Tadinya mau up sore, tapi ada halangan:v sekarang juga masih sore kan?
Sore menjelang malam, nghehehe
Rayana melayangkan tatapan mautnya pada Reyyan. Sungguh, Rayana tidak rela melihat Natha memeluk Reyyan, seharusnya ia yang mendapatkan pelukan dari Natha. Nathan juga merasa demikian, seandainya otaknya lebih cerdas agar terpikirkan membayar belanjaan Natha, mungkin saat ini ia sudah memeluk tubuh mungil jodohnya itu.
Albara menatap datar pemandangan dihadapannya. Ia merasa kehilangan, saat Natha melepaskan genggaman pada tangannya. Bara segera memisahkan Natha dari Reyyan. Tatapannya melembut saat Natha menoleh padannya.
"Bara, kenapa lo pisahin gue sama Reyyan? Reyyan kan udah baik mau bayarin hoodie gue." Ucap Natha sambil cemberut.
"Lo gak boleh meluk orang sembarangan Nath, apalagi ditempat umum kaya gini."Jelas Bara.
"Tapi tadi gue meluk lo." Alis Natha terangkat sejenak.
Bara mengacak pelan rambut Natha. "Itu pengecualian." Ucap Bara sambil tersenyum.
"Lo gak bisa larang Natha seenaknya." Reyyan memprotes ucapan Bara. Ia bahkan belum membalas pelukan Natha, dengan seenak jidat, Bara memisahkannya. Padahal Reyyan sudah kehilangan uangnya. Berbeda dengan Reyyan, Nathan setuju dengan ucapan Bara. Jodohnya tidak boleh memeluk orang sembarangan. Yah, meskipun awalnya ia kesal, karena Natha memeluk Bara. Rayana sendiri juga tidak ambil pusing dengan tingkah Bara. Mungkin ia sudah sepenuhnya move on.
Bara tidak mempedulikan ucapan Reyyan. Bara kembali menggandeng Natha dengan tangan kanannya, tangan kirinya ia gunakan untuk membawa belanjaan Natha. Sedangkan Natha hanya mengikuti keinginan Bara.
"Kita kemana lagi nih? Gue males balik. Lagian besok sekolah libur." Ucap Nathan sambil memainkan ponselnya, melihat grup chat teman sengkleknya.
"Nath, bagi nomor lo." Lanjut Nathan kemudian menyodorkan ponselnya pada Natha.
"Lah iya, gue belom punya nomor adek gue. Nih, lo tulis nomor lo di hp gue dulu." Rayana juga ikut memberikan ponselnya Natha.
"Gak bisa gitu dong, kan gue duluan yang minta. Ngantri napa!" Ucap Nathan dengan ketus.
"Natha adek gue! Jadi gue dulu yang dapet nomor ponselnya." Sewot Rayana.
"Lo semua bodoh." Ucap Bara pedas dan berhasil membuat Nathan dan Rayana terdiam.
"BHAHAHAHA, KASIAN, dibilang bodoh sama ketua kelas." Celetuk Reyyan yang sedari tadi diam.
Kedua mata Rayana dan Nathan melebar mendengar Tawa Reyyan. Natha juga sebenarnya ingin tertawa, hanya saja ia tahan.
"Heh kembaran gada otak! Emang lo ngerti maksud si kulkas apa?" Ketus Rayana.
"Ya ngerti lah. Gue gak bodoh kek lu pada." Ucapnya angkuh, bagaimanapun juga. Ia adalah wakil ketua kelas, sedikit banyaknya, ia mengerti perkataan Bara.
"Terus?" Tanya Nathan.
Reyyan menghentikan tawanya sejenak. Lalu menatap Rayana dan Nathan.
"Gini loh, maksud Bara tuh. Kalian tinggal ngetik aja nomor Natha. Nah, tar si Natha ngasih tau nomornya. Paham ga?" Jelas Reyyan.
Nathan dan Rayana ber oh ria setelah mendengar penjelasan Reyyan. Kali ini mereka mengakui bahwa mereka sedikit bodoh. Sedikit, hanya sedikit.
Natha hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan para tokoh utama. Mereka ternyata tidak sesempurna yang di deskripsikan author.
"Nih nomor gue, kalian cepet ngetik ya. 08x xxx xxx xxx." Natha segera mengucapkan dua belas angka yang selalu diingatnya.
(Maaf banget kalo sebelumnya gue pake nomor yg ternyata masih aktif. Padahal gue ngarang.)
KAMU SEDANG MEMBACA
EXTRA CHARACTER [END]
خيال (فانتازيا)TRANSMIGRASI STORY #1 TYPO BERTEBARAN REVISI PAS ADA MOOD😌 TETEP VOTE KALOPUN NI STORY DAH END Story ini lumayan cringe+ dibuat pas gue gabut. Jadi kalo ada yg ga masuk akal atau ga nyambung, ya maap:( Jangan ngarep banyak sama ni story. Isinya amb...
![EXTRA CHARACTER [END]](https://img.wattpad.com/cover/288711466-64-k887965.jpg)