[24] Dinner

6.6K 914 53
                                        

24

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

24. Dinner

Hinata terbangun pagi hari karena rasa mual dan kram di perutnya. Jam masih menunjukkan pukul lima pagi kala itu. Perempuan bersurai hitam legan itu keluar dari kamar mandi sembari menghela nafas.

Ini menyiksa, terkadang Hinata kesulitan untuk sekedar tidur. Dia berdiri di depan cermin dan menatap pantulan dirinya dalam diam. Perut Hinata sudah benar-benar membuncit besar. Usia kandungannya tujuh bulan dan akan memasuki bulan ke delapan.

Tak terasa, usia kandungannya sudah sebesar ini. Padahal Hinata merasa seolah baru kemarin dia bertemu dengan Sasuke. Siapa menyangka waktu berlalu dengan begitu cepat. 

Sasuke membelikan Hinata beberapa dress ibu hamil simple yang terlihat lucu saat Hinata pakai. Lelaki itu perhatian, sangat perhatian. Menjaga Hinata dengan begitu hati-hati. Walaupun wataknya yang dingin dan cuek, terkadang lelaki itu akan bersikap begitu manis pada Hinata.

Menatap kembali ke cermin, Hinata merutuk diri sendiri sebab tanpa izin, debaran di dadanya tersulut berdentum kencang ketika mengingat sikap-sikap manis Sasuke padanya akhir-akhir ini. Ia tidak boleh terus-menerus membiarkan perasaannya mengambil alih tubuh. 

Sasuke akan bersikap seolah mereka benar-benar sepasang suami istri yang menunggu kelahiran anak mereka. Memang benar dia dan Sasuke adalah sepasang suami istri, tapi ingatlah bahwa itu semua hanya sebuah kontrak semata. Setelah anak itu lahir, Sasuke dan dirinya akan bercerai, Sasuke akan kembali pada Sakura dan Hinata akan kembali menjalani hidupnya seperti dulu. 

Hinata terdiam kala memikirkan bahwa nanti Sasuke yang akan membawa janin yang ia kandung, Sasuke yang akan membawa dan merawat bayi ini. Hinata tidak akan dibiarkan bertemu dengan anaknya sendiri. Sasuka akan mengklaim bayi itu sebagai miliknya bersama Sakura. 

Tiba-tiba perasaan cemas langsung membanjiri Hinata, memikirkan bahwa nantinya bayi ini akan dipisahkan bersama Hinata. Tidak! Hinata yang mengandung, Hinata yang rela menanggung semua kesulitan demi janin yang ia kandung ini. 

Bagaimana mungkin nantinya Pasangan lain yang akan mengakui bayi ini sebagai anak mereka, bukan miliknya. Nafasnya tercekat, dia menatap nanar dirinya di depan cermin.

Mereka sudah melakukan perjanjian, Hinata mendapat uang delapan ratus juta dari Sasuke dan Sasuke akan membawa janin yang Hinata lahirkan nanti―untuk dijadikan pewaris Uchiha selanjutnya. 

Tetapi, ibu mana yang rela dipisahkan dengan anaknya―Hinata mulai menyadari, bahwa dia tidak ingin berpisah dengan anaknya, bahwa dia ingin selalu bersamanya dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang. 

"Hinata."

Suara itu memecah lamunan Hinata, membuyarkan seluruh keresahan dibenaknya---Perempuan itu mengangkat pandang, menatap sosok Sasuke yang berdiri di ambang pintu melalui pantulan cermin dihadapannya.

"Mengapa bangun pagi sekali."

Sasuke melangkah menghampirinya, memeluk Hinata dari belakang. Tangan lelaki itu memberi elusan lembut dan penuh kasih sayang pada perut Hinata yang membuncit, membuat Hinata tanpa sadar memejamkan mata menikmati elusan itu.

Silence ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang