Halo semua... Aku kembali, yeeeyyyyyyy.
Liburnya sudah hampir satu minggu nih, kalian kemana aja selama liburan?
Pada di rumah kah? Kalau gitu sama. Ditemani series-series yang beberapa minggu kemarin tayang. Setelah dighosting lama sama G**TV.
Jaga kesehatan, jaga pola makan, tetap minum air putih yang banyak, jangan telat tidur. Mentang-mentang hari libur.
Sudahi galau mu, mari baca SHEVALONICA bersama ku. Anjayyyy.
Selamat menikmati alur yang belibet dan cukup memusingkan. Jangan sampai terbawa dikehidupan kalian.
Ah iya, jangan lupa promosikan cerita ini, SHEVALONICA ke teman-teman kalian. Supaya makin banyak yang baca dan makin tercapai target aku.
Note: Kalau ada bahasa asing dan tidak ada translate-nya tolong bilang yaa. Mungkin kelewatan jadi lupa translate. Makasih...
*****
HAPPY READING SAYANG
*****
Jangan lupa vote kalau bisa komen juga.
Karena semangat Bubu ada disitu.Disela-sela pembicaraan mereka, ponsel Dalbert bergetar. Ia mengusap layar keatas untuk mengangkat telepon.
"Caca dimana, Dad?"
"Tidur di rumah. Why?"
"Daddy dimana?"
"Meeting. Ada apa, Kenisha? Tidak biasanya kau menelfon Daddy,"
"Mommy?"
"Ke rumah sakit. Jagain Savina,"
"Terus kalau jaga Savi, kenapa bisa kecolongan?"
"Maksud kamu?"
"Ada yang ingin menyelakai putri mu, Dad."
Jantung Dalbert berdetak dua kali lebih cepat. Pikirannya membayangkan hal buruk yang akan menimpa putri sulungnya.
Almeta mengambil ponsel yang dijatuhkan Dalbert, "Hello? Saya percayakan kalian untuk mencari orang itu. Jika butuh bantuan hubungi, Tuan."
Telepon diputus oleh Ken. Jari lentik Almeta langsung bergerak lihai diatas keyboard. Dia melacak keberadaan Savina melalui Ken. "Bersenang-senang lah terlebih dahulu, L." batin Almeta mengukir senyum miring.
*****
Seorang perempuan datang dengan kedua lelaki satu tahun lebih tua darinya. Mereka menggunakan topeng masing-masing dengan warna berbeda.
Ketiganya melotot melihat sang líder berdiri membelakangi mereka menutupi pelaku suruhan. Mereka meneguk ludah saat líder membalikkan tubuh menghadap mereka.
"Terkejut?"
"Kami hanya tidak ingin menganggu waktu istirahat Anda, Miss."
"Dan, membuat saya menyesal disaat nyawa Nona Savina hendak melayang?"
"Sorry, we didn't mean it that way."
"Lupakan! Butuh pelampiasan?" Ketiganya hanya tersenyum sebagai jawaban.

KAMU SEDANG MEMBACA
SHEVALONICA [ON GOING]
Fiksi RemajaMaaf ceritanya sempat di unpub karena sesuatu, dari awal part hingga beberapa part berikutnya mungkin ada kesamaan seperti cerita sebelum di unpub. Jika ada kesalahan kata bisa diingatkan atau kurang menarik bagi kalian mohon maaf sebesar-besarnya k...