[M] Hinata membutuhkan uang, dan Sasuke membutuhkan anak.
Perekonomian yang tidak memungkinkan dan kondisi sang tunangan yang harus di operasi secepat mungkin membuat Hinata mau tidak mau memilih cara nekat yang sudah pasti dapat menjerat dirinya s...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
22. Hinata's Anger
"Bicara."
Suara rendah nan berat itu mendominasi, memecahkan keheningan malam diantara dua insan yang tengah duduk berhadapan di meja makan. Tatapan Sasuke begitu tajam menatap Hinata yang tengah menunduk dan terlihat enggan untuk menatapnya―lebih tepatnya perempuan itu mengabaikannya.
Sasuke tidak tahu apa yang salah, tiga hari ini Hinata mengabaikannya, tak ingin berbicara dengan Sasuke atau bahkan menatapnya. Perempuan itu benar-benar mengabaikan Sasuke.
Hinata tidak seperti biasanya yang ceria, sedikit cerewet dan manja pada Sasuke―Hinata hanya berbicara satu atau dua patah kata dan itupun jika perlu. Hinata akan mengurung dirinya di kamar dan tak membiarkan Sasuke masuk.
Demi Tuhan, Sasuke tidak tahu apa salahnya, dia merasa tidak berbuat kesalahan satupun hingga bisa membuat perempuan Hyuga itu melakukan aksi merajuk-nya.
Dia terus menatap perempuan bersurai hitam legan dihadapannya ini dengan dalam, Sasuke tidak suka di abaikan. Hinata sedikit menguras kesabarannya, tapi Sasuke harus bisa mengontrol emosinya―perempuan itu sedang hamil, dia sensitif, Sasuke tidak ingin menyakiti Hinata.
"Apa aku melakukan kesalahan?" tanya-nya pada Hinata yang masih melahap makan malamnya dengan tatapan yang terfokus ke piring itu seolah piring itu lebih menarik daripada Sasuke.
"Hinata."
Sasuke berseru lalu menghela nafas, lelah dengan tingkah Hinata. Perempuan itu pergi ke dapur untuk mencuci piringnya dan tak sedikitpun melirik Sasuke atau menjawab pertanyaan Sasuke.
Hinata kemudian melangkah hendak menaiki tangga untuk kembali ke kamar, namun saat dia melewati meja makan―Sasuke menahan pergelangan tangannya, menghentikan langkah Hinata. Lelaki jangkung itu berdiri menjulang dihadapannya menatap Hinata dengan tajam.
"Aku bukan peramal Hinata, katakan ada apa sebenarnya, mengapa kau mendiamkanku?"
Akhirnya Hinata mau menatap Sasuke, tatapan perempuan itu terlihat tajam dan kesal. Dia menghela nafas dengan berat―Sangat kentara bahwa perempuan itu sedang dalam mood yang tidak baik.
"Lepas," ucapnya dingin pada akhirnya, suaranya terdengar sedikit bergetar. Sasuke terkejut, ini kali pertama dia mendengar suara dingin Hinata seperti itu.
"Hinata―"
"Kubilang lepas!"
Hinata menghentakkan cekalan tangan Sasuke di pergelangan tangannya. Matanya berkaca-kaca dan nafasnya memburu kala menatap Sasuke―benar-benar membuat lelaki bersurai kelam itu terdiam.
Hinata berlalu dan melanjutkan langkahnya menuju tangga namun dengan cepat Sasuke mengejarnya, menarik lengan perempuan itu dengan kuat hingga membuat Hinata berbalik dan menubruk dada bidang Sasuke.