“Bunda, Om, Tante, boleh Renata bicara sekarang?” Renata menyela senda gurau para orang tua. Pembicaraan mereka sudah mulai menyentuh masalah pernikahan.
Renata menghela nafas panjang dan menghembuskannya lewat mulut.
“Renata dan Andra, sepakat untuk menolak perjodohan ini,” katanya lugas dan tegas. Bahkan Andra terdiam memandangnya.
“Apa-apaan kamu Renata?!” Widuri mulai mengeluarkan amarahnya setelah menyadari apa yang dikatakan anak gadisnya.
Renata mengabaikan amarah ibunya. Pandangannya terarah pada kedua orang tua Andra.
“Kami tidak saling mencintai. Andra mencintai orang lain. Tolong jangan mempersulit kami dengan mengikat kami seperti ini,” katanya. Pandangannya bergantian pada ayah dan ibu Andra.
“ Betul itu Andra?” ayah Andra yang bertanya.
Andra mengangguk.
“Sebenarnya cinta bisa datang belakangan. Cinta akan tumbuh dengan sendirinya bila kalian sudah terbiasa bersama,” sergah Widuri. Renata menatap ibunya tanpa minat.
“Om, Tante, Andra sudah punya calon sendiri. Namanya Ratih. Saya tahu jika selama ini Om dan Tante belum bisa menerima Ratih. Tapi Renata mengenal Ratih sudah cukup lama. Dia gadis yang baik. Dia pasti bisa menjadi pendamping Andra yang tepat seperti yang Om dan Tante inginkan. Cobalah Om dan Tante mengenal Ratih lebih dekat, Om dan Tante pasti akan menyukainya dan mengerti mengapa Andra mencintai dia,” jelas Renata lagi.
Hilda dan Irwan memandang anak mereka sekarang.
Irwan menghela nafas. Tidak masalah baginya anaknya akan berjodoh dengan siapa. Ide perjodohan ini dari istri dan sahabatnya. Ia hanya mengikuti kemauan istrinya karena ia sendiri tidak sreg dengan kekasih Andra. Mereka pernah tidak sengaja bertemu dan menurutnya Ratih adalah gadis manja.
Widuri sangat berang, sangat marah pada anaknya. Ditariknya lengan Renata dan menyeretnya. Renata hanya bisa mengangguk kepada kedua orang tua Andra untuk berpamitan.
Di dalam mobil bisa ditebak ia marah-marah kepada anaknya.
“Bunda tidak habis pikir sama kamu. Tega kamu ya membuat bunda malu di depan teman bunda. Mau ditaruh dimana muka bunda ini Renata?”
Renata hanya mendengarkan ibunya mengomel.
“Bunda sudah promosikan kamu di depan om Irwan dan tante Hilda. Mereka sudah suka sama kamu. Apalagi mereka sudah kenal kamu dari kamu masih kecil. Kalau kamu menolak Andra, kamu mau cari yang seperti apa lagi? Andra itu keren, mapan, dari keluarga baik-baik, dia juga laki-laki yang baik. Kurang apa lagi?”
“Kurang cinta Bun. Andra tidak cinta sama Renata. Bunda harus terima kenyataan itu,” sahut Renata datar.
Mereka tiba di bandara. Widuri akan kembali ke Singapura.
“ Bunda marah sama kamu. Kamu sudah mengecewakan bunda. Bunda tidak akan pulang menengok kamu sebelum kamu menyesal sudah membuat bunda malu!” bentak ibunya sambil keluar dan membanting pintu mobil.
“Selama ini apa bunda pernah menengok Renata?” tanya Renata lirih pada dirinya sendiri.
♤♤♤
Rutinitas pagi Renata di kantor, ia masuk ruangan Andra begitu pria itu tiba di kantor. Ia membacakan jadwal pria itu sehari ini, lalu kembali ke ruangannya sendiri, memberi instruksi kepada para anak buahnya, lalu berkutat dengan pekerjaannya sendiri.
Siang hari, menjelang waktu makan siang Kevin masuk ruangannya dan mengajaknya makan siang bareng. Andra sendiri sudah minta Renata untuk reservasi sebuah restoran untuk makan siang bersama Ratih.
Kevin mengajak Renata makan di sebuah kafe tak jauh dari kantor mereka. Entah mengapa Renata merasa Kevin tidak seperti biasanya. Lelaki itu lebih pendiam hari ini. Biasanya ada saja yang dibicarakan dan dikomentarinya.
“Ren,” panggil Kevin serelah mereka selesai makan. Renata mengangkat mukanya memandang Kevin yang menatapnya serius.
“Soal perjodohan kamu sama Andra, bagaimana kalau aku menggantikan Andra?” Renata menghentikan gerakan tangannya yang hendak meraih gelas untuk minum.
