Bab 11

305 32 0
                                        

Renata bersandar di ambang pintu dengan tangan terlipat di dada. Ia sedang melihat adiknya yang sedang berkemas. Besok Jovanka akan pergi ke Singapura. Ayah adiknya pindah ke Singapura bersama ibu tiri dan dua adiknya. Jovanka akan tinggal dan kuliah di sana. Setidaknya Jovanka akan merasakan memiliki keluarga lengkap. Renata sungguh ingin adiknya itu bahagia.

Jovanka menutup kopernya dengan susah payah. “Tinggalkan novel-novelmu. Akan kakak kirimkan nanti. Kopermu bisa rusak bila dipaksa seperti itu,” tegurnya.

“Nah, ini bisa!” seru Jovanka lega setelah kopernya berhasil ditutup.

Renata duduk di tepi ranjang.

“Kakak tidak apa-apa?”

Renata menggeleng sembari tersenyum. Dibelainya rambut sang adik.

“Kakak pasti akan baik-baik saja. Sedikit kesepian mungkin! Tapi it’s ok. Jangan khawatir,” ujarnya menenangkan. “Belajarlah yang rajin. Jangan menyusahkan di sana. Sering -sering telepon ya.”

Tak urung air matanya menetes juga. Mereka berpelukan. Selama ini hanya Jovanka yang Renata miliki. Besok adik kesayangannya akan meninggalkannya. Tidak untuk selamanya, tapi ia merasa berat.

Renata menciumi wajah adiknya. “Jangan menyusahkan Janet,” pesannya. Janet adalah ibu tiri Jovanka, istri baru ayahnya. Usianya hanya sedikit lebih tua dari Renata.

Jovanka mengangguk sambil terisak dalam pelukan kakaknya.

“Terima kasih ya Kak, sudah merawatku selama ini. Maafkan kenakalanku. Kalau sudah lulus aku akan pulang kesini.”

Renata menjawab dalam isakannya, “Ya, kau harus pulang. Ini rumahmu.”

Esoknya Renata ijin untuk mengantar adiknya ke bandara. Ia menunggu hingga pesawat mengangkasa.

Melangkah meninggalkan bandara, Renata merasa sangat kesepian. Pulang bekerja, dia tidak akan lagi menjumpai tawa riang dan celotehan Jovanka.

Renata menengadah menatap langit biru. Di dunia yang luas ini ia hanya sendirian. Kapankah ia akan bertemu dengan seseorang yang mau mengulurkan tangan dan tulus kepadanya? Renata menggeleng. Dia tak boleh banyak berharap. Tuan Kecewa sedang menunggu untuk bertatap muka dengannya. Tuan Kecewa, sahabatnya yang paling akrab dan setia mengunjunginya setiap saat.

Gadis itu tidak langsung kembali ke kantornya. Dia sudah ijin hingga sesudah makan siang. Diputuskannya untuk berjalan-jalan ke sebuah pusat perbelanjaan. Melupakan sejenak bahwa ia sendirian.

Renata berjalan di sepanjang koridor pusat perbelanjaan itu. Kadang ia berhenti di sebuah toko, mengagumi apa yang terpajang di etalase hingga puas, lalu berjalan lagi.

Di sebuah konter penjualan koran dan majalah ia berhenti. Sebuah majalah menarik perhatiannya. Diraihnya dan dibolak baliknya halamannya.

Lama ia memperhatikan cover majalah itu. Majalah bisnis terbitan bulan ini.

“Jadi dia,” bisiknya. Dia sudah sering menjumpai Wisnu Angkasa Wirawan diulas dalam majalah-majalah bisnis. Biasanya semua sama. Ia ingin tahu apakah ada yang baru tentang Wisnu yang diulas majalah ini?

Wisnu yang ia kenal beberapa hari terakhir sangat berbeda dengan yang pernah ia baca di majalah. Apakah Wisnu memang sengaja membangun citranya seperti yang digambarkan dalam majalah-majalah itu?

Renata duduk di sebuah bangku dalam pusat perbelanjaan itu dan membaca majalah yang dibelinya. Sebagian besar ulasan sudah pernah dibacanya di majalah lain. Yang baru adalah proyeknya terbaru, prestasinya yang baru diperolehnya sebagai usahawan muda paling sukses di Asia. Sedikit disinggung tentang kehidupan pribadinya. Ada ulasan singkat tentang Diana yang diperkenalkan kepada publik sebagai calon istrinya.

LUKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang