Mistake 08

1.9K 260 51
                                        

Sebagai seorang saudara—pun teman bagi Jungkook. Taehyung tahu, jika anak itu begitu membenci pelaku tabrak lari yang telah membuat ayah kandungnya pergi.

Seringkali Jungkook mengatakan, cepat atau lambat dia pasti akan menemukan orang itu dan menuntut tanggung jawab atas kematian ayahnya. Taehyung pun setuju, dia sendiri ikut geram jika mengingat betapa kejamnya orang yang dengan teganya melarikan diri usai melakukan sebuah dosa.

Namun, Taehyung sama sekali tidak pernah menyangka, bahwa pelaku tabrak lari yang telah membuat ayah Jungkook pergi tidak lain adalah pamannya sendiri.

Min Yoongi.

"Paman-mu tidak sengaja, Taehyung. Semua yang terjadi saat itu murni sebuah kecelakaan."

Usai tidak sengaja mendengar pembicaraan ayah dan ibunya, Taehyung meminta mereka untuk menjelaskan semua padanya.

Tentang Yoongi—sang paman—yang mabuk, hingga dengan tidak sengaja telah merenggut nyawa Jeon Wonwoo. Hingga Yoongi, yang pada akhirnya memutuskan untuk merawat Jungkook sebagai bentuk pertanggung jawabannya.

"Anggap saja itu memang kecelakaan. Tapi Ayah, Ayah Jungkook mungkin masih bisa diselamatkan, jika saja Paman Yoongi menolongnya. Bukan malah lari, dan menyelamatkan dirinya sendiri," ujar Taehyung, tak sepenuhnya setuju dengan pembelaan yang ayahnya berikan.

"Kami tahu, Nak. Namun, apa yang bisa kita lakukan? Semua sudah terjadi. Meskipun hal ini sangatlah disayangkan, tetapi setidaknya Paman-mu juga tidak lepas tangan. Dia merawat Jungkook dengan penuh kasih sayang. Itu juga bukan hal mudah. Mengingat Jungkook adalah putra dari seseorang yang telah dia renggut nyawanya, pasti ada rasa bersalah yang Paman-mu rasakan setiap kali melihatnya."

Entahlah, Taehyung tidak tahu mana yang benar dan salah. Anggap saja dia mengerti, tapi apa Jungkook akan menerima semua alasan ini? Anak itu sudah terlanjur sakit hati. Taehyung tidak bisa membayangkan, apa yang akan Jungkook rasakan setelah tahu bahwa Yoongi—orang yang begitu dia hormati—adalah penyebab dari kematian ayah kandungnya sendiri.

"Janji sama Mama. Jangan katakan apa pun pada Jungkook, ya? Jika pada akhirnya kebenaran ini harus terungkap, biarkan Jungkook mendengarnya langsung dari Paman-mu, Taehyung."

Taehyung tidak menolak, akan tetapi juga tidak mengiyakan permintaan dari sang ibu. Dia memilih pergi, meninggalkan Seokjin dan Sena yang hanya bisa menghela napas pasrah melihat kepergian sang putra.

***
"Apa kau yakin, masih ingin mencarinya, Jung?" tanya Taehyung, pada Jungkook yang saat ini tengah berada di hadapannya.

Setelah sedikit perdebatan antara kedua orang tuanya, Taehyung memilih untuk mengajak Jungkook bertemu di salah satu kafe yang biasa menjadi tempat tongkrongan mereka.

Jungkook agak kesal, sebenarnya. Ini sudah malam, dia bahkan harus membuang waktu belajarnya lantaran Taehyung yang tiba-tiba saja mengajaknya keluar.

Jika apa yang akan dia katakan bukan suatu hal penting, Jungkook akan benar-benar membuatnya kapok dengan tidak memberikannya contekan.

"Jika orang yang kau maksud adalah dia. Maka, ya. Aku akan tetap mencarinya, sampai aku bisa menemukannya."

Taehyung tahu, inilah jawaban yang akan Jungkook berikan. Jika sebelumnya dia akan tersenyum, lantas menepuk pundak sang sepupu untuk menyemangatinya. Maka kali ini, pemuda itu hanya bisa diam—merasa bimbang.

Mulutnya gatal sekali ingin mengatakan, bahwa Min Yoongi—ayahnya sendiri—pelaku tabrak lari yang tengah dia cari-cari. Akan tetapi, nuraninya melarang keras dirinya. Selain tidak siap melihat kekecewaan sang saudara, di sisi lain Taehyung juga memikirkan nasib pamannya.