Ia menatap Kevin seolah temannya itu sudah tidak waras.
Kevin tertawa kecil. “Aku belum gila Ren. Aku bicara begini secara sadar kok. Aku tahu kamu menolak perjodohan dengan Andra karena Andra sudah ada Ratih. Tapi niat orang tua kita menjodohkan kalian juga baik kan, supaya ikatan persaudaraan kita tidak putus. Jadi apa salahnya jika Andra menolak karena ada Ratih, aku yang menggantikannya,” ujar Kevin lagi.
Renata melihat arloji di pergelangan tangannya. “Sebentar lagi jam istirahat habis. Mending kita balik,” katanya.
“Hei! Kamu tidak punya niat menanggapi usulan aku?!” seru Kevin.
“Tanyakan hati kecilmu Vin. Kamu tulus menerima perjodohan ini atau hanya kasihan sama aku?” Renata berkata sambil melangkah keluar kafe.
Kevin terperangah. Ia memang mengusulkan hal itu karena iba. Renata tidak punya alasan menolak perjodohan itu. Alasannya hanya Andra. Meskipun mereka tidak saling mencintai, harga diri Renata sebagai seorang gadis pasti terluka karena penolakan itu. Yang Kevin tidak tahu, Renata memang terluka, karena ia benar mencintai Andra.
Kevin hanya berpikir praktis. Dia mencintai Ratih, tapi Ratih mencintai Andra. Biarlah Andra bersama Ratih karena mereka saling mencintai. Apa salahnya dia menggantikan Andra menerima perjodohan ini untuk menyelamatkan harga diri Renata sebagai pihak yang sama-sama ditolak?
Renata tiba di kantor berbarengan dengan Andra dan Ratih yang juga baru datang dari makan siang. Mereka masuk dalam lift yang sama. Renata menatap pasangan yang berdiri di depannya dengan wajah datar. Ia sudah sering melihat pemandangan ini. Ia khatam dengan perjalanan cinta Kevin dan Andra. Keduanya adalah pria populer di sekolah dan di kampus. Sebelum bertemu Ratih, sudah berapa gadis yang mereka pacari. Dan selalu Renata yang menjadi saksi perjalanan cinta mereka hingga putus.
Hubungan dengan Ratih yang diwarnai drama putus nyambung pun ada campur tangan Renata di sana.
Renata masuk ke ruangannya, mulai tenggelam dalam pekerjaannya. Sekitar satu jam kemudian interkomnya berbunyi, panggilan dari Andra.
Renata masuk ruangan Andra, mengangguk pada Ratih yang sedang duduk di sofa, lalu memusatkan perhatian pada Andra siap menerima instruksi dari atasannya.
Andra menyelesaikan beberapa pekerjaan, lalu mulai berbicara pada sekretarisnya.
“Aku sudah bicara banyak dengan orang tuaku. Aku juga sudah membawa Ratih menemui mereka. Terima kasih atas bantuanmu meyakinkan mereka. Dua hari lagi kami bermaksud datang menemui orang tua Ratih untuk melamar. Aku minta tolong siapkan segala keperluan lamaran. Segala buah tangan yang akan dibawa. Kurasa kamu lebih tahu harus memesan dimana semua itu,” kata Andra.
“Baik,” jawab Renata singkat.
“Oya, setelah lamaran, pernikahan akan dilakukan secepatnya. Cincin kawin akan kami pesan sendiri. Tolong pesan satu set perhiasan untuk seserahan. Lebih baik dipesan dari sekarang karena mungkin akan butuh waktu lama untuk menyiapkannya. Untuk urusan baju pengantin tolong temani Ratih untuk memesan ke butik. Juga hubungi WO dan semua hal berkaitan dengan pernikahan. Untuk tanggal pelaksanaan akan kuberi tahu setelah lamaran. “
“Baik,” jawab Renata lagi.
Setelah dirasanya Andra tidak ingin mengatakan apa-apa lagi, Renata berlalu dari ruangan itu.
Ia diam di ruangannya. Ia merasa hatinya sungguh sakit. Ia merasa hampir tak bisa bernafas. Tapi dikuatkannya hatinya sendiri. Ini keputusannya sendiri untuk melepaskan Andra demi kebahagiaan pria yang dicintainya. Ia harus kuat. Ia hanya tidak menyangka akan sesakit ini untuk melepaskan.
KAMU SEDANG MEMBACA
LUKA
FanfictionSeumur hidupku, aku hanya mengenal luka. Luka karena tidak diinginkan, luka karena diabaikan. Luka pertama ditorehkan oleh orang terdekatku, ayah dan bundaku....
