22. Fever

75 2 3
                                        

***

Jam menunjukkan pukul 6 pagi. Cahaya matahari telah menembus celah gorden dalam ruang kamar Keano dan Keenan, disertai dengan bunyi alarm dari handphone milik Keenan.

Keenan meraih handphone miliknya dan segera mematikan alarmnya.

"No, bangun" panggil Keenan sambil mengusap matanya sendiri.

"5 menit" jawab Keano, tetap dengan posisinya.

Daripada harus menunggu, Keenan pun meninggalkan Keano untuk mandi terlebih dahulu. Waktu berlalu, Keenan dengan tubuh yang sudah segar kembali membangunkan Keano.

"Keano, udah lewat 5 menit nih"

Keano tidak menggubris perkataan Keenan.

"Wey, bangun No" Keenan sekali lagi membangunkan Keano. Setelah selesai memasangkan dasinya di depan cermin, ia kembali mendatangi Keano.

"Heh bangun! Lo kan jadwal jaga gerbang hari ini" ucap Keenan sambil menepuk pipi Keano. Hangat.

"Keano, lo sakit?" tanya Keenan. Keenan kembali meletakkan tangannya ke dahi Keano. Sangat panas.

"Gue izinin sekolah, mau?" Keenan kembali bertanya namun tak kunjung mendapatkan jawaban.

Keenan pun berjalan keluar kamar dan mengetuk pintu kamar kedua orangtuanya.

"Ma, Pa, Keano demam tuh"

Mama Keenan, Natalia segera membuka pintu dengan wajah yang penuh kekhawatiran. Wajahnya dipoles natural, lengkap dengan pakaiannya yang rapi.

Natalia segera melangkah menuju kamar Keano dan Keenan. Karena Keano berada diranjang atas, Natalia mau tidak mau harus memanjat tangga. Ia duduk di pinggir kasur lalu memegang dahi Keano.

"Kamu mau mama bawa ke dokter, Ken?" tanya Natalia dengan nada lembut.

Keano tidak menjawab, tetapi ia menggelengkan kepalanya. Melihat itu, Natalia dan Richard saling bertukar pandang.

Richard, ayah Keano dan Keenan, juga kebingungan harus bagaimana. Ia dan Natalia harus menghadiri sebuah meeting penting dalam 1 jam. Tidak akan sempat untuk membawa Keano ke dokter.

Tiba-tiba Keano bersuara, "Keano istirahat aja, gak usah ke dokter".

Dengan terpaksa, Natalia menarik nafas panjang lalu menyelimuti tubuh anaknya itu. "Nanti mama selesai meeting baru mama jagain kamu ya, istirahat aja dulu." ucapnya.

"Kalau butuh apa-apa, langsung telepon papa aja" lanjut Richard.

Keano hanya membalas dengan sebuah anggukan, bahkan sedaritadi ia belum membuka kedua matanya.

Keenan, Natalia, dan Richard pun meninggalkan Keano sendirian. Keenan harus ke sekolah, sedangkan Natalia dan Richard harus mengurus pekerjaan mereka.

Sejujurnya, Keano tidak merasa baik-baik saja. Badannya terasa sangat panas, dan ia tidak mempunyai energi untuk bergerak sedikitpun.

Keano memutuskan untuk kembali tidur. Ia yakin yang ia butuhkan saat ini hanyalah istirahat yang cukup dan dalam hitungan jam, ia akan kembali sehat.

Beberapa jam tertidur, kini jam menunjukkan pukul 10 pagi. Keano terbangun dan ia merasa energinya sudah cukup terisi. Ia pun memutuskan untuk berjalan ke dapur, sekadar mengisi perut.

Di atas meja makan, tersedia sepiring nasi kuning dengan sebuah ayam dan telur. Makanan yang biasanya ia sukai, tetapi kali ini sepertinya ia tidak tertarik.

Walau begitu, ia tetap memasukkan sesuap nasi kuning ke dalam mulutnya. Baru berhasil menelan satu sendok makanan, ia merasa mual.

Keano segera berjalan menuju wastafel dan bersamaan dengan itu, ia memuntahkan semua isi perutnya dari makanan semalam.

Tepat waktu, Natalia pulang, sedangkan Richard masih berada di kantor karena masih harus menghadiri meeting lainnya.

Natalia yang panik segera menghampiri anaknya itu dan memberikan segelas air pada Keano.

Ia membilas mulutnya dengan air bersih lalu meminum air yang diberikan Natalia. Setelah muntah, ia kehilangan nafsu makannya.

"Kamu kenapa, Ken?" tanya Natalia.

Keano tidak menghiraukan pertanyaan mamanya dan kembali berjalan menuju kamar sambil memegang kepalanya. Setelah perutnya bertingkah, kini giliran kepalanya yang mengambil alih.

Ia masuk ke kamar dan segera menutupi seluruh badannya dengan selimut. Ia bahkan mengambil selimut milik Keenan, satu selimut tak cukup baginya. Tubuhnya serasa ditusuk dengan hawa dingin, ia menggigil.

Melihat hal itu, Natalia dengan lincahnya mengambil salah satu jaket milik Keano lalu menyalakan mesin mobil.

"Keano, jangan tidur dulu. Mama bawa ke dokter sekarang" panggilnya.

"Keano gak papa mah, bentar lagi sembuh"

"Iya, tapi mama tetap bawa kamu ke dokter, biar bisa dikasih obat nak" bujuk Natalia.

Keano pun pasrah. Natalia membantu Keano duduk dan turun dari kasurnya. Keano segera memakai jaket miliknya lalu duduk dimobil.

Walaupun AC mobil tidak dinyalakan dan ia telah menggunakan jaket, Keano tetap saja merasa kedinginan. Melihat hal itu, Natalia semakin khawatir. Ia tidak mau anak kesayangannya itu kenapa-napa.

Setelah menyetir selama kurang lebih 10 menit, kini mereka berdua tiba di tempat praktek milik dokter langganan mereka. Untunglah hari masih cukup pagi sehingga belum terlalu banyak antrian.

***

AleanoTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang