"A-ada apa ya?" aku mulai gugup saat ketauan diam diam mendengar mereka latihan."Kau ngapain tadi?" aku hanya bisa tertunduk diam tak tau harus ngomong apa.
"Ahh, sudahlah, karena kau tidak ingin memberitahu ku,"oh tidak aku mulai ketakutan. "Sebagai gantinya, kau harus ikut aku." dia mengatakannya sambil menarik tanganku dan pergi.
Aku tidak tau tujuannya aku hanya tertarik begitu saja, tidak berani untuk berbicara dengannya.
"Se-sebenarnya kita akan kemana?" dengan seluruh keberanian ku, aku bertanya dengannya.
"Kau tidak perlu tau," dia mengatakannya dengan nada yang agak kesal.
Ahh apa yang harus aku lakukan, aku bisa berada dalam masalah yang besar.
Mengingat dia adalah salah satu senior ku yang populer dan mungkin saja aku akan di bully oleh Lauren lagi.
Dia merupakan salah satu Most Wanted Boy di Piacasa Internasional HighSchool dan juga gebetannya Rebecca teman satu genknya Lauren.
Aku tidak tau harus gimana, kalau sampai Lauren dan genknya tau mungkin aku akan di bully habis habisan. Aku tidak mau itu terjadi.
"Masuk" dia mengatakannya saat sampai di depan sebuah mobil. Dia membukakan pintunya, walau dengan kasar.
Di dalam mobil keheningan pun terjadi, aku tidak tau harus berbuat dan berbicara apa. Dia mulai menyalakan mesin mobil dan menjalankannya.
Kami sudah berada di depan sebuah cafe. Kurasa itu cafe yang dia biasa datangi. Dia keluar dari mobil. Aku pun juga.
Dia kembali menarik tanganku, menuju ke cafe tsb. 'Sebenarnya dia mau ngapain sih?' gumamku.
Kami masuk dan dia langsung memesan sesukanya. Kami pun duduk di lantai tiga tepatnya di atap cafe tsb. Aku duduk dia pun duduk. Di atap tsb pemandangan nya indah sekali.
Angin yang kencang membuat poni rambut ku jatuh. Dia mulai berbicara tapi karena anginnya terlalu kencang aku tidak bisa mendengarnya.
"Maaf, bisa kau ulangi" aku memintanya. "Maaf, aku membawa mu kesini." dia meminta maaf. Bisa kurasakan emosinya masih tidak stabil.
"Ti-tidak apa sih, tapi mengapa kau bawa aku kesini?" aku bertanya dengan nada yang rendah. Namun ternyata dia bisa mendengarnya. Dia menatap ku, aku tertunduk seketika.
"Aku tadi, em hanya sedikit emosi, jadi aku membawa mu tanpa sengaja. Kau tau, ada suatu masalah," dia terlihat berhati hati dengan ucapannya.
"O-oke, hm.." belum sempat aku mengucapkan kata selanjutnya, pesanan datang. Dia memesan 1 Cappucino dan 1 Moccacino yang dua duanya panas.
"Kau mau ngomong apa tadi?" dia berkata. "Oh, hm kalau begitu bolehkah aku pulang sekarang, kurasa ada yang harus aku kerjakan di rumah" aku memeberitahu alasanku supaya aku bisa pulang sekarang juga.
"Hmm, minumlah dulu, kau tidak akan membuangnya sia sia kan?". Dia menatap ku dan tersenyum.
'Ahh aku terjebak disini'. Aku tidak tau harus berkata apa lagi. Akhirnya aku meminum minuman yang ada di depanku. Dengan cepat.
"Drrt drrt" getar iPhone ku di kantong jaket yang kebesaran ini. "Angkatlah" dia mengizinkan ku mengangkatnya.
"Ha-hallo" aku mulai berbicara di iPhone ku. "Hallo, Alexa maaf, kau dimana? Saya sudah berada di depan sekolah mu." ternyata itu Mr. Houston.
"Maafkan aku, Mr. Houston tapi sekarang aku berada di.." aku terdiam sebentar. Lalu Calum mengisyaratkan "di rumah temanmu" dengan suara yang kecil. "..Ah di rumah temanku, tadi mendadak ada tugas kelompok jadi mungkin aku akan pulang telat." aku mengarang sesuatu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Nerd Girl
FanfictionThis Story is a bit Strange And This is just a Fanfiction from Me Synopsis: Hari hari membosankan bagi seorang Nerd, tapi aku akan mengubahnya menjadi hari hari yang tidak akan terlupakan. -Alexa Slavokia- Highest rank on Fanfiction story : #32 Than...
