Dijodohin?!
Sama tentara?
Bagaimana rasanya menjadi istri dari seorang panglima Dirgantara? Asya yang menyukai kebebasan tanpa mempedulikan aturan-aturan yang ada, kini dituntut untuk selalu patuh dan taat pada setiap aturan yang diberikan oleh suam...
Hari ini adalah hari pertama Asya kembali berkuliah, setelah menjalani cuti nikah selama kurang lebih satu Minggu. Begitu pula dengan Dirga yang mulai menjalankan tugasnya sebagai seorang abdi negara.
"MAS SUAMI, ASYA BERANGKAT DULU YA. SAMLEKOMMM," gadis itu berteriak heboh di depan pintu rumahnya.
Tanpa mendengar balasan dari sang suami, Asya segera melenggang meninggalkan halaman rumah mereka. Berjalan santai menuju tukang ojek pesanannya di depan komplek. ___
Saat sampai di depan komplek, bukan tukang ojek yang ia dapati, melainkan sekumpulan ibu-ibu persit yang tengah mengerubungi gerobak pedagang sayur langganan mereka.
Dengan sopan, gadis itu membungkukkan sedikit badannya. "Selamat pagi, Bu," sapanya ramah.
"Selamat pagi juga, Dek." balas mereka bersamaan.
"Dek Asya mau ke kampus, tah? Kok nggak sama Nak Dirga?" tanya ibu-ibu berkerudung merah, yang tak lain adalah Bu Dian, ketua Persit.
"Ijin Bu, iya saya mau berangkat ke kampus. Kebetulan hari ini Mas Dirga ada tugas ke Bandung, jadi nggak bisa nganter."
"Oalah, ya sudah. Hati-hati ya, Dek."
"Siap, mari Bu."
"Mari," jawab mereka bersamaan.
Asya kembali melangkah, mendekati Mang Ojol yang ternyata sudah menunggunya di ujung gang. Samar-samar, ia dapat mendengar obrolan ibu-ibu tadi yang ternyata tengah membicarakannya.
"Dek Asya mukanya sumringah banget ya, Bu. Bahagia banget kayaknya."
"Ya jelas dong, Bu. Namanya juga pengantin baru. Lagi anget-angetnya."
Diam-diam, Asya meringis pelan mendengar ucapan para ibu-ibu tadi.