"Kak Jimin baik-baik saja?"
Jungkook bertanya khawatir, saat melihat sang kakak seperti hendak memuntahkan kembali makanan yang baru saja masuk ke dalam perutnya.
Anak itu bangkit dari duduknya. Meletakkan mangkok berisi bubur yang masih tersisa setengah di meja, untuk kemudian memijat pelan tengkuk leher sang kakak.
"Aku tidak apa-apa. Hanya merasa sedikit mual saja," jawab Jimin.
"Sudah, duduklah. Kau pasti lelah, pulang sekolah langsung datang ke rumah sakit, 'kan?"
Jungkook menggeleng.
Satu minggu belakangan ini Ji Hyun memang selalu menyuruh Jungkook menemani Jimin di rumah sakit. Ia akan terus berada di sana sebelum malamnya paman Seoho atau ibunya datang untuk menggantikan.
Akan tetapi, Jungkook tidak merasa keberatan sama sekali. Dibandingkan itu, ia justru kasihan pada kondisi sang kakak yang terlihat memprihatinkan setiap kali selesai menjalani cuci darah.
Ya, Jimin—kakak tirinya—menderita sakit ginjal. Jungkook baru tahu ketika ia kembali dari kamar rawat sang ayah dan melihat ibunya tengah menangis di sana.
"Kau tidak ada niat untuk kembali pada Ayah-mu, Jung?"
Pertanyaan tiba-tiba, juga tak terduga, yang baru saja Jimin lontarkan sontak membuat Jungkook menatapnya tak percaya.
Pun, Jungkook rasa mereka belum sedekat itu hingga Jimin bisa menanyakan hal itu padanya.
"Kakak keberatan, ya, aku menumpang di rumah kalian?"
Tidak ada hal lain yang dapat Jungkook simpulkan dari pertanyaan Jimin, selain apa yang baru saja ia katakan.
"Kalau aku jawab iya, bagaimana?"
Jimin menatap lamat Jungkook yang kini berada di sofa tak jauh darinya. Hampir saja tertawa, saat melihat raut wajah bingung serta memelas adik tirinya itu.
"Bercanda," ujarnya kemudian.
"Tapi serius, kau benar-benar tidak ingin kembali padanya? Ya, aku akui, apa yang sudah terjadi memang tidak bisa dibenarkan. Tapi, terlepas dari itu, kurasa benar-benar menyayangimu."
Jimin bukan mengatakannya tanpa alasan. Jimin memang tidak mengenal Yoongi. Ia hanya bertemu dengannya sekali—saat Yoongi datang ke kamar rawatnya untuk berpamitan pada Jungkook. Saat itu Yoongi hendak pulang dari rumah sakit usai seminggu dirawat di sana.
Namun, hanya dengan itu saja Jimin tahu; betapa Yoongi menyayangi anak itu melihat bagaimana caranya memohon pada Jungkook untuk ikut pulang dengannya, meskipun berakhir sia-sia lantaran ia menolaknya.
"Aku tidak akan mengelak, Ayah Yoongi memang menyayangiku. Tapi, Kak. Jika Kak Jimin berada di posisiku, apa Kakak bisa, tinggal satu rumah dengan orang yang bertanggung jawab atas kematian Ayah kandung Kakak sendiri?"
Hening. Sama sekali tidak ada tanggapan apa-pun dari Jimin.
"Jika boleh jujur, aku juga ingin sekali kembali pada Ayah Yoongi. Tidak mudah, untuk melupakan begitu saja eksistensinya selama dua belas tahun terakhir ini. Tapi, aku akan merasa sangat berdosa pada Ayah Wonwoo jika benar-benar melakukannya. Aku—"
Jungkook menghentikan ucapannya ketika melihat sang kakak sudah terlelap dalam tidurnya. Mendadak kesal, menyadari jika sedari tadi ia hanya berbicara sendiri.
Jungkook sudah akan menutup matanya. Menyamankan posisinya di sofa dan ikut tidur dengan sang kakak. Akan tetapi, rencananya hanya akan menjadi rencana sebab suara deritan pintu berhasil menarik kembali kesadarannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mistake✔️
FanfictionSemua baik-baik saja antara Min Yoongi dan Jungkook-sang putra. Hingga satu kebenaran terungkap, dan membuat segalanya mulai terasa runyam. Cover by : Pinterest.
