***
Setelah tidur selama 2 jam, Keano serta Keenan bangun dan segera mandi, bersiap-siap untuk bersekolah. Walaupun mereka merasa sangat ngantuk, mereka tidak ingin bolos. Bahkan Keenan sempat-sempatnya tidur disepanjang perjalanan walaupun hanya 10 menit.
Keano dan Keenan tiba di sekolah dan langsung disambut oleh Jonah yang sedang bertugas.
Keano menepuk dahinya sendiri. Ia lupa bahwa ia belum mengabari Jonah untuk menggantikan jadwalnya. Untung saja Keenan pintar.
"Makasih Jon" ujar Keano sambil tersenyum. Mereka belum berbaikan sepenuhnya sejak kejadian kala itu.
Jonah hanya tersenyum lalu mengangguk. Keano dan Keenan pun berjalan ke kelas masing-masing. Dalam perjalanan di koridor, mereka sempat melewati kelas X IPS 2 dan bertukar pandang bersama Alea.
Alea yang biasanya menyapa Keano, kali ini hanya tersenyum sambil melambaikan tangannya.
Aneh, Keano tidak terbiasa dengan hal ini.
"Keanooo" panggil seorang perempuan dari belakang.
Dengan kompak, Keano dan Keenan berbalik. "Kenapa?" tanya Keano.
"Itu disana ada yang terlambat tapi lolos gak dihukum" jawabnya.
"Kok bisa?" tanya Keano sambil mengikuti langkah perempuan itu. Meninggalkan Keenan yang kemudian berjalan sendiri menuju kelasnya.
"Kan Jonah jaga gerbang depan, dia masuk lewat gerbang belakang" jelasnya.
"Gerbang belakang gak dikunci?" Keano kembali bertanya.
"Dia lompat"
Keano geleng-geleng kepala. Ada-ada saja tingkah murid sekolah ini.
"Ini orangnya" ucap perempuan itu sambil menunjuk ke arah seorang laki-laki.
"Noah lo ngapain sih?!" Keano menjewer telinga Noah sambil menyeret Noah ke arah Jonah di gerbang depan.
"Aduh wey, santai atuh!" omel Noah yang telinganya mulai memerah.
Jonah yang sudah melihat Keano dan Noah dari kejauhan, ikut geleng-geleng kepala sambil tertawa.
Noah kemudian menuliskan namanya pada buku keterlambatan, Noah gantenk <3. Noah kemudian segera berlari ke kelas setelah diusir oleh Keano dan Jonah.
Ketika Keano hendak berjalan ke kelas, Jonah bersuara. "Lo kenapa gak tugas hari ini?"
"Gak bisa tidur, gak mungkin sempat ke sekolah jam 6" jelas Keano.
"Muka lo masih muka bantal" balas Jonah sambil terkekeh. Keano menggosok matanya perlahan, lalu berkedip beberapa kali. Sama saja, matanya tetap terasa berat.
"Gue duluan ya" ujar Keano. Jonah mengangguk kemudian melanjutkan tugasnya, mencatat keterlambatan murid-murid sekolah ini.
Keano pun kembali melangkahkan kakinya menuju kelas XI IPA 2. Disana sudah ada guru Fisika yang menanti Keano.
"Cuci muka dulu No" ucap Milo dengan volume kecil.
Keano hanya tersenyum lalu menunjuk ke belakang Milo. Milo berbalik lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.
Keenan dengan pulasnya tertidur diatas meja. Lengkap dengan buku yang sudah ia atur untuk menutupi wajahnya. Untung saja ia duduk di barisan paling belakang.
"Keano!" teriak guru Fisika mereka. Merasa terpanggil, Keano pun menjawab. "Iya pak?"
"Oh, maaf. Maksud saya Keenan" balas guru mereka itu yang kini sudah berjalan menuju meja Keenan.
Milo selaku makhluk yang duduk didepan Keenan sudah berusaha menggoyang-goyangkan meja Keenan, tetapi Keenan sepertinya sangat lelah. Bergerak sedikitpun tidak.
"No, telepati buruan No" titah Noah berbisik ke Keano yang duduk didepannya. Keano mengerutkan kedua alisnya.
"Selamat pagi Keenan" ucap pak guru dengan kumis tebal tersebut. Keenan secara refleks terlompat dari bangkunya. Kedua matanya membulat.
"Selamat pagi pak"
Seisi kelas XI IPA 2 tersenyum menahan tawa. Keenan yang biasanya jadi anak teladan baru pertama kali ini tidur di dalam kelas, dan sialnya langsung tertangkap basah.
"Kamu ngantuk dengerin penjelasan saya?"
"Eng.. enggak pak. Maaf pak, saya janji gak bakal ngulangin lagi. Hukum aja saya pak" jawab Keenan menyerahkan diri. Ia sangat ketakutan karena ia tidak pernah terkena masalah selama bersekolah disini.
Pak guru yang dikenal dengan sapaan Pak Kumis itu seketika tertawa. "Bodoh, saya gak niat hukum malah minta dihukum. Yaudah sana bersihin toilet laki-laki"
Seisi kelas sudah tak mampu lagi menahan tawa dan kini Keenan sungguh menyesali perkataannya. Ia lebih menyesal mengatakan hal itu daripada tidur di kelas. Kalau tau akhirnya akan begini, lebih baik dia diam saja.
Keenan pasrah dan berjalan menuju ke toilet laki-laki. Toilet biasa saja membuatnya jijik, apalagi toilet laki-laki yang selalu terkenal jorok dan kotor.
Di kelas, Noah berkata kepada Keano. "Gara-gara lo sih No, gue suruh telepati kok lo malah diem aja. Lo jadi kembaran jahat banget gak ngebangunin Keenan"
Keano mengerutkan dahinya sekali lagi. Noah yang mengerti raut wajah Keano pun kembali menjelaskan. "Kan lo kembar. Anak kembar kan bisa telepati, lo gak tau??"
Keano serta Milo seketika menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Gue bukan dukun" jawab Keano singkat sambil tersenyum kecil.
"Denger dari mana lo, anak kembar bisa telepati?" tanya Milo yang sudah semangat ingin menghujat teman sebangkunya ini.
"Di internet banyak, gue kirain asli. Aku di PHP-in lagi dech" jawab Noah dengan nada yang sangat-sangat alay. Tanpa isyarat, Keano dan Milo dengan kompak mendiami Noah.
"Jangan-jangan kalian berdua yang bisa telepati?!" tanya Noah kembali.
Keano hanya menjawab dengan satu kata. "Terserah"
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Aleano
JugendliteraturIni tentang Alea dan Keano. Alea, gadis yang terkenal dengan sikap polos, ramah, dan periangnya. Dan Keano, ketua koordinator OSIS bidang keamanan yang terkenal galak, tegas dan cuek. [STARTED] June 21, 2020
