07

24.8K 3K 60
                                        

Di part ini, sistemnya pensiun dulu

Natha memasuki kelas yang betuliskan XI IPS 3 didepan pintunya. Kelas sudah agak ramai karena Natha sampai di sekolah pukul 07.00. Tentu Natha sengaja, ia berharap melihat adegan Nathan yang kecelakaan. Namun hal itu tidak terjadi.

Kelas yang berisi 23 orang itu menjadi hening setelah Natha membuka pintu. Natha tersenyum canggung, ia masuk kedalam kelas lalu berdiri di depan papan tulis.
"Halo, kenalin gue Anathaya Leonara Reinhard. Gue pindahan dari luar negeri, terus kata kepsek kemaren gue masuk kelas ini. Salam kenal." Ucap Natha diakhiri senyuman yang membuat orang terpana.

Eh itu yang kemaren sama Bara kan?

Iya njir, dia sekelas sama kita dong

Sama Bara juga ege!

Sama Rayana juga

Gilasih, menurut gue pasti bakal ada tontonan seru ini mah.

"Diem woi! Kalian bikin Anatha canggung. Nah Anatha, lo bisa duduk di sebelah gue. Sini, gausah malu-malu." Reyyan selaku ketua osis dan wakil ketua kelas XI IPS 3 mempersilahkan Natha duduk di sebelahnya. Kebetulan Reyyan duduk sendiri karena kembarannya Rayana, duduk disebelah Bara. Entah sudah berapa kali Bara mengusir Rayana agar pindah tempat duduk, namun Rayana selalu kembali duduk bersama Bara.

Natha berdehem singkat. "Panggil gue Natha, jangan Anatha. Gaenak di denger." Ucap Natha pada Reyyan.

"Oke Nath. Lo sendiri masih inget nama gue kan? Kalo belom, gue dengan senang hati memperkenalkan ulang diri gue."

"Gue gak setua itu buat cepet lupa kali, baru kemaren ketemu, yakali sekarang dah lupa." Natha berucap sinis pada Reyyan lalu di balas dengan suara tawa yang renyah.

Natha mengeluarkan buku dan alat tulisnya. Iya menatap Reyyan lalau bertanya. "Sekarang mapel apa? Terus gurunya siapa?"

"Jam pertama tuh mapel Indo, gurunya Pa Andi." Natha menganggukkan kepalanya lalu menuliskan mata pelajaran di buku tulisnya.

Kring, kring, kring.

Bel tanda pelajaran dimulaipun berbunyi. Seorang Pria muda berusia sekutar dua puluh lebih memasuki kelas dengan menenteng buku tebal bertuliskan 'BUKU PAKET BAHASA INDONESIA'. Pria itu diikuti empat oranng remaja, tiga diantaranya adalah laki-laki. Sedangkan yang satunya adalah perempuan. Pak Andi, guru bahasa indonesia dan keempat remaja itu memusatkan pandangannya pada sosok asing yang duduk di sebelah Reyyan.

"Kamu yang duduk di sebelas Reyyan. Murid baru?" Tanya Pak Andi

"Iya Pak, saya murid baru. Nama saya Anathaya tapi biasa dipanggil Natha. Mau dipanggil sayang juga boleh ko. Nghehehe" Natha menjawab Pak Andi dengan diakhiri cengiran.
Pak Andi yang mendengar itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Yasudah, semoga kamu betah disini. Sekarang kita akan belajar bahasa indonesia. Siapkan alat tulis kalian."

"Pak, kita gimana?" Ucap Vero, salah satu remaja yang mengikuti Pak Andi.

"Kalian telat, tapi karena saya sedang baik, jadi kalian duduk aja. Cepat, kita akan memulai pelajaran."

"Dari tadi kek pak, kita dah pegel nih."

"Protes terus! Sana duduk" Vero dan kawan-kawan berjalan menuju kusinya masing-masing, begitu juga dengan Rayana. Kegiatan belajar mengajarpun berlangsung.

Waktu sudah menunjukkan jam istirahat. Para siswa dan siswi SMA ANGKASA berhamburan keluar kelas lalu menyerbu kantin di tiap lantai. Natha sendiri segera membereskan alat tulisnya, lalu mengambil ponsel. Saat Natja sedang fokus dengan ponselnya. Suara perempuan tiba-tiba menyapanya.

"Natha, lo inget gue? Kita ke kantin bareng yu." Perempuan itu Rayana

"Oh hai, gue inget ko. Lo Rayana kan? Ayo aja sih, kita ngantin bareng." Rayana tersenyum senang lalu menggandeng Natha, tapi sebelum itu, langkahnya dihalangi oleh kembarannya.

"Natha temen sebangku gue, harusnya Natha ke kantin sama gue. Bukan sama lo." Reyyan memegang tangan kanan Natha.

