Bab 31

938 50 4
                                        

Lelaki setengah baya itu mondar-mandir di depan sebuah ruang rawat VVIP rumah sakit yang cukup ternama. Raut wajahnya terlihat cemas sekaligus sedih. Di dalam ruang rawat itu terbaring putrinya yang baru saja selesai menjalani operasi. Sebenarnya ia bisa saja langsung masuk ruang itu karena ruang VVIP tidak dibatasi jam besuk. Tapi ia tidak berani masuk karena yakin putrinya belum memaafkannya dan juga segan kepada keponakannya.

Ya, pria setengah baya itu adalah Harsoyo Lukman. Setelah Wisnu membuka akses informasi terbatas tentang keberadaan Renata, ia segera datang ke rumah sakit itu ingin mengetahui keadaan putrinya yang selama ini tak diakuinya.

Sejak mengetahui Renata mendapat musibah, hatinya tak pernah merasa tenang. Nalurinya sebagai seorang ayah ingin selalu berada di samping putrinya. Namun keraguannya muncul mengingat  masa lalu. Hati kecilnya ingin memeluk putrinya dan memohon maaf, tapi sebelah hatinya terlalu takut melihat kebencian putrinya. Raut wajah keras putrinya saat pertama kali mereka bertemu membayang di ingatannya hingga kini. Apalagi kala ia mendengar cerita Yudha bahwa Renata tak ingin ia masuk dalam hidup gadis itu.

Di lain pihak, Maya Lukman benar-benar mendiamkan suaminya. Ia sungguh-sungguh dengan ancamannya untuk tidak memaafkan suaminya jika lelaki itu belum mendapat maaf putrinya. Lelaki itu semakin kacau. Semua kesalahannya di masa lalu harus dibayarnya sekarang.

Seorang remaja putri dan seorang wanita berusia 30-an datang dan langsung masuk kamar itu. Dari pintunya yang tidak tertutup rapat, Lukman bisa mengintip putrinya. Gadis itu kelihatan senang meyambut tamunya. Wajahnya kelihatan ceria dan penuh senyum. Tanpa disadarinya Lukman tersenyum sambil menangis sekaligus.

“Apa yang Paman lakukan di sini?” sebuah teguran menyadarkannya. Ia memalingkan wajahnya ke sumber suara dan mendapati keponakannya sedang menatapnya tajam. Rupanya ia dari luar tadi. Di tangannya ada sebuah paper bag dan beberapa kantong plastik.

Harsoyo Lukman tergagap dan tak bisa menjawab.

“Paman merindukannya? Kemana saja 25 tahun ini Paman? Sibuk membangun citra paman? Citra sebagai ayah yang bijak dan suami yang setia? Citra sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab? Paman berhasil membangunnya di atas kepedihan seorang anak,” kata Wisnu tanpa belas kasihan.

Ia lalu melangkah masuk ruang rawat itu dan menutup pintunya rapat-rapat. Meninggalkan pamannya tergugu pilu.

Wisnu masuk ruang rawat Renata dan tersenyum mendapati gadisnya mendapat kunjungan adiknya dan ibu tiri adiknya. Mereka kelihatan sedang mengobrol sembari bercanda.

“Dari mana saja?” tanya Renata ketika melihat Wisnu masuk. Lelaki itu terlihat santai sekali, hanya mengenakan kaos polo warna hitam yang tak dimasukkan ke celana jinsnya. Kakinya bahkan hanya mengenakan sandal. Meskipun harga sandal itu tidak murah.

“Aku membeli beberapa cemilan karena Jo dan Janet akan datang,” jawabnya. “Aku juga membeli beberapa majalah untukmu.”

Jovanka bersorak senang dan menerima bawaan Wisnu.

“Terima kasih ya kakak ipar,” ujarnya sambil tertawa. Renata tersenyum melihat tingkah adiknya.

Sama-sama,” jawab Wisnu. Ia lalu duduk di sofa dan mulai bekerja dengan laptopnya, membiarkan ketiga wanita itu dengan obrolan mereka.

Sedang mereka asyik mengobrol dan Wisnu asyik dengan pekerjaannya, mereka mendengar keributan di luar. Merasa terganggu dan heran, Wisnu melangkah menuju pintu bermaksud memeriksa keributan apa itu. Ketiga wanita yang di kamar itu juga menatap ke pintu dengan penasaran.

Wisnu membuka pintu dengan wajah kesal. Dia memilih ruang VVIP ini agar bisa tenang, namun keributan ini sangat mengganggu.  Saat membuka pintu, terkejutlah ia melihat pamannya sedang bertengkar dengan seorang wanita yang sedang marah-marah di depannya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Feb 26, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

LUKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang