Renata terbangun di sebuah ranjang besar dan mewah. Dia masih mengenakan kebayanya. Kainnya juga masih sama. Hanya saja kamar ini sangat asing.
Renata bangkit dan keluar dari kamar. Ia mendapati seorang Wisnu sedang duduk di sofa sibuk dengan ipadnya. Pria itu sudah tanpa jasnya. Kerah kemejanya sudah terbuka, begitu juga dasi kupu-kupunya menjuntai begitu saja. Lengan kemejanya sudah dilipat hingga siku, menyembulkan lengannya yang berotot. Kakinya yang satu menyilang di atas kaki yang lain. Renata menikmati dalam diam keindahan di depan matanya.
Mungkin karena merasa diperhatikan, Wisnu mengangkat mukanya. Mata mereka bersiborok. Renata menegakkan badannya dan berjalan mendekat. Wisnu tak mengalihkan pandangannya. Renata duduk dengan hati-hati di sebelahnya.
“Apakah sudah pernah ada yang bilang bahwa kau cantik?”
Kali ini Renata ternganga. Memang tidak pernah ada yang mengatakan dia cantik. Dia sering disebut gadis yang pandai, cerdas, bahkan jenius. Lebih sering disebut gadis dingin, cuek dan kaku. Tapi belum pernah ada yang menyebutnya cantik. Baru pria kaya dan aneh di sebelahnya ini yang mengatakannya.
Wisnu tertawa melihat ekspresi gadis di sebelahnya. Ekspresi yang baru kali ini dilihatnya sepanjang sejarah perkenalan mereka.
Wisnu mengulurkan tangannya hendak membelai pipi gadis itu, tapi Renata terkejut dan segera memundurkan wajahnya, menghindar.
Pria tampan itu tersenyum simpul.
Renata menengok arloji di tangannya. Sudah jam 10 malam.
“Saya harus pulang,” katanya buru-buru karena terkejut malam sudah cukup larut.
“Ini sudah malam. Menginaplah di sini. Saya tidak akan macam-macam. Anda tidur di kamar utama dan saya di kamar satunya,” bujuk Wisnu.
“Tidak, tidak!” jawab Renata cepat. Ia mencari sepatu dan barang-barangnya. “Adik saya di rumah sendiri. Besok dia ujian. Saya harus pulang.”
Ia menemukan tas selempangnya yang berisi ponsel dan dompetnya. Ditentengnya sepatunya di tangan kanan dan tas di tangan kiri.
“Saya pulang sekarang. Terima kasih boleh menumpang tidur di sini,” pamitnya.
Wisnu mencekal tangannya. “Saya antar.”
“Oh! Tidak perlu! Saya bisa naik taksi. Anda beristirahat saja. Anda pasti lelah.”
Wisnu mengeratkan cekalannya, membuat gadis itu meringis.
“Saya antar, atau saya kurung Anda di sini!” ancamnya. Renata hanya mengangguk pasrah. “Tunggulah. Saya akan berganti pakaian dulu.”
Wisnu berjalan ke kamar sambil membuka kemejanya. Ia mengambil sehelai kemeja warna hitam dari almarinya lalu dengan santai memakainya di depan Renata. Gadis itu memalingkan wajahnya yang merona. Wisnu tersenyum miring.
“Ayo!” ajaknya sambil menarik tangan Renata. Gadis itu terseok-seok mengikuti langkah lebarnya. Di lift ia sibuk melipat lengan kemejanya. Hasilnya yang sebelah kiri rapi sedang sebelah kanan tidak. Renata merasa matanya jadi terganggu. Ia membongkar lipatan itu lalu melipatnya lagi sampai siku dengan rapi. Wisnu tersenyum memandangnya
“Terima kasih,” ucapnya. Renata hanya mengangguk.
Setelah drama tersasar karena Renata lupa memberitahukan alamatnya akibat melamun, mereka tiba di depan rumah Renata pukul setengah dua belas malam. Rumahnya sudah sangat sepi. Jovanka pasti sudah tidur.
“Terima kasih,” kata Renata sebelum turun. “Pulanglah.”
“Masuklah lebih dulu. Saya baru akan pulang jika Anda sudah masuk,” kata Wisnu.
KAMU SEDANG MEMBACA
LUKA
Fiksi PenggemarSeumur hidupku, aku hanya mengenal luka. Luka karena tidak diinginkan, luka karena diabaikan. Luka pertama ditorehkan oleh orang terdekatku, ayah dan bundaku....