"Gabisa gitu dong, Natha cewek. Cewek harus bareng sama sesama cewek juga. Makanya lo nyari temen sana, jangan rebut Natha dari gue." Gandengan dari Rayana sudah terlepas, namun tangan kirinya kini dipegang oleh Rayana.

"Natha sama gue!" Reyyan menarik tangan kanan Natha. Rayana yang melihat itu tidak mau kalah.

"Gabisa gitu dong, Natha sama gue." Rayana juga menarik tangan kiri Natha, dan terjadilah aksi tarik menarik antara Rayana, Natha dan Reyyan.

Kejadian itu tidak luput dari pandangan semua murid di kelas, begitu juga dari Albara dan kawan-kawan. Bara yang sedari tadi duduk, kini berdiri menuju Natha lalu melepaskan cekalan Rayana dan Reyyan.

"Natha sama gue, dan gue gak minta persetujuan kalian." Reyyan dan Rayana seketika melepaskan pegangan mereka pada tangan Natha. Mereka terkejut mendengar ucapan yang agak panjang dan membela Natha.

Berbeda dengan mereka, Albara segera membawa Natha menjauh dan melangkah menuju kantin. Rayana sadar lebih dulu bahwa Natha sudah tidak ada di dekatnya. Rayana segera berlari menyusul Natha dan Bara.

"Heh, apa-apaan nih. Lo ngapain maen tarik gue gitu aja?" Natha berusaha melepaskan pegangan Bara dari pinggangnya.

"Harusnya lo bersyukur bisa jalan bareng pentolan sekolah yang cakep kek gue." Bara berkata dengan PD nya.

"GAADA YANG NYURUH YAA! Lagian kan kemaren juga kita dah jalan bareng. Napa lo kepedean banget sih jadi orang, kek si Reyyan." Bara tidak membalas ucapan Natha. Ia melanjutkan langkahnya menuju kantin.

"Nathaa, tungguin gue." Teriak Rayana sambil berusaha meraup oksigen disekitar. Mendegar ada yang memanggilnya, Natha menghentikan langkahnya begitu juga dengan Bara.

"Lo ngapain lari-lari Ray?"

"Diem dulu, gue cape." Rayana menarik napas dengan cepat. Kemudian menarik tangan Natha dan membawanya berlari meninggalkan Bara yang mengepalkan tangannya.

Natha dan Rayana duduk sambil menunggu pesanan mereka.
"Lo ngapain ngajak gue lari coba? Cape banget anjir." Natha mengawali percakapan.

Rayana membuka tutup botol lalu meminumnya dengan rakus. "Sorry Nath, abisnya gue pen bareng sama lo, tapi si Baraanjing malah bawa lo." Rayana menggerutu sambil meminum air.

Natha menahan tawanya mendengar ucapan Rayana.
"Baraanjing Ray? Lo serius? Terus kemaren yang lo panggil sayang itu siapa? Telinga sama ingetan gue masih bagus deh keknya." Natha ingat jelas, kemarin di jam yang sama dia mendengar perempuan dihadapannya berteriak mengatakan 'sayang' pada Bara.

Raya menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dia malu mengingat itu. "Diem deh Nath, itu masa lalu, gausah lo ingetin lagi."

"BAHAHAHA, masa lalu lo bilang. Hahahaaha." Natha tertawa dengan keras sehingga menjadi pusat perhatian.

"Natha diem bangsat! Gue malu anjir." Rayana kembali memperingati Natha.

"Kok bisa sih, lo yang muja si Bara tiba-tiba ngatain dia?"
Natha berhenti tertawa, ia mulai serius sekarang.

Rayana menghela napasnya, kemudian mulai bercerita pada Natha. "Gue dapet ilham kemaren Tha, jadi mulai sekarang, gue gabakal ngejar Bara lagi."

"Ilham? Ilham gimana? Lo move one daru Bara terus ngejar Ilham, gitu?" Ucap Natha sambil mengangkat alisnya tanda bingung.

Rayana memutar malas kedua matanya. Ternyata gadis pendek dihadapannya ini bodoh.

"Sebenernya gue tuh mimpi, tapi gue percaya sama nih mimpi. Jadi tuh, di mimpi gue, gue liat Bara senyum puas gitu di depan mayat cewek, nah pas gue deketin mayat ceweknya. Itu gue Tha! Ihhh yaampun, gue ngeri banget Tha, makanya gue mau move on dari si Baraanjing. Daripada gue dibunuh ntar. Ya gak? Jelas Rayana pada Natha.

Natha terdiam setelah Rayana bercerita. Bagaimana bisa, seorang tokoh novel ini mendapatkan mimpi yang menjelaskan keadaannya di masa depan? Apakah alur novel Love Story sudah mulai kacau? Atau sangat kacau?

................................................................

Finally part selanjutnya meluncur👏🏼
Tandain yang typo ya gaiss, ntar di revisi.
Janlup vote n comment
Thank u💙

EXTRA CHARACTER [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang