Perlahan, mata yang awalnya tertutup begitu rapat itu terbuka, sesuai dengan pintu kamar yang terbuka lebar, menampakkan seorang wanita dengan baju pelayannya yang nampak begitu terkejut.
"Nyonya!"
Asha tersentak, ia menatap garang kepada wanita yang kini menunduk ketakutan karena tatapan Asha.
"M-maaf nyonya, seharusnya saya tidak berteriak seperti itu. Saya mohon jangan pecat saya!" Wanita yang diketahui bernama Rossa itu langsung bersujud, membuat Asha terkejut.
"Eh, jangan bersujud, aku bukan tuhan yang harus kau sembah!" Panik Asha, ia turun dari kasurnya, namun saat hendak melangkah ia langsung terjatuh. Tolong! Kenapa kakinya sakit sekali seperti ditimpa Thanos?
"Nyonya masih sakit, jangan banyak bergerak!" Rossa membantu Asha duduk di pinggir kasur, lalu meminta kepada Asha agar menunggu sebentar.
Sedangkan Asha, gadis itu terlihat kebingungan.
Tempat yang dilihatnya ini begitu asing.. interiornya pun cukup mewah, sedangkan orang tuanya mana mau mengeluarkan uang yang banyak hanya untuk kamar mewah seperti ini.
Tunggu! Bajunya juga terlihat glamor! Baju tidur yang dipakainya juga cukup lembut, apakah itu terbuat dari sutra?
Asha terdiam, menatap rambut yang ada di genggamannya, rambut panjang dengan warna perak. Padahal kan, rambutnya sebahu dan juga berwarna coklat.
Setelah terdiam beberapa saat, Asha tau apa yang terjadi. Dengan segera ia berlari menuju cermin besar di pojok ruangan, walaupun harus tertatih-tatih.
Asha membelakakan matanya, ia memegang wajah yang sangat asing baginya.
Kulit putih mulus dengan mata berwarna ungu pucat juga rambut perak sepinggang, tatapan matanya yang tajam bisa membuat siapapun tertunduk ketakutan, lalu wajah tirus dengan bibir kecil berwarna pink nya, menjadi semakin mempesona.
*Brak!!
"Nyonya Daiva!"
Asha mematung, ia tahu siapa nama itu.
Karakter antagonis bernama Daiva Audelina. Istri dari pemeran male lead dalam cerita 'Love For Kanaya' yang akan mati karena jebakannya sendiri. Daiva awalnya tidak mencintai Gideon karena pernikahan mereka itu dibuat oleh kedua belah pihak orang tua mereka, dan juga mengacuhkan anaknya, Hazel. Namun pada saat Gideon pulang ke rumah setelah bepergian ke desa dengan Kanaya, Daiva merasa cemburu, akhirnya ia melakukan segala cara agar Gideon dan Kanaya terpisah, bahkan ia menyakiti darah dagingnya sendiri. Hingga pada akhirnya, ia meninggal karena jebakannya sendiri, alias senjata makan tuan.
Astaga, yang benar saja?! Itu cerita yang Asha baca semalaman sampai begadang karena keasikan, walaupun ia kesal karena Kanaya yang bisa dibilang lemah, tapi yasudahlah. Mau bagaimana lagi?
"R-rossa?" Ucap Asha ragu, memanggil salah satu pembantu dari rumahnya, Rossa.
Rossa mengangguk, disebelahnya terdapat dokter yang sepertinya akan memeriksa tubuh Daiva.
"Kau.. benar kan Rossa? Bukan setan jadi-jadian yang menyerupai Rossa?!" Asha mengguncang tubuh Rossa, membuat Rossa dan sang dokter disebelahnya kelabakan, bingung karena kelakuan Daiva yang berbeda.
"Aduh!" Asha memegang kakinya, ralat kaki Daiva yang sekarang mungkin menjadi miliknya. Sungguh, Daiva sebelumnya kenapa sih?!
"Ah nyonya, ayo duduk di kasur dulu. Biar dokter yang memeriksa," Rossa memapah Asha kembali, lalu setelahnya sang dokter memeriksa kondisi tubuh Daiva yang didalamnya terdapat jiwa Asha.
"Apa nyonya sempat berlari tadi?" Tanya sang dokter pada Asha, yang dibalas anggukan ragu. Tadi ia berlari menuju cermin, bukan?
"Nah, karena itu, cideranya menjadi parah kembali. Saya sarankan agar nyonya tidak berlarian, jangan lupa untuk selalu memakai kursi roda apabila hendak keluar. Saya akan mengobati kaki nyonya terlebih dahulu,"
Asha hanya terdiam dan sesekali meringis ketika kakinya diobati, setelah selesai, sang dokter langsung pergi, meninggalkan Rossa dan Asha di kamar tidur.
