Kira-kira sebulan setelah nyaris bertemu Renata, Wisnu sedang berada di kantornya. Sekretarisnya muncul di pintu yang terbuka dan berkata, “Nona Diana, Tuan.”
“Suruh dia masuk,” jawab Wisnu tanpa mengalihkan pandangan dari layar komputernya.
Diana masuk dengan langkah anggun. Seperti biasa, ia sangat cantik dan elegan. Semua yang menempel di tubuhnya keluaran brand ternama yang bila ditotal berharga ratusan juta.
Diana mendekati Wisnu dan mencium pipinya sekilas.
“Tunggulah sebentar, aku menyelesaikan ini dulu,” kata Wisnu. Ia masih harus menyelesaikan pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi.
Wisnu menandatangani berkas terakhir yang diperiksanya lalu mendekati Diana yang sedang menunggunya, duduk di sofa.
“Apa yang kauperlukan?” Wisnu maklum jika Diana sampai datang menjumpainya, pasti ada yang hendak dimintanya. Begitu perjanjian mereka. Diana diperkenalkan sebagai calon istri Wisnu untuk menghindarkan Wisnu dari para pengganggu. Dan Wisnu akan membiayai seluruh pameran lukisan Diana. Perjanjian itu hanya diketahui oleh Wisnu, Diana dan Kenan. Bahkan keluarga mereka masing-masing tidak mengetahui bahwa pertunangan mereka hanya pura-pura. Hanya Wisnu yang boleh memberitahukan hal yang sebenarnya. Itu pun hanya kepada seseorang yang dicintainya yang akan menjadi calon istrinya yang sebenarnya.
“Aku akan menyelenggarakan pameranku yang berikutnya di Paris,” lapor Diana.
“Hm. Lalu?”
“Kau tahu, di sana costnya sedikit lebih tinggi. Pajak juga tinggi. Jadi aku memerlukan lebih dari biasanya,” Diana menjelaskan.
“Kenapa tidak di tempat lain saja? Roma misalnya?”
“Agenku mengatakan ini kesempatan bagus karena Paris adalah pusat kebudayaan. Ini akan meningkatkan levelku.”
“Kau tidak ingin berganti agen? Kelihatannya agenmu yang sekarang berusaha menipumu.”
Diana tergagap. Dia tertawa canggung. “Sulit mencari agen yang baik sekarang. Aku sudah membandingkan harga dan apa yang ditawarkan agenku yang terbaik.”
Wisnu diam menatap Diana. Dia bukan orang bodoh. Dia tahu Diana menyembunyikan sesuatu. Perjanjiannya memang ia akan membiayai semua pameran Diana, tapi ia juga tak mau ditipu.
“Kau bisa mengurusnya bersama Kenan. Aku akan menyetujui harga yang diajukan agenmu bila sudah diperiksa oleh akuntan yang kutunjuk.”
“Mengapa sekarang kau mempersulitku? Kau tidak sedang berusaha melanggar perjanjian bukan?” protes Diana.
Wisnu berdecih. “Kau atau aku?”
“Kau! Sekarang kau semakin rewel saja! Dulu kau selalu percaya padaku. Sekarang mengapa harus melibatkan seorang akuntan?”
“Kalau agenmu mengajukan harga yang wajar, tentu tak perlu marah hanya menghadapi seorang akuntan,”kata Wisnu dengan tenang.
Diana mendengus. Dia menyukai uang dan kehidupannya yang glamor. Selama ini ia bisa mendapatkannya dari Wisnu. Dia akan sering mengadakan pameran, karena dengan begitulah uang Wisnu akan mengucur.
Diana seorang pelukis berbakat, tapi ia pemalas dan ceroboh. Bila sedang banyak uang, ia malas berkarya. Kemudian bila uangnya menipis, ia baru berpikir akan mengadakan pameran lagi. Jika dilihatnya jumlah lukisannya tidak memadai untuk membuat sebuah pameran, ia akan melukis ala kadarnya. Atau bila tidak ia akan menipu dengan membeli lukisan dari pelukis jalanan yang sealiran dengannya dan mempunyai gaya yang mirip dengannya untuk diakui sebagai lukisannya.
Beruntung sampai saat ini belum ada yang membongkar tipuannya. Akan tetapi kualitas lukisannya sendiri lama kelamaan menurun sehingga menurunkan minat orang datang ke pamerannya. Karena itu dia menaikkan biaya pameran untuk diajukan pada pihak sponsornya yaitu Wisnu. Sekarang kelihatannya Wisnu mulai mencurigai permainannya. Jika ketahuan, bukan tidak mungkin Wisnu akan menghentikan dukungannya. Jika itu terjadi, Diana harus mengucapkan selamat tinggal pada kehidupan serba mewahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
LUKA
FanfictionSeumur hidupku, aku hanya mengenal luka. Luka karena tidak diinginkan, luka karena diabaikan. Luka pertama ditorehkan oleh orang terdekatku, ayah dan bundaku....