Terlepas dari semua kesalahannya. Taehyung tahu betul, jika pamannya begitu menyayangi Jungkook. Dia bisa menjamin, pamannya pasti akan hancur apabila Jungkook sampai membencinya.

"Lagi pula, kenapa juga tiba-tiba kau menanyakan hal itu?"

Taehyung menggeleng, lantas menyeruput coklat yang sudah tidak terlalu panas di tangannya.

"Tidak. Hanya saja ... apa kau tidak berpikir sudah saatnya kita harus berhenti, Jung? Sebentar lagi kita akan lulus, kita pasti akan jauh lebih sibuk saat kuliah. Aku rasa, lebih baik jika kita hentikan pencarian ini dan fokus pada pendidikan saja."

Ada rasa kecewa yang Jungkook perlihatkan usai mendengar penuturan Taehyung. Namun, segera saja dia tutupi dengan senyuman juga anggukan.

"Benar. Tidak selamanya kau bisa menyia-nyiakan waktumu untuk orang yang bahkan tidak kau kenal, kan? Tidak masalah. Kau fokus saja pada pendidikanmu, ya? Terima kasih, dan maaf telah membuang waktumu secara percuma, Tae."

Bukan, bukan itu maksud Taehyung. Dia sama sekali tidak keberatan saat Jungkook meminta bantuan padanya. Taehyung juga ingin Jungkook mendapatkan keadilan untuk ayahnya. Jika keadaannya berbeda, Taehyung pasti akan terus menemani Jungkook hingga akhir. Namun, takdir seolah mempermainkannya dengan menjadikan pamannya sendiri sebagai pelakunya.

Jungkook sendiri sudah terlanjur kecewa, sepertinya. Anak itu bahkan pergi sebelum Taehyung sempat menjelaskan apa-apa.

***
Jungkook sadar, sikapnya pada Taehyung mungkin sudah sedikit keterlaluan. Selama ini, sepupunya bahkan tidak pernah mengeluh sedikitpun saat dia menyuruhnya ini-itu. Entah menemaninya ke rumah lamanya, ataupun bertanya pada para tetangga yang mungkin tahu tentang kejadian dua belas tahun lalu.

Jika boleh jujur, sebenarnya Jungkook juga lelah mencari hal yang tak pasti. Sedikitpun bukti tidak dia miliki untuk bisa membawanya pada pelaku tabrak lari. Namun, menyerah juga akan membuatnya merasa bersalah pada sang ayah. Jungkook sudah terlanjur berjanji, mustahil untuknya mengingkari dan mengecewakan ayahnya sendiri.

"Koo sudah di perjalanan, Ayah. Iya, Ayah jangan khawatir. Koo akan pulang sebentar lagi."

Jungkook tersenyum usai menutup panggilan dari Yoongi. Entah secara kebetulan atau tidak, ayahnya selalu berhasil membuatnya merasa tenang dalam keadaan apa pun.

Remaja tujuh belas tahun itu terus berjalan sembari sesekali mengeratkan jaket di tubuhnya. Mengingat jarak antara kafe dan rumahnya tidak terlalu jauh, pun dia juga tidak sempat membawa uang lantaran Taehyung yang menjemputnya tanpa memberinya kabar lebih dulu, Jungkook memutuskan untuk berjalan sekalian olahraga malam.

Jungkook terus berjalan pelan, sebelum akhirnya mengeraskan langkah saat merasa ada seseorang yang mengikutinya. Dari awal dia meninggalkan kafe, Jungkook memang sudah merasa diikuti. Akan tetapi, dia memilih abai dengan berpikir bahwa itu hanya perasaannya saja.

Jantungnya berpacu lebih cepat, Jungkook bahkan tidak berani untuk menoleh dan mencari tahu siapa orang di belakangnya. Pemuda itu terus berjalan, lantas menghela napas lega saat sudah sampai di gerbang rumahnya.

Jungkook hendak masuk begitu pintu gerbang terbuka. Namun, tepukan di punggungnya membuatnya menoleh dan terkejut saat melihat siapa orang itu.

Lebih terkejut lagi, saat wanita yang dia duga telah mengikutinya mulai bersuara. Mengatakan hal yang membuat jantung Jungkook seakan berhenti saat itu juga.

"J-jungkook ... putra Ibu."

Tbc.

Mistake✔️Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang