Prananda: gue bingung kenapa tadi malem nelepon lo.

Love: Iya, gak apa-apa kalo abang gak kuliah. Abang juga jangan pulang dulu ke rumah. Tunggu Saima mendingan, kasihan kalo abang pulang nanti Saima gak ada yang jagain. Lagi sakit, kan? Ntar kalo kenapa-napa, gak ada yang bisa bantu..

Niken Lourina: Jaendra, please? jangan marah...

Janu Dwi Maharga: pulang.

***

"Jadi pas di jalan pulang, aku dapet telepon dari Yudha, Babe." Jaendra mengawali cerita dengan duduk dan wajah yang menghadap cermin, lewat sana cowok itu bisa melihat bagaimana Saima yang tengah fokus membantu mengeringkan rambut basahnya dengan hairdryer—tetapi di saat yang sama, menyimak dengan baik.

Jaendra mendongak sekilas karena posisi Saima yang tengah berdiri. "Biasalah, abis mabuk. Teler dia."

"Kenapa kamu?"

Game Over Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang