Hello, welcome back sayang sayang ku.
Kangen tidak? Harus kangen! Saya maksa. Becanda.
Bosenin ga ceritanya? Saya harap tidak ya.
Mungkin satu minggu kedepan saya tidak up dikarenakan sudah PAS.
Baik yang udah mulai atau masih beberapa hari lagi, SEMANGAT!!!!
Note: Kalau ada bahasa asing dan tidak ada translate-nya tolong bilang yaa. Mungkin kelewatan jadi lupa translate. Makasih...
*****
HAPPY READING SAYANG
*****
Jangan lupa vote kalau bisa komen juga.
Karena semangat Bubu ada disitu.“Finally.” Caca menghempaskan tubuhnya ke sofa panjang.
Revaya menggeleng melihat kelakuan orang yang diperintah langsung oleh Bos-nya. Nemu darimana Tuan Dalbert orang seperti Caca? pertanyaan itu sekilas masuk dalam pikirannya, “Tapi sukses kan?” ujarnya.
Caca duduk, “Iya lah kalau ga berhasil, tamat riwayat Quin. Beliau kalau marah nyeremin,”
“Bener untuk saja ada pawangnya. Kalau menurut Kakak sih lebih ke tegas.” Caca mendongak menatap sekretaris Daddy-nya. Ia menjadi curiga dengan senyuman Revaya.
“Jangan bilang kau suka sama beliau?” Revaya mengangguk membenarkan pertanyaan Caca.
“Tuan Dalbert sama seperti Ayah. Bedanya Tuan Dalbert setia sedangkan Ayah tidak,”
“Sini, Rev.” Caca menyuruh Revaya duduk disebelahnya.
“Cerita aja, Kak. Quin tau Kakak butuh pendengar.”
Mengalir lah sebuah cerita dari mulut Revaya. Sedangkan Caca menyimak dengan seksama. Sesekali menepuk bahu gadis berusia 25 tahun untuk sekadar memberi kehangatan.
“Mau ketemu Mama?”
“Mau tapi ga bisa, Quin. Ayah melarang ku bahkan aku ga tau dimana Mama tinggal,”
“Ya udah kalau gitu biar Quin yang bawa Kakak ketemu sama Mama.”
“Tubuh ku?”
“Yang mau ketemu Mama itu aku bukan kau jadi tubuh kau ga bakal dapat pukulan dari orang sialan itu.”
“Kan aku ga tau, Quin.”
Caca memutar bola matanya, “Hari ini Tuan Dalbert ada jadwal apa?”
“Tidak ada sampai beberapa hari kedepan,”
Caca paham kelakuan Dalbert maka ia akan mengambil kesempatan menculik sekretaris cantik disampingnya.
*****
“Mau jenguk siapa, Qu?”
“Bacot.”
Revaya tidak lagi banyak bertanya. Ia hanya mengikuti Quin disamping. Sampai memasuki ruangan membuat Revaya terkejut. Ia pikir Quin menjenguk orang yang anak itu kenal. Malah sebaliknya, dengan langkah lemas, ia menghampiri seseorang yang tertidur cantik di brankar meskipun sebagian wajahnya terhalang oleh infus.
“I-ini Mama?” tanya Revaya dengan suara bergetar.
“Jawab, Quin! Bilang kalau itu bukan Mama. Aku salah lihat kan?!”

KAMU SEDANG MEMBACA
SHEVALONICA [ON GOING]
Teen FictionMaaf ceritanya sempat di unpub karena sesuatu, dari awal part hingga beberapa part berikutnya mungkin ada kesamaan seperti cerita sebelum di unpub. Jika ada kesalahan kata bisa diingatkan atau kurang menarik bagi kalian mohon maaf sebesar-besarnya k...