Bab 36. Kencan

55.9K 7.1K 254
                                        

Hari ini adalah penutupan dies natalis yang berlangsung sampai malam nanti. Alara memilih untuk pergi pada malam hari karena suaminya tidak mengizinkannya pergi seorang diri apalagi saat hamil muda seperti ini.

Jadi, Adam sudah memutuskan untuk pergi bersama istrinya malam nanti disaat acara penutupan karena bagaimana pun dia juga harus hadir disana mengingat ketua prodi juga mengundang semua dosen untuk datang.

"Sayang, makan dulu!" seru Alara pada Ara yang saat ini sedang berada di ruang tengah.

"Bentar, Ma. Pr-ku dikit lagi selesai."

Alara tak menjawab apapun. Tak lama, Buk Ratih yang dipekerjakan suaminya datang padanya. "Nak, Ibu mau minta izin untuk cuti. Anak perempuan Ibu melahirkan."

"Wah, selamat Buk." Alara menjawab antusias. "Sebentar saya panggil Mas Adam ya, Buk?"

"Iya, Nak."

Alara beranjak untuk pergi ke kamarnya. Ia melihat suaminya yang baru saja selesai mandi dengan handuk melilit di pinggangnya. "Mas, Buk Ratih mau minta cuti. Katanya anaknya melahirkan."

Alis Adam terangkat sebelah. "Boleh." Ia beranjak ke lemari lalu mengambil amplop kecil dan memberikannya pada Alara. "Ini berikan untuk Buk Ratih. Bilang aja buat nambah biaya persalinan."

"Mas udah tau?"

Adam mengangguk lalu meraih celana pendek dalam lemari dan memakainya. Ia meletakkan handuk di atas kasur sebelum kembali mengambil baju kaos yang nyaman untuk dipakai. "Buk Ratih bilang sama Mas beberapa hari lalu. Anaknya mau lahiran jadi Mas siapin uang buat bantu persalinan atau apa-apa yang perlu."

Alara mengangguk kemudian berdiri sambil mengambil handuk suaminya yang diletakkan di atas kasur. Ia beranjak ke kamar mandi dan menggantung handuk di tempat yang tersedia sebelum keluar dan kembali menemui Buk Ratih.

"Buk, ini titipan dari Mas Adam."

"Ya Allah, Nak. Terima kasih banyak ya."

Alara tersenyum. "Iya Buk, sama-sama. Ibuk siap-siap aja. Biar saya bereskan sisanya."

Buk Ratih menggeleng pelan. "Nggak pa-pa, sebentar lagi juga selesai. Setelah itu saya pulang."

Alara tidak memaksa. Ia melirik jam yang sudah hampir menunjukkan pukul tiga sore. Dahinya mengernyit lalu menghampiri Ara yang sedang mengerjakan pr-nya.

"Ara, makan dulu. Sudah jam tiga dan perut kamu masih kosong."

"Nanggung, Ma." Ia menjawab sambil terus menulis tanpa melihat ibu tirinya.

Alara menghela napas pelan. Ia harus bersikap tegas karena jika terus seperti ini bukan tidak mungkin Ara akan kembali sakit dan diopname. Ia menutup buku Ara membuat gadis itu seketika melebarkan matanya.

"Lihat! Sudah jam tiga dan kamu belum makan."

Gadis kecil itu berdecak seketika. "Dikit lagi lho, Ma."

"Makan dulu! Setelahnya Mama janji nggak akan ganggu kamu."

Rasanya percuma berdebat dengan ibunya. Ara akhirnya mengangguk. "Iya, aku makan."

Dilihatnya gadis itu berjalan ke dapur lalu membuka piring yang memang sudah tertata disana sebelum membuka satu persatu mangkok kaca persegi yang berjumlah 4 biji berisi lauk pauk.

Alara hari ini hanya membantu Buk Ratih memasak karena Adam tidak ingin istrinya lelah sehingga tugas memasak sekarang diembankan kepada wanita paruh baya tersebut.

Sejenak Alara melirik tugas putrinya. Ia membuka buku milik Ara yang sebelumnya ia tutup. Pekerjaan rumah yang diberikan adalah soal matematika. Ia memeriksa ulang jawaban soal Ara dan untung saja semuanya benar. Kini Alara kembali meletakkan buku itu disana dan tidak merapikannya karena tahu bahwa gadis itu belum selesai mengerjakan soalnya.

Dear, Mr. DudaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang