Part 27

8 2 0
                                    

Hello everyone. Apa kabar? Baik dong, ya kan!

Gimana puasa tiga hari ini? Semoga lancar dan tidak ada halangan apapun. Untuk yang tidak puasa (non-muslim), jangan iseng kirim pap makanan, oke?

Jangan lupa promosikan cerita SHEVALONICA ke teman-teman kalian yang suka baca wattpad!

Makasih juga yang sudah mampir, luv banyak buat kalian <3


SUDAHI GALAU MU, MARI BACA SHEVALONICA BERSAMA KU.

Note: Kalau ada bahasa asing dan tidak ada translate-nya tolong bilang yaa. Mungkin kelewatan jadi lupa translate. Makasih...

*****

HAPPY READING AYANG

*****

Jangan lupa vote kalau bisa komen juga.
Karena semangat Bubu ada disitu.

Dania memberikan segelas es jeruk kepada Dini. Mereka berdua sudah satu meja dengan Sheva dan yang lain. Ia tadi langsung menyeret Dini pergi setelah merasakan hawa mencekam yang dikeluarkan hanya melalui Dini dan Elbrecht bertatapan.

Dania juga sempat melirik Elbrecht ikut meninggalkan meja sahabatnya, kemudian pergi entah kemana sembari menarik Lavina, kekasih Elbrecht sejak kejadian di kantin waktu itu.

"Kalian kenapa sih?" tanya salah satu teman mereka di kelas.

"Tanya aja sama Dini. Niatnya interogasi Bryan malah cari masalah sama El," Dania menjawab dengan sewot. Ia kesal bukan karena yang diucapkan. Tetapi, ia kesal karena tidak paham apa yang dibicarakan oleh keduanya.

"Besar juga nyali kau, Din." puji lelaki disebelah Sheva.

Sheva memukul kepala lelaki tersebut, "Itu bukan tindakan yang patut dipuji bodoh,"

Lelaki itu meringis kesakitan. Pukulan Sheva tak main-main. Rasanya seperti dipukul lelaki dewasa.

Dini ingin pergi menenangkan hatinya yang sedang panas, harus tertahan karena pergelangan tangannya dicekal oleh Sheva.

"Ceritakan dulu baru kau boleh pergi. Tidak kasian sama Dania? Lihat itu wajahnya, seperti baju kucel."

Dini melirik melalui ekor matanya, ternyata benar perempuan yang orang-orang bilang mereka kembar tengah memajukan bibir seperti sedang merajuk.

Dini menghela napas, menepuk kepala Dania pelan. Ia sering melakukan hal itu jika Dania marah padanya. "Tidak sekarang. Pulang sekolah ku traktir martabak kesukaan mu di tempat biasa."

Mendengar Dini akan mentraktir dirinya, Dania tersenyum lebar lalu memeluk Dini. Kebetulan sekali Dania sedang ingin memakan martabak manis. Ahhh peka sekali Dini.

"Cih hanya karena martabak pertahanan mu runtuh."

"Astaga, Sheva. Tega sekali kau mengatakan itu padaku. Tidak tahukah kau? Bahwa tanpa martabak aku tidak bisa hidup."

Sheva dan dua teman satu kelasnya membelalak tak percaya melihat Dania begitu dramatis. Dini hanya tersenyum saja melihat reaksi Sheva dan lainnya.

"Aku pergi dulu. Kalau aku tidak kembali bilang saja aku tidak enak badan. Jangan tinggalkan aku jika sudah jam pulang."

"Sheva, ingatkan itu pada Dania. Dia sangat pelupa."

"Hei, mana mungkin aku bisa lupa jika kau akan mentraktir ku martabak."

SHEVALONICA [ON GOING]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang