Renata masuk gedung kantornya berseri di Selasa pagi. Dia tiba tadi malam dan sudah cukup beristirahat.
Dia meletakkan paper bag berisi oleh-olehnya di meja Johan.
“Han, tolong ini dibagi ke teman-teman ya. Aku ke bos dulu,” ujarnya sambil berlalu.
Di tangannya ada paper bag berisi oleh-oleh untuk Andra dan Kevin dan ipadnya.
“Selamat pagi Pak!” sapanya. Ada seulas senyum tipis di bibirnya.
Diletakkannya oleh-olehnya di meja sofa. Ia bersiap membacakan jadwal Andra ketika pria itu mendekati paper bagnya dan mengeluarkan isinya.
“Pergi kemana aja kemarin?” tanyanya. Renata masih belum menyadari nada cemburu dalam suara Andra.
“Tidak kemana-mana. Cuma menghadiri gala dinner lalu mengunjungi Kaikote,” jawab Renata.
“Bagus?”
“Um, indah banget. Alamnya asri dan murni. Airnya jernih banget. Aku ambil banyak foto. Kapan-kapan aku kasih lihat.” Membicarakan fotografi satu-satunya yang bisa membuatnya bersemangat.
“Senang ya jalan-jalan sama orang kaya.”
Renata mengangkat wajahnya sekarang, menatap Andra. “Maksudmu apa?”
“Belum jelas? Dari wajahmu kelihatan kalau kamu bahagia banget setelah bertemu dia. Kenapa? Karena dia bisa mewujudkan segala keinginan kamu kan? Dia kaya! Lebih segalanya dari aku!”
Andra berdiri tepat di hadapan Renata. Dicengkeramnya rahang Renata hingga gadis itu meringis kesakitan. “Aku tidak menyangka kamu seperti ini!”
Renata berusaha membebaskan diri dari cengkeraman Andra. Tapi Andra lebih kuat. Apalagi ia sedang dikuasai amarah dan cemburu.
“Berapa kali dia peluk kamu hah?! Berapa kali?!” bentak Andra. Renata menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia sangat takut melihat Andra yang dikuasai amarah begini.
Sekonyong-konyong Andra menciumi bibir Renata dengan membabi buta. Antara terkejut dan ketakutan Renata berusaha melepaskan diri.
“Berapa kali dia cium kamu?!” Renata menangis. Dia berusaha membebaskan diri tapi tenaganya tak sebanding dengan Andra. “Apa karena dia lebih kaya kamu rela menyerahkan diri kamu?! Jawab Renata?! Kenapa semua ini kamu lakukan?! “
“Lepas!!” dengan sekuat tenaga Renata berusaha melepaskan diri. Akhirnya Andra melepaskannya. Renata menangis karena sakit, marah, takut dan kecewa. Dia mengusap bibirnya kasar berusaha menghapus jejak bibir Andra.
“Kenapa kamu lakukan ini Andra?!" katanya pelan diiringi tangisan. “Kenapa kamu lakukan ini? Aku tidak pernah melakukan yang kamu tuduhkan. Kenapa kamu lakukan ini?”
“Karena aku sayang sama kamu! Aku cinta..”
“Andra!” suara Kevin dan Ratih. Mereka ada di ambang pintu. Andra menyugar rambutnya kasar. Renata masih tersedu-sedu.
“Apa maksudnya ini Andra?” tanya Kevin. Ia memeluk Renata yang tampak kacau.
Ratih mendekati suaminya. “Jelaskan Andra! Jelaskan!” Ia mulai menangis. Andra diam, berdiri membelakangi mereka.
Ratih beralih kepada Renata, “ Jelaskan semua! Jelaskan jal*ng!”
“Ratih kamu tenang dulu. Kita dengar dulu penjelasan Andra sama Renata,” lerai Kevin.
Ratih tak mau berhenti. “ Kamu mau ngomong apa? Kamu mau mengelak? Semua juga sudah tahu kamu perempuan murahan! Kamu merayu bos kamu biar dibelikan barang-barang mewah. Pergi keluar kota berdua. Pintar kalian ya! Untuk menghindari supaya orang tidak curiga, kalian pergi dan pulang sendiri-sendiri. Tapi bangkai biarpun dibungkus tetap tercium baunya.”
Renata melepaskan diri dari pelukan Kevin sekarang. Dia menatap Ratih dengan tatapan terluka. “Jadi begitu penilaian kalian terhadapku? Baik!” Dia berlalu menuju ruangannya.
Ratih terus mengekorinya, terus meneriakkan sumpah serapahnya.
Renata mengetik di komputernya, terus mengetik, mengacuhkan Ratih. Dia mencetak apa yang diketiknya dan memasukkannya ke dalam amplop. Dengan langkah cepat ia masuk ke ruangan Andra. Kevin masih ada di sana.
Dihempasnya surat yang dibawanya ke meja Andra dan tanpa berkata-kata ia berlalu.
Di ruangannya ia membereskan barang-barangnya, memasukkannya ke dalam tasnya dan pergi. Johan memandangnya dari mejanya, diam merasakan luka hati temannya. Ia tahu gosip apa yang akhir-akhir ini beredar di kantor, dan hanya Johan yang yakin itu tidak benar.
Renata meninggalkan kantornya dengan hati hancur. Ia berputar-putar dengan mobilnya tak tentu arah. Berulang kali ponselnya berdering namun diabaikannya. Ia tidak hanya sakit. Ia terluka.
Pagi hari, Renata terbangun oleh dering ponselnya. Sudah jam 9 pagi. Diliriknya benda pipih itu. Ada puluhan notifikasi panggilan dari Andra dan Kevin. Renata mematikan ponselnya lalu membuang kartunya. Ia mengajukan resign kemarin, ia sudah tidak mempunyai hubungan dengan kantornya dan semua yang ada di masa lalunya. Saatnya merencanakan apa yang akan dikerjakannya setelah ini.
Minta pekerjaan pada Wisnu? Pria itu pernah menawarinya. Tapi ia menggelengkan kepalanya. Ia tidak akan minta belas kasihan Wisnu. Wisnu baik padanya. Ia tak ingin memanfaatkan kebaikannya. Ia bisa mencari pekarjaan lain. Tapi tidak sekarang. Masih ada yang ingin dilakukannya terlebih dahulu. Ia ingin menikmati masa menganggurnya sebentar.
Seharian itu Renata menghabiskan waktunya dengan membereskan rumah, memasak dan menonton televisi.
Malamnya ia membuka aplikasi pembelian tiket. Ada tempat yang ingin dikunjunginya.
KAMU SEDANG MEMBACA
LUKA
FanfictionSeumur hidupku, aku hanya mengenal luka. Luka karena tidak diinginkan, luka karena diabaikan. Luka pertama ditorehkan oleh orang terdekatku, ayah dan bundaku....