"Apa yang terjadi padaku sebelumnya?" Tanya Asha, membuat Rossa yang sedang membersihkan kamarnya berhenti, lalu menatap sang majikan.
"Nyonya kemarin lusa baru saja terjatuh dari tangga akibat mainan tuan muda yang ada di tangga." Asha menganggukkan kepalanya, tuan muda yang dimaksud adalah Hazel. Apabila tuan besar maka itu Gideon, lalu apabila nyonya besar berarti itu adalah Daiva.
"Rossa, duduk di sebelahku." Asha membuka suara, tangan kirinya menepuk-nepuk ujung kasur yang kosong, mengode agar Rossa duduk disitu.
"E-eh, saya?" Rossa panik, ia tau kebiasaan nyonya nya yang suka menghukum para pelayan.
Asha tau apa yang ada dipikiran Rossa. Ia menghela nafas lelah, dan tersenyum kecil. "Tenang saja, aku tidak akan menghukummu. Aku hanya ingin kau menceritakan semuanya kepadaku, mulai dari biodataku, kehidupanku, anakku, juga suamiku." Jelas Asha.
Rossa perlahan duduk disebelah Asha, ia menundukkan kepalanya.
"Angkat kepalamu. Disini, hanya ada aku dan Rossa sebagai teman, bukan sebagai majikan dan pelayan, paham?" Sedari dulu, Asha tidak suka apabila ada orang yang memandang rendah ke orang lain, semua derajat manusia itu sama di mata tuhan. Lantas, kenapa banyak orang-orang yang merendahkan orang lain dan seakan-akan ia berada di kasta yang paling tinggi dan benar?
"Baik. Tapi, kenapa nyonya bertanya pada saya? Apakah nyonya hilang ingatan?" Tanya Rossa, merasa aneh kepada majikannya hari ini.
"Eum.. mungkin?" Asha menjawab dengan ragu.
Rossa langsung berdiri, hendak memanggil dokter kembali, namun Asha langsung menariknya duduk.
"Tidak apa-apa, cukup ceritakan saja tentang diriku." Asha mengusap lengan Rossa.
"Nama nyonya itu, Daiva Audelina dengan marga Vector dari tuan Gideon, umur nyonya masih dua puluh empat tahun. Dan nyonya dinikahkan dengan tuan Gideon karena perjodohan, lalu Hazel lahir karena ketidak sengajaan pada saat tuan Gideon mabuk. Tuan Gideon saat ini tengah sibuk bekerja di luar kota, juga Hazel saat ini sedang bermain di taman belakang. Mungkin.. hanya segitu nyonya?"
Asha menganggukkan kepalanya mantap, lalu tersenyum kearah Rossa, membuat Rossa terpesona dengan senyuman Asha yang berada di tubuh Daiva. Biasanya, Daiva hanya menunjukkan senyuman miringnya, dan senang membentak orang.
"Terima kasih, Rossa. Dan um.. bisa tolong antarkan aku menuju Hazel?"
Rossa terkejut, tidak biasanya Daiva akan mengunjungi Hazel, karena mereka akan bertemu beberapa kali, dan itupun ketika ia menghukum Hazel.
Tapi, mau bagaimanapun, ia harus menuruti ucapan sang majikan.
"Baik, nyonya. Saya ambil kursi roda dahulu ya," Rossa membungkuk lalu pergi keluar dari kamar milik Daiva.
Sedangkan Asha, gadis itu merenung. Ia terlalu positif thinking sampai-sampai beranggapan bahwa ia sekarang tengah mimpi.
"Mungkin saja aku sedang koma pasca kecelakaan, dan sekarang aku sedang berada di alam mimpi. Ya! Ini mimpi," Ucapnya meyakinkan diri.
Sebelum ia terbangun, biarkan dia bermain dengan anak Daiva, Hazel si lelaki mungil yang imut.
Tak lama, Rossa datang dengan membawa kursi roda, lalu Daiva mendudukkan bokongnya di kursi roda tersebut.
"Baik nyonya, ayo kita pergi ke tuan muda."
TBC.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANTAGONIST WIFE
FantasyFOLLOW SEBELUM MEMBACA UNTUK INFO TTG CERITAKU^^! [Hyewonwibu Fantasy stories series #1] Asha harus kehilangan nyawanya pada saat tepat sehari setelah ulang tahunnya yang ke-22 tahun. Ia harus meninggalkan keluarganya, teman-temannya, bahkan kucing...
